DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR........................................................................................ 1
DAFTAR
ISI .... 2
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 3
BAB
II PEMBAHASAN
1.1 Nabi Muhammad SAW............................................................................. 4
1.2 Peradaban pra Islam................................................................................... 6
1.3 Dakwah Rasulullah pada periode Mekkah............................................ 6
1.4 Dakwah Rasulullah pada periode Madinnah........................................ .... 9
BAB
III PENUTUP
2.1Kesimpulan............................................................................................ .. 12
2.2 saran......................................................................................................... 13
DAFTAR
PUSTAKA ................................................................................... .. 14
BAB I
PENDAHULUAN
Bismillahirahnanirrahiim
Segala puji bagi Allah atas limpahan Rahmat, Taufiq, serta Hidayah-Nya
sehingga tugas ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga
tetap terlimpahkan yang telah memberikan inspirasi kepada penulis sehingga
terselesaikan bertujuan memenuhi tugas mata kuliah sejarah Sejarah Peradaban
Islam dan memahami tentang bagaimana persoalan
sejarah peradaban dari zaman yang telah lalu dengan tema Sejarah
Peradaban Islam pada Zaman Nabi Muhammad Saw.
Persoalan
sejarah peradaban islam ini penting dan harus memahaminya,Ini penting
untuk kita ketahui karena Nabi Muhammadlah aktor penting di balik terciptanya
peradaban islam yang luar biasa itu. Hadirnya Nabi Muhammad pada masyarakat
Arab membuat terjadinya kristalisasi pengalaman baru dalam dimensi ketuhanan
yang mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk hukum-hukum yang
digunakan pada masa itu.Berhasilnya Nabi Muhammad SAW dalam memenangkan
kepercayaan yang dianut bangsa Arab. Dalam waktu yang relatif singkat beliau
mampu memodifikasi jalan hidup orang-orang Arab.
BAB II
PEBAHASAN
Sejarah
peradaban islam pada zaman rasulullah Saw
Hadirnya Nabi Muhammad pada
masyarakat Arab membuat terjadinya kristalisasi pengalaman baru dalam dimensi
ketuhanan yang mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk
hukum-hukum yang digunakan pada masa itu.Berhasilnya Nabi Muhammad SAW dalam
memenangkan kepercayaan yang dianut bangsa Arab. Dalam waktu yang relatif
singkat beliau mampu memodifikasi jalan hidup orang-orang Arab.
Sebagaian dari nilai dan budaya Arab
pra-islam, dalam beberapa hal diubahnya dan ada pula yang diteruskan oleh
masyarakat Nabi Muhammad ke dalam tatanan moral Islam.
Hadirnya Nabi Muhammad, sedikit demi
sedikit merubah budaya-budaya yang tidak memanusiakan manusia dalam artian
budaya yang mengarah pada keburukan menjadi budaya-budaya yang mengarah kepada
kebaikan dalam payung Islam.
Budaya-budaya yang mengarah kebaikan
yang dibawa Nabi Muhammad pada akhirnya menghasilkan peradaban yang luar biasa
pada zamannya. Yang mana muara dari peradaban itu semua ialah Islam.
Islam sangat berperan penting dalam
menciptakan peradaban yang luar biasa yang tercipta pada masa zaman Nabi
Muhammad. Dan aktor penting di balik itu semua tidak lain ialah Nabi Muhammad
sendiri. Nabi Muhammad tidak hanya sebagai Nabi melaikan ia juga memerankan
sebagai pengajar, pendidik, pemimpin, pemimpin militer, politikus, reformis,
dan lain-lain.
A.
Nabi Muhammad SAW.
Sebelum kita membahas segala yang
berhubungan dengan peradaban pada masa Rasulullah. Ada baiknya kita membahas
terlebih dahulu tentang Nabi Muhammad dan kehidupannya. Ini penting untuk kita
ketahui karena Nabi Muhammadlah aktor penting di balik terciptanya peradaban
islam yang luar biasa itu.
Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun
gajah, tahun ketika pasukan gajah Abrahah mengalami kehancuran. Peristiwa itu
terjadi kira-kira pada tahun 570 M (12 Rabiul Awal). Beliau lahir tidak jauh
dari ka’bah. Ayahnya Abdullah meninggal dunia ketika beliau masih dalam
kandungan, sementara ibunya Aminah wafat sewaktu ia berusia 6 tahun. Kakeknya
Abdul Muthalib mengasuhnya selama dua tahun, dan ia diasuh oleh pamannya Abu
Thalib.
Merupakan suatu kebiasaan di antara
orang-orang kaya dan kaum bangsawan Arab bahwa ibu-ibu mereka mengirimkan
anak-anak mereka ke pedesaan untuk diasuh dan dibesarkan disana. Begitu pula
Nabi Muhammad, setelah diasuh beberapa lama oleh ibunya, beliau dipercayakan
kepada Halimah dari suku Banu Sa’ad untuk diasuh dan dibesarkan.
Nabi Muhammad berada dalam asuhan
Halimah hingga beliau berusia 6 tahun, lalu beliau dikembalikan ke ibunya
Aminah. Pada saat ibunya membawanya untuk menziarahi makam ayahnya di madinah,
ditengah perjalanan, tepatnya di Abwa, ibunya menderita sakit dan menghembuskan
nafas yang terakhir di sana. Dengan demikian pada usianya 6 tahun, Nabi
Muhammad sudah kehilangan kedua orang tuanya.
Dalam usia muda, Nabi Muhammad hidup
sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk mekah. Melalui
kegiatan pengembalaan ini, dia menemukan tempat untuk berpikir dan merenung.
Pemikiran dan perenungan ini membuat beliau jauh dari segala pemikiran nafsu
duniawi, sehingga beliau terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak
namanya.
Selain mengembala beliau juga
berdagang, ketika beliau tinggal bersama pamannya Abu Thalib, beliau mengikuti
pamannya itu berdagang ke negeri Syam, sampai beliau dewasa dan dapat berdiri
sendiri. Dalam perjalanan itu, dibushra, sebelah selatan Syria (Syam) ia
bertemu dengan pendeta Kristen bernama buhairah. Pendeta itu melihat
tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad sesuai dengan petunjuk
cerita-cerita Kristen. Pendeta itu menasehati Abu Thalib agar jangan terlalu
jauh memasuki Syria, sebab dikhawatirkan orang-orang yahudi yang mengetahui
tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadapnya.
Sebagai seorang pemuda beliau tidak
mengikuti kebiasaan masyarakat di kala itu, yaitu minum khamar, berjudi,
mengunjungi tempat-tempat hiburan dan menyembah berhala. Beliau sangat populer
dikenal sebagai seorang pemaaf, rendah hati, berani, dan jujur, sehingga ia
dijuluki Al-Amin.
Ketika Nabi Muhammad berusia 25
tahun, beliau berangkat ke Siria membawa barang dagangan seorang saudagar
wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan ini,
Nabi Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamarnya. Lamaran
itu diterima dan pernikahanpun segera dilaksanakan. Ketika itu Khadijah berumur
40 tahun.
Dalam perkembangan selanjutnya,
Khadijah adalah wanita pertama masuk Islam dan banyak membantu Nabi Muhammad
dalam perjuangan menyebarkan Islam. Pernikahan itu dikarunia enam orang anak,
dua putra dan empat putri: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kalsum, dan
Fatimah. Kedua putranya meninggal waktu kecil. Nabi Muhammad tidak menikah lagi
sampai Khadijah meninggal dunia.[[1]]
B.
Peradaban Pra Islam
Dalam berbagai literature sejarah
dapat kita jumpai pembagian penduduk Arab. Hal itu sesuai dengan asal muasal
penduduk tersebut yaitu al-Arab al-Ba’idah (Arab Kuno), Arab
al-Arabiyah (Arab Peribumi) dan al-Arab al-Mustaribah (Arab
pendatang). Penduduk Arab ini masuk pada ketegori penduduk jahiliyah yang tidak
berperadaban baik.
Sebelum Islam kondisi bangsa Arab carut marut perempuan pada masa itu tidak
berarti apa-apa, meskipun ada beberapa perempuan yang tersohor pada saat itu
memiliki kewibawaan di Arab yaitu seperti Ummu Aufah, Kindah, dan sebagainya
semuanya berdiam di Mekkah, Madinah dan Yaman. Wanita pada masa pra Islam tidak
ada harganya seperti barang dagangan. Perempuan pada masa itu tidak mendapatkan
harta warisan dari orang tuanya bahkan banyak orang tua menganggap bahwa anak
mereka ada aib.
Kekacauan yang lain yaitu pada masa itu banyak saudara kandung menikahi
saudaranya sendiri, ibu tiri menikahi anak tirinya, dan kasus penguburan anak
yang masih hidup. Pada
tradisi penguburan itu dilakukan pada suku Bani Tamim dan Bani Asad.
Selanjutnya ada wanita yang menjadi kepala suku dan bersuami lebih dari 1
orang. Dan setelah kelahiran anaknya penentuan ayah ditentukan oleh ibunya dan
ahli nujum. Adapula seorang suwami istri yang sepakat untuk mendapat keturunan
yang cerdas, maka sang suwami mengatar istrinya kepada orang yang ternama untuk
dikawini dan ketika sudah ada tanda-tanda kehamilan maka sang suwami menjemput
istrinya.
C.
Dakwah Rosulullah Pada Periode Mekkah
Pada malam senin 17 Ramadhan tahun 13 sebelum Hijriyah bertepatan
dengan 6 Agustus 610 M. ketika itu Nabi
Muhammad berkhalwat di Gua Hira dan Allah mengutus Jibril untuk
menyampaikan wahyu pertama yaitu surat al-Alaq. Ketika selesai menerima
wahyu Nabi Muhammad pulang dengan kondisi menggigil ketakutan. Beliau meminta
agar istrinya menyelimuti beliau kemudian menceritakan kejadian yang terjadi di
Gua Hira.
Sebagai seorang istri yang sholeha dalam kondisi apapun selalu berusaha
menenangkan hati suaminya begitulah yang dilakukan oleh Khadijah. Khadijah berusaha menenangkan hati Rosulullah yang
sangat mengalami kegalauan pada saat itu. Setelah menenangkan Rosulullah,
Khadijah pergi untuk menemui Waraqah ibn Naufa. Waraqah adalah paman dari Siti
Khadijah beliau adalah seorang Nasrani yang banyak mengetahui naskah-naskah
kuno.
Siti khadijah menceritakan kejadian yang dialami oleh suwaminya kemudian
Waraqah mengatakan bahwa yang datang itu adalah Namus (Jibril). Kemudian
dia menjelaskan disuatu saat nanti beliau akan diusir oleh kaumnya dari halaman
kampungnya sendiri. Ia berharap masih hidup pada masa sulit Rosulullah dan akan
memberikan pertolongan yang sungguh-sungguh kepada beliau.
Ketika beliau tidur kemudian turun ayat Al-Muddatsir. Kemudian beliau
menyampaikan kepada istrinya tentang perintah Jibril untuk menyampaikan
dakwahnya kepada umatnya. Kemudian beliau bertanya kembali umatnya itu yang
mana. Dengan demikian wahyu yang turun kedua ini merupakan penobatan
Rouslullah sebagai utusan Allah.
Untuk mengawali dakwah Rosulullah SAW ada berbagai metode dakwah yang
dilakukan oleh beliau diantaranya:
1.
Dakwah secara sembunyi-sembunyi
Pada masa ini Rosulullah Saw melakukan dakwah secara diam-diam dilingkungan
keluarga sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Mula-mula yang masuk Islam
pertama kali adalah istri Rosulullah kemudian saudara sepupunya Ali bin Abu
Thalib, Abu Bakar Asidiq, Zaid bekas budak yang menjadi anak angkatnya, Ummu
Aimah pengasuh Nabi semenjak ibunya masih hidup. Kemudian dilanjutkan oleh
Ustman bin Affan, Jubair bin Awwam, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqasah
dan Thahlah bin Ubaidillah mereka dibawah kehadapan Nabi dan mengikrarkan untuk
memeluk Islam dihadapan Nabi sendiri.
Pada persiapan dakwah yang berat maka dakwah pertama beliau mempersiapkan
mental dan moral. Oleh sebab itu beliau mengajak manusia atau umatnya untuk:
1. Mengesakan Allah;
2. Mensucikan dan membersihkan jiwa dan hati;
3. Menguatkan barisan;
4. Meleburkan kepentingan diri di atas kepentingan jamaah.
2.
Dakwah terang-terangan
Langkah dakwah selanjutnya menyeru masyrakat secara umum. Nabi menyerukan
kepada bangsawan dan seluruh masyarakat Qurais. Pada awalnya Nabi hanya menyeru
pada penduduk Mekkah dan dilanjutkan menyeru pada penduduk diluar Mekkah secara
terang-terangan. Rosulullah gencar mempublikasikan agar orang masuk Islam,
kemudian pada masa itu beliau mengajak segenap umat Islam untuk melaksanakan
ibadah haji.
Dilain
waktu, acara jamuan tersebut diadakan kembali. Kali ini para tamu undangan
mulai mendengarkan perkataan Rasulullah namun tak satupun dari mereka yang
meresponnya secara positif. Hal tersebut tidak membuat Rasulullah dan para
sahabatnya patah arah, tetapi membuat Rasulullah dan para sahabatnya semangat
dan dakwahnya semakin diperluas hingga suatu ketika Rasulullah mengadakan
pidato terbuka di bukit Sofa. Pidato tersebut berisi perihal kerasulannya.
Rasulullah memanggil seluruh penduduk Mekkah dan mengabarkan kepada mereka
bahwa dirinya diutus untuk mengajak mereka meninggalkan Paganisme
(Penyembahan terhadap berhala). Beliau menjelaskan bahwa tuhan yang wajib
disembah hanyalah Allah. Mendengar hal tersebut masyarakat Qurays tersentak
kaget, mereka sangat marah karena hal tersebut dan menghina tradisi nenek
moyang dan kehormatan mereka. Para pembesar Qurays membentak dan memaki
Rasulullah dengan keras. Mereka menganggap bahwa Muhammad adalah orang gila
bahkan pamannya sendiri Abu Lahab pun mengancam Rasulullah dengan keras.
Pemimpin Quraiys dengan giatnya menentang dakwah Rosulullah SAW. Pemimpin
Qurays merasa bahwa makin maju dakwah Rosulullah maka makin besar tantangan
kaum Qurays. Ada 5 faktor yang mendorong Kaum Qurays menentang Rosulullah Saw
yaitu:
1.
Mereka tidak dapat
membedakan antara kenabian dan kekuasaan;
2.
Nabi Muhammad
menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak
disetujui oleh bangsawan Qurays.
3.
Para
Qurays tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan
di akhirat.
4.
Taklid
kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berakar pada bangsa Arab.
5.
Pemahat dan penjual
patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.
Dari sebab-sebab di atas banyak cara yang dilakukan oleh orang Qurays agar
Muhammad tidak menyebarkan agama Islam. Cara pertama kelompok Qurays
mengacam Rosulullah akan tetapi cara itu tidak berhasil dilakukan oleh
orang-orang Qurays. Kemudian kaum Qurays melancarkan gerakan yang kedua
dengan mengutus Walid ibn Mughirah dengan membawa Umarah ibn Walid, seorang
yang gagah tampan untuk dipertukarkan
dengan Nabi Muhammad. Walid berkata kepada Abu Thalib : ‘ambilah dia
menjadi anak saudara, tetapi serahkan Muhammad kepada kami untuk kami bunuh’
usul ini langsung ditolak keras oleh Abu Thalib.
Cara lain digunakan dan strategi lain untuk menghentikan dakwah Rosulullah
Saw. Ketiga mereka mengutus Utbah ibn Rabiah dia adalah ahli retorika
untuk membujuk Nabi. Kemudian ditawarkan kepada nabi tahta, wanita, dan harta.
Akan tetapi Rosulullah menolak dan mengatakan: ‘Demi Allah, biarpun mereka
meletakan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku aku tidak akan
berhenti melakukan ini, hingga agama ini menang atau aku binasa karenanya’. Selanjutnya
cara keempat menghalangi dakwah Rosulullah yaitu dengan menyiksa,
membunuh dan menganiyaya sahabat Rosululllah, banyak para majikan menyiksa para
budak yang masuk Islam.
Cara kelima, setelah berbagai pergolakan dan pertentangan dari
Mekkah dengan berbagai percobaab pembunuhan beliau pada akhirnya harus
mengungsi di gua Tsur selama kondisi sudah aman (tiga malam). Bahkan
cara ini tidak berhasil kemudian beralih cara keenam, mereka menggunakan
cara untuk meboikot perdagangan bani Hasyim. Kemudian Rosulullah dakwah di
daerah Tharif Nabi di ejek, disoraki, dan dilempari batu bahkan sampai terluka
dibagian kepala dan badanya. Setelah menempuh berbagai intimindasi dari
orang-orang Mekkah kemudian Nabi menghijrahkah orang Islam selama 2 bulan
keluar kota yang kurang lebih 150 orang kecuali Abu Bakar dan Nabi akan tetapi
pada akhirnya beliau juga pun ikut hijrah.
D.
Dakwah Rosulullah Periode Madinah
Faktor utama
hijrahnya Rosulullah ke Madinah buka semata-mata kerena aniyaya oleh bangsa
Mekkah (suku Qurays) akan tetapi beliau mendapat undangan dari suku Yastrib
untuk dating ke Madinah sebagai pendamai. Setelah tiba di Madinah Rosulullah
membuat perjanjian yang disebut dengan Piagam Madinah. Perjanjian itu dilakukan
oleh komunitas Yahudi, Nasrani, Anshor, dan Muhajirin.
Beberapa
langkah penting yang dilakukan oleh Rosulullah setelah sampai di Madinah Nabi
Muhammad SAW mulai membangun umat dengan keteladanan yang langkah awalnya
yaitu:
1.
Mendirikan
masjid untuk tempat beribadah dan tempat pertemuan
Ketika
beliau tiba di Madinah masjidlah yang menjadi perioritas bagunanya, sehingga
urusan-urusan penting dapat dibicarakan di masjid tersebut. Masjid tersebut
dibuat dari atap daun kurma dan dinding berasalal dari batu dan tanah sebagian
diding tersebut dibiarkan terbuka dan penerangan hanya berasal dari jerami.
Jerami tersebut hanya dinyalakan pada hal-hal yang sangat penting seperti
sholat Isya dan lain sebagainya. Sembilan tahun lamanya masjid ini digunakan
dalam kondisi seperti itu sampai pada akhirnya menggunakan lampu dinding
sebagai penerang.
2. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor
Dalam rangka memperkokoh umat daulah
Islam di Madinah, nabi Muhammad mempersaudarakan kaum muslimin yang satu dengan
yang lainnya. Hal itu dimaksudkan juga untuk menambah teguhnya persatuan umat
Islam dan akrabnya hubungan Muhajirin dan Anshor.
3.
Membuat
perjanjian kerja sama
Agar kerjasama terjalin antara
pendatang dan penduduk setempat kemudian dibuatlah kesepakatan antara 3
kelompok besar yakni kaum muslim, orang Arab yang belum masuk Islam dan kaum
Yahudi. Adapun perjanjiannya adalah sebagai berikut:
-
Setiap
kelompok dijamin kebebasannya dalam
beragama;
-
Tiap
kelompok berhak menghukum anggotanya
yang bersalah;
-
Tiap kelompok
harus saling membantu dalam mempertahankan Madinah baik yang muslim maupun non
muslim;
-
Penduduk
Madinah sepakat mengangkat Muhammad sebagai pemimpinnya dan memberi keputusan
hukum segala perkara yang dihadapkan kepadanya;
-
Meletakan
landasan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah yang baru
terbentuk.
Dari uraian kesepakatan Piagam
Madinah di atas ada beberapa inti dari perjajian tersebut yaitu berbicara
tentang persamaan, toleransi, musyawarah, tolong menolong, dan keadilan. Islam
sebagai agama baru semakin hari semakin berkembang menyebabkan ada beberapa
kelompok yang iri akan perkembangannya. Berbagai cara percobaan pembunuhanpun
dilakukan oleh kaum Yahudi, orang-orang munafik, dan kafir Qurays beserta sekutunya.
Untuk menjawab permasalah ini kemudian solusi diberikan oleh Allah dengan jalan
peperangan. Adapun peperangan yang pernah terjadi yaitu:
a.
Perang
Badar.
Perang badar yang terjadi tanggal 17
Ramadhan tahun 2 Hijriyah, bertepatan pada 8 januari 623 masehi. Perang ini
terjadi di dekat sebuah sumur milik Badar terletak antara Mekkah dan Madinah.
Kaum muslimin berjumlah 314 orang sedangkan kafir Qurays berjumlah 1000 orang
yang lengkap dengan peralatannya sedangkan kaum muslimin hanya dengan senjata
seadanya saja.
Strategi Rasulullah dalam
perang badar dengan menguasai penampungan air. Ketika kedua pasukan
saling berhadapan maka tiba-tiba seorang kafir Qurays bernama Aswad bin As’ad
ingin menghancurkan kolam penampungan air yang dimiliki kaum muslimin tetapi
hal ini dapat digagalkan oleh Hamzah bin Abdul Muthalib dan Aswad pun tewas
dipukul dengan pedang.
b.
Perang Uhud
Selanjutnya perang uhud terjadi pada
pertengahan bulan sya’ban tahun ketiga Hijriyah bertepatan dengan bulan Januari
tahun 625 Masehi. Peperangan terjadi di Gunung Uhud, sebelah utara kota
Madinah. Oleh karena itu perang ini dinamakan perang Uhud. Perang ini terjadi
karena kaum Qurays ingin membalas kekalahan di perang badar sebelumnya. Kaum
muslimin berkekuatan 700 orang sedangkan kaum Qurays berkuatan 3000 orang.
Dalam peperangan ini umat Islam dipimpin oleh Muhammad SAW sedangkan kaum
Qurays dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb yang pada mulanya kaum muslimin sudah
menang dan kaum kafir meninggalkan hartanya, disebabkan kaum muslimin khususnya
pasukan pemanah turun dari tempatnya untuk berbagi harta rampasan. Akhirnya
kemenangan yang sudah berada ditangan sekarang menjadi sirna disebabkan oleh
godaan dunia yaitu harta rampasan perang, kemenangan berpindah tangan kepada
kaum Qurays.
c.
Perang
Khandaq
Perang khandaq (Ahzah) terjadi pada
bulan syawal tahun 5 Hijrah, bertepatan dengan bulan Maret tahun 627 Masehi.
Perang ini sebelah utara kota Madinah. Perang ini disebut khandaq
(parit) karena kaum muslimin membuat parit pertahanan. Disebut perang ahzab
karena kaum Qurays bersekutu dengan penduduk lain yang berada di sekitar
kota Mekah. Kaum muslimin berkekuatan sebanyak 3000 orang sedangkan kaum Qurays
berkekuatan 10000 orang. Kaum muslimin dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW didampingi
Ali bin Abi Thalib, sedangkan kaum Qurays dipimpin oleh Abu Sufyan. Peperangan
ini dimenangkan oleh kaum muslimin dengan cara bertahan dibalik parit atau
khandaq. Parit ini merupakan ide seorang sahabat Rasul yang bernama Salman Al
Farisi seorang sahabat yang berasal dari bangsa Persia yang mengembara mencari
kebenaran.[2]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan
penjelasan pada pembahasan di atas maka kesimpulan yang dapat dipaparkan pada
makalah ini adalah sebagai berikut :
Sejarah
peradaban islam diartikan sebagai perekembangan atau kemajuan kebudayaan islam
dalam perspektif sejarahnya
Peradaban
Islam adalah terjemahan dari kata Arab Al-Hadharah
Al-Islamiyyah. Kata dalam bahasa Arab ini sering kita terjemahkan
kedalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam. Setelah
menerima wahyu kedua, rasulullah menyadari tugas yang dibebankan pada dirinya.
Maka mulailah secara diam-diam mengajak orang memeluk Islam., mula-mula kepada
keluarga keudian para sahabat dekat. Setelah Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah
yang bersifat rahasia, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi untuk berdakwah
secara teang-teangan, yaitu dengan turunnya ayat (Q.S Al Hijr15:94) yang
Artinya: “ maka sampaikanlah oleh mu secara terang-terangan segala apa yang
diperintahkan (kepada mu) dan berpalinglah dari orang-orang musrik”.
Setalah tiba
dan diterima penduduk Yastrib ( Madinah ), Nabi resmi menjadi pemimpin
penduduk kota itu. Kedudukannya sebagai Rasul secara otomatis merupakan sebagai
Kepala Negara. Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, Nabi
segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat.
Saran
Mungkin inilah yang diwacanakan
pada penulisan kelompok ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna minimal
kita mengimplementasikan tulisan ini. Masih banyak kesalahan dari penulisan
kelompok kami, karna kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa: dalam
hadits “al insanu minal khotto’ wannisa’, dan kami juga butuh saran/ kritikan
agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa
sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dosen pembimbing mata
kuliah Sejarah Peradaban Islam Bapak
Drs.H.faqihuddin, M.A Yang telah memberi kami tugas kelompok demi
kebaikan diri kita sendiri dan untuk negara dan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
http://bamskonse.blogspot.com/2013/01/sejarah-singkat-kehidupan-nabi-muhammad.html
[1]
http://sejarah.kompasiana.com/2013/02/13/sejarah-peradaban-islam-pada-masa-rasulullah-saw-533931.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar