BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Studi tentang perkembangan dan
pertumbuhan manusia merupakan usaha yang terus berlangsung dan berkembang.
Seiring dengan perkembangannya, studi tentang perkembangan dan pertumbuhan
manusia telah menjadi sebuah disiplin ilmu dengan tujuan untuk memahami lebih
dalam tentang apa dan bagaimana proses perkembangan dan pertumbuhan manusia
baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Sampai dengan saat ini kajian
mengenai perkembangan dan pertumbuhan manusia telah banyak menunjukkan manfaat
yang signifikan. Dan salah satu manfaat dari berkembangnya disiplin ilmu
tentang perkembangan manusia ini adalah pendidikan. Dan jika kita berbicara
pendidikan tentunya unsur yang mutlak ada ialah manusia itu sendiri. Nah, dalam
hal ini kajian ataupun teori-teori mengenai perkembangan dan pertumbuhan
manusia sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan. Pendidikan ialah usaha sadar
orang dewasa / pendidik untuk membantu membimbing pertumbuhan dan perkembangan
anak kearah kedewasaan.
Definisi pendidikan diatas
mengisyaratkan bahwa agar setiap pendidik baik orang tua maupun guru memahami
benar hakikat pertumbuhan dan perkembangan anak agar dapat membimbing atau
mengarahkan mereka kearah kedewasaan yang diharapkan.
2.
Rumusan
Masalah
a. Apa
definisi dari pertumbuhan dan perkembangan?
b. Factor
apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan?
c. Bagaimana
tahapan pertumbuhan dan perkembangan?
d. Bagaimana
sikap orang tua / guru dalam menghadpai pertumbuhan dan perkembangan anak?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI
PERTUMBUHAN
Pertumbuhan
(Growth) adalah perubahan KUANTITATIF (berupa pembesaran atau pertambahan dari
tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dst) pada materiil sesuatu
akibat dari adanya pengaruh dari lingkungan. Contoh : munculnya gigi baru,
semakin bertambahnya jumlah gigi, semakin bertambahnya tinggi badan, dst.
B.
PERKEMBANGAN
B.1
Definisi
Perkembangan
( Development ) adalah suatu proses perubahan ke arah kedewasaan atau
pematangan yang bersifat KUALITATIF ( ditekankan pada segi fungsional ) akibat
adanya proses pertumbuhan materiil dan hasil belajar dan biasanya tidak dapat
diukur. Contoh : pematangan sel ovum dan sperma, munculnya kemampuan berdiri
dan berjalan, dst.
B.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
a. Menurut
Teori Empirisme
Teori empirisme disebut juga teori
tabularasa dan environmentalism. Teori ini dipelopori oleh JOHN LOCKE
(1632-1704). Menurut teori empirisme, perkembangan individu ditentukan oleh
lingkungannya. Teori ini beranggapan bahwa pembawaan itu tidak ada. John Locke
menyatakan bahwa pada saat dilahirkan, jiwa individu dalam keadaan kosong
(ibarat tabularasa yang belum tertulis), dan lingkunganlah yang akan mengisi
kekosongan tersebut.
b. Menurut Teori Nativisme
Teori nativisme dengan tokohnya
ARTHUR SCHOPENHAUER (1788-1880), beranggapan bahwa perkembangan individu
semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (pembawaan).
Bila individu dilahirkan dengan pembawaan yang baik dengan sendirinya
perkembangannya anak baik, dan sebaliknya.
c. Menurut Teori Konvergensi
Teori konvergensi disebut juga teori
interaksionisme. Teori ini dikemukakan oleh WILLIAM STERN (1871-1939). Menurut
Stern, perkembangan individu merupakan hasil perpaduan atau interaksi antara
faktor pembawaan dengan faktor lingkungan. Pembawaan sudah ada pada
masing-masing individu sejak kelahirannya. Dan pembawaan ini tidak dapat
berkembangan menjadi kecakapan nyata bila tidak mendapat pengaruh dari
lingkungan.
B.3
Prinsip Perkembangan
Ciri perkembangan menunjukkan gejala yang
secara relatif teratur, sehingga terjadinya pola perkembangan sistematik. Atas
dasar hal tersebut, para ahli merumuskan dalam bentuk prinsip – prinsip
perkembangan. Beberapa prinsip perkembangan antara lain :
Ø Perkembangan
merupakan fungsi jasmaniah dan kejiwaan yang berlangsung dalam proses satu
kesatuan yang menyeluruh;
Ø Setiap
individu mempunyai kecepatan perkembangan;
Ø Perkembangan
seseorang, baik secara keseluruhan maupun setiap aspek tidak konstan melainkan
berirama;
Ø Proses
perkembangan dengan mengikuti pola tertentu;
Ø Proses
perkembangan berlangsung secara berkesinambungan;
Ø Antara
aspek perkembangan yang satu dengan aspek yang lain saling berkaitan atau
berkolerasi secara signifikan;
Ø Perkembangan berlangsung dari pola yang
bersifat umum ke khusus;
Ø Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan
lingkungan;
Ø Memiliki fungsi kepribadian yang bersifat
jasmaniah.
Kehidupan pribadi manusia pada
dasarnya adalah libido seksualitas. Pembutukan pribadi seseorang terjadi dari
lahir sampai usia 20 tahun. Enam tahap perkembangan fisiologis manusia (
Sigmund Freud ) , yaitu sebagai berikut :
a. Tahap Oral ( umur 0 sampai sekitar 1 tahun )
Dalam
tahap ini, mulut bayi merupakan daerah utama dari aktivitas yang dinamis pada manusia.
b.
Tahap Anal ( antara
umur 1 sampai 3 tahun )
Dalam
tahap ini, dorongan dan aktivitas gerak individu lebih banyak terpusat pada
fungsi pembuangan kotoran.
c.
Tahap Falish ( antara
umur 3 sampai 5 tahun )
Dalam
tahap ini alat kelamin merupakan daerah perhatian yang penting dalam
pendorongan aktivitas.
d. Tahap Latent ( antara umur 5 tahun sampai 12
tahun )
Dalam
tahap ini, dorongan aktivitas dan pertumbuhan cenderung bertahan dan istirahat
dalam arti meningkatkan kecepatan pertumbuhan.
e. Tahap Pubertas ( antara umur 12 tahun sampai
20 tahun )
Dalam
tahap ini, dorongan aktif kembali, kelenjar endokrin tumbuh pesat dan berfungsi
mempercepat pertumbuhan ke arah kematangan.
f. Tahap Genital ( setelah umur 20 tahun dan
seterusnya )
Dalam
tahap ini, pertumbuhan genital merupakan dorongan penting bagi tingkah laku
seseorang.
Merupakan
masa pematangan diri dalam tahap ini,perkembangan fungsi kehendak mulai dominan.
Orang mulai dapat membedakan adanya 3 macam tujuan hidup pribadi,yaitu pemuasan keiinginan pribadi,pemuasan
keinginan kelompok,dan pemuasan keinginan masyarakat. Semua ini akan
direalisasi oleh individu dengan belajar mengandalkan daya kehendaknya. Dengan kemmpuannya,orang melatih
diri uuntuk memilih keinginan yang akan
direalisasi dalam tindakan nya. Realisasi setiap keinginan ini menggunakan
fungsi penalaran,sehingga orang
dalam masa perkembangan ini mulai mampu melakukan pengoreksian dan pengontrolan diri.
Perkembangan
pendidikan anak sangat penting untuk kita ketahui agar perkembangan buah hati kita
bisa berkembang dengan baik sehingga bisa tumbuh sesuai dengan yang kita
harapkan.
Anak merupakan obyek utama dari pendidikan dan di dalam anak
mempunyai pembawaan yang disebut Bakat. Adapun aliran yang berpendapat bahwa
pembawaan itu berperan pada perkembAngan sebagai berikut:
1. Aliran
naturalisme (JJ Rousseu)”anak itu lahir dengan sifat-sifatnya sesuai dengan
alamnya sendiri”
2. Aliran
predestinasi/predeterminasi”perkembangan anak ditentukan oleh nasibnya”
3.
Teori Tabularasa (John
Lock) : ”anak dilahirkan dalam keadaan bersih,tidak ada pembawaan apa-apa
seperti sehelai kertas yang masih kosong”.
4.
Emanual Kant”manusia
tidak lain adalah hasil dari pendidikan ,oleh karena itu berarti bahwa
pendidikan sanggup membuat manusia yang bagaimana saja”.
Menurut Wilhelm yang
terkenal dengan teori konvergensimya ”perkembangan anak itu tidak hamya
totyentuakn oleh pembawaannya sajdan juga tidak lingkungan saja.
Aspek perkembangan anak sejak ia dibentuk hingga mencapai
kedewasaan diantaranya:perkembangan motorik, ingatan, pengamatan dan inovasi,
perkembangan berpikir dan kepribadian serta kedewasaan.
Dalam suatu pendidikan terdapat suatu lingkungan yang biasa
kita sebut Tri pusat pendidikan, yaitu:
Ø Lingkungan
keluarga:merupakan lingkungan pendidikan yang pertama karena dalam anak
pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan.
Ø Lingkungan
sekolah :merupakan bagian darli pendidikn dalan keluarga dan merupakan lanjutan
pendidikan dalam keluarga serta merupkan jembatan bagi anak yang menghubungkan
kehiupan keluarga dan masyarakat.
Ø Lingkungan
masyaraakt:apabila anak tidak di bawah pengawasan orang tua dan anggota
keluarga yamg serta tidak di bawah pengawasan guru dan petugs sekolah yang
lain.Lingkungn ini tidak berperan dalam mendidik hanya memberi pengaruh.
Selain lingkungan di
atas dapat dibedakan sebagai berikut:
1. alam
:lingkungan ini bersifat klimatologis,geografis dan keadaan tanah
2. Lingkungan
sosisal:lingkungan ini dibagi dua yaitu sosial keluarga dan masyarakat
Peran Pembawaan dalam
Perkembangan
Pembawaan atau bakat adalah merupakan potensi-potensi , atau
kemungkinan-kemungkinan yang memberikan kemungkinan kepada seseorang untuk
berkembang menjadi sesuatu. Berkembang tidaknya potensi yang ada pada anak
masih sangat tergantung pada faktor-faktor pendidikan yang lain.
Beberapa
aspek Perkembangan
Aspek perkembangan
yaitu : perkembangan motorik, pengamatan, berfikir, kepribadian dan kedewasaan.
·
Perkembangan motoprik
adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan
·
Perkembanagn
pengamatan, ingatan dan fantasi
·
Penghamatan,
perkembangan pengamatan sama halnya pada perkembangan motorik pada permulaan.
Yaitu mula-mula bersifat umum, global, yang selanjutnya menuju kehal-hal yang
khusus.
·
Ingatan, berkembang
sesuai umur semakin bertambah usia anak maka makin bertambah juga kemampuan
daya ingatnya
·
Fantasi,mulai
berkembang pada usia kurang lebih tiga tahun dan selanjutnya terus berkembang.
·
Perkembangan berfikir,
kemampuan berfikir ini juga berkembang sesuai dengan pertambahan usia. Mulai
kanak-kanak hinga pada akhir nya tercapaikepribadian yang bulat
·
Perkembangan
kepribadian, perkembangan selalu menyangkut kehidupan aku pribadi (ego) dalam
hubungannya dengan kehidupan sekitar. Pada mulanya sifat ego tersebut
sangattinggi, namun seiring bertambahnya usia sifat tersebut semakin berkurang
akibat bertambahnya pengalaman-pengalaman hidup dalam masyarakat.
·
Perkembangan
kedewasaan, perkembangan ini tidak dapat dilepas dari perkembangan kepribadian.
Terbentuknya kepribadian yang bulat, berarti pula tercapainya kedewasaan.
D.
PSIKOLOGI
PERKEMBANGAN ANAK DIDIK
Karakter
setiap manusia sangatlah beragam dan kepribadian setiap individu juga
berbeda-beda. Atas dasar inilah guru diwajibkan memiliki pemahaman yang baik
tentang psikologi perkembangan anak didik. Pemahaman karakter ini sangat
diperlukan untuk berinteraksi dengan anak didiknya.
Keberhasilan dalam proses kependidikan sangat dipengaruhi
oleh pemahaman terhadap perkembangan
psikologi. Pemahaman yang baik mengenai psikologi perkembangan sangat membantu
guru untuk menyikapi setiap ada perubahan tingkah laku pada anak didik.
Menurut seorang Filsuf Amerika, George Santayana, “Anak-anak
berada di wilayah yang berbeda. Mereka adalah bagian dari satu generasi dan
punya cara sendiri untuk merasakan sesuatu hal.” Apakah mempelajari dan
memahami perkembangan anak itu perlu? Kenapa perkembangan anak harus kita
pelajari? Di dalam kehidupan, fase yang paling penting adalah masa anak-anak.
Perkembangan merupakan pola perubahan kognitif, biologis, dan
sosio emosional yang berawal sejak lahir dan berlanjut terus sepanjang hidup.
Perkembangan biasanya disamakan dengan pertumbuhan walaupun pada akhirnya akan
terjadi penurunan atau kematian.
Antara pendidikan dan perkembangan anak
didik harus disesuaikan, maksudnya pengajaran yang diberikan pada anak didik
harus dilakukan dalam tingkatan yang terlalu tegang, terlalu sulit, menjemukan
dan terlalu mudah. Semisal, pendidikan yang diberikan untuk anak TK dengan anak
SD harus berbeda, begitu juga pendidikan antara anak SD, SMP, SMA, dan
Mahasiswa juga harus berbeda. Pola yang terjadi pada perkembangan anak
sangatlah kompleks sehingga perkembangan dapat dideskripsikan sesuai dengan
periodenya.
Ada
beberapa proses yang terjadi pada perkembangan anak, diantaranya:
1. Proses Biologis
Perubahan yang terjadi pada tubuh
anak. Dalam hal ini, warisan genetik mempunyai peran yang penting. Pada proses
ini akan terjadi perkembangan tinggi badan, berat, otak, perubahan kemampuan
bergerak, serta perubahan hormon dalam masa puber.
2. Proses Kognitif
Perubahan yang terjadi pada pola pikir, bahasa, dan
kecerdasan anak. Dalam proses akan terjadi perkembangan kemampuan anak untuk
memecahkan masalah matematika, mengingat puisi, merencanakan ide kreatif, dan
menyusun kalimat untuk berkomunikasi.
3.
Proses Sosio Emosional
Dalam tahapan ini akan terjadi
perubahan emosi, perubahan hubungan anak dalam bersosialisasi, dan perubahan
kepribadian. Perkembanga sosio emosional dapat tercermin dari perilaku seperti
perkelahian anak, rasa senang yang di alami remaja ketika memperoleh nilai
baik, dan ketegasan anak perempuan. Menurut seorang penyair dari Amerika,
Marianne Moore, bahwa pikiran merupakan “Sesuatu yang bernyanyi.
G.
ASPEK-ASPEK YANG MEMPENGARUHI
PERKEMBANGAN ANAK
1. Periodisasi
Perkembangan Fisik dan Psikis
Setiap orang akan mengalami periodisasi dalam
perkembangannya, begitu juga sebaliknya perkembangan masa anak-anak akan
mengalami periodisasi dari mulai lahir, bicara dan mulai merangkak.
Tugas perkembangan masa anak menurut Munandar (1985)
adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar
berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja
kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsep-konsep
yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan
diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain
serta belajar membedakan baik dan buruk.
Menurut Havighurts (dalam Gunarsa, 1986) tugas-tugas
perkembangan pada anak bersumber pada tiga hal, yaitu : kematangan fisik,
rangsangan atau tuntutan dari masyarakat dan norma pribadi mengenai
aspirasi-aspirasinya.
Perkembangan seorang anak seperti yang telah banyak
terurai di atas, tidak hanya terbatas pada perkembangan fisik saja tetapi juga
pada perkembangan mental, sosial dan emosional. Tugas-tugas pada masa setiap
perkembangan adalah satu tugas yang timbul pada suatu periode tertentu dalam
hidup seseorang, dimana keterbatasan dalam menyelesaikan tugas ini menimbulkan
perasaan bahagia serta keberhasilan pada tugas berikutnya, sedangkan kegagalan
akan menimbulkan ketidak bahagiaan dan kesulitan atau hambatan dalam
menyelesaikan tugas berikutnya.
Anak adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak
membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena
anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin
dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Menurut John Locke (dalam
Gunarsa, 1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap
rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Augustinus (dalam
Suryabrata, 1987), yang dipandang sebagai peletak dasar permulaan psikologi
anak, mengatakan bahwa anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai
kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh
keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak
lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan
yang bersifat memaksa.
Sobur (1988), mengartikan anak sebagai orang yang
mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan
segala keterbatasan. Haditono (dalam Damayanti, 1992), berpendapat bahwa anak
merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi
perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga
memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk
perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.
Dalam proses perkembangan manusia, dijumpai beberapa
tahapan atau fase dalam perkembangan, antara fase yang satu dengan fase yang
lain selalu berhubungan dan mempengaruhi serta memiliki ciri-ciri yang relatif
sama pada setiap anak. Disamping itu juga perkembangan manusia tersebut tidak
terlepas dari proses pertumbuhan, keduanya akan selalu berkaitan. Apabila
pertumbuhan sel-sel otak anak semakin bertambah, maka kemampuan intelektualnya
juga akan berkembang. Proses perkembangan tersebut tidak hanya terbatas pada
perkembangan fisik, melainkan juga pada perkembangan psikis.
2 Pengaruh
Internal dan Eksternal
Orang tua mempunyai fungsi yang penting dalam keluarga.
Diantara fungsi-fungsi tersebut antara lain (dalam Soelaeman, 1987):
a. Fungsi
religius. Artinya orang tua mempunyai kewajiban memperkenalkan dan mengajak
anak dan anggota lainnya kepada kehidupan beragama. Soelaeman (1987) memberikan
penjelasan bahwa untuk melaksanakan fungsi ini, orang tua sebagai tokoh inti
dalam keluarga itu harus terlebih dahulu menciptakan iklim yang religius dalam
keluarga itu, yang dapat dihayati oleh seluruh anggotanya;
b. Fungsi
edukatif. Pelaksanaan fungsi edukatif keluarga merupakan salah satu tanggung
jawab yang dipikul oleh orang tua. Sebagai salah satu unsur pendidikan keluarga
merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Orang tua harus
mengetahui tentang pentingnya pertumbuhan, perkembangan dan masa depan seorang
anak secara keseluruhan. Ditangan orang tuanyalah masalah-masalah yang
menyangkut anak, apakah dia akan tumbuh menjadi orang yang suka merusak dan
menyeleweng atau ia akan tumbuh menjadi orang baik;
c. Fungsi
protektif. Soelaeman (1987) memberikan gambaran pelaksanaan fungsi lingkungan,
yaitu dengan cara melarang atau menghindarkan anak dari perbuatan-perbuatan
yang tidak diharapkan, mengawasi atau membatasi perbuatan anak dalam hal-hal
tertentu menganjurkan atau menyuruh mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan
yang diharapkan mengajak bekerja sama dan saling membantu, memberikan contoh
dan tauladan dalam hal-hal yang diharapkan;
d. Fungsi
Sosialisasi. Tugas orang tua dalam mendidik anaknya tidak saja mencakup
pengembangan pribadi, agar menjadi pribadi yang mantap tetapi meliputi pula
mempersiapkannya menjadi anggota masyarakat yang baik. Sehubungan dengan itu
perlu dilaksanakan fungsi sosialisasi anak. Melaksanakan fungsi sosialisasi itu
berarti orang tua memiliki kedudukan sebagai penghubung anak dengan kehidupan
sosial dan norma-norma sosial, dan membutuhkan fasilitas yang memadai;
e. Fungsi
ekonomis. Meliputi; pencarian nafkah, perencanaan serta pembelajarannya.
Keadaan ekonomi sekeluarga mempengaruhi pula harapan orang tua akan masa depan
anaknya serta harapan anak itu sendiri. Orang tua harus dapat mendidik anaknya
agar dapat memberikan penghargaan yang tepat terhadap uang dan pencariannya,
disertai pula pengertian kedudukan ekonomi keluarga secara nyata, bila tahap
perkembangan anak telah memungkinkan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi
orang tua pada anaknya antara lain menanamkan kehidupan beragama, memberikan
pendidikan dalam masa perkembangan anak, menjadi penghubung dalam kehidupan
sosial anak, dan memberikan nafkah secara ekonomi demi keberlangsungan anak
Pengaruh Musik Pada
Anak
Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik
sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien).
Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang
kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang
mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki
irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada "miring".
Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik
dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.
"Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik
memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony", demikian kata
Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. "Beat mempengaruhi
tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh".
Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser
musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik
rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan
cenderung lepas kontrol. Kita masih ingat dengan "head banger", suatu
gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh
itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah
mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur.
Perasaan kita akan lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah
sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para
pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia.
Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor,
selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk
kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang
membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia
mendengar harmony dari suara-suara alam disekelilingnya. "Musik yang baik
bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan
harmony", ujar Ev. Andreas Christanday.
3. Nilai
Dan Nilai-nilai Agama
Anak mampu memperhatikan perilaku keagamaan yang diterima
melalui inderanya, anak mulai meniru perilaku keagamaan secara sederhana dan
mulai mengekspresikan rasa sayang dan cinta kasih, anak mampu meniru secara
terbatas perilaku baik atau sopan, anak mampu meniru dan mengucapkan bacaan
doa/lagu keagamaan dan gerakan beribadah secara sederhana, mulai berperilaku
baik atau sopan bila diingatkan, anak mampu mengucapkan bacaan doa/lagu-lagu
keagamaan, meniru gerakan beribadah, mengikuti aturan serta mampu belajar
berperilaku baik dan sopan bila diingatkan, anak mampu melakukan perilaku
keagamaan secara berurutan dan mulai belajar membedakan perilaku baik dan
buruk.
4. Sosial
Ekonomi
Anak mampu membangun interaksi dengan merspon kehadiran orang
lain, anak mampu berinteraksi dengan lingkungan terdekatnya (keluarga), dan
menunjukkan keinginannya dengan kuat, anak mampu berinteraksi dan mengenal
dirinya, dan menunjukkan keinginannya dengan kuat, anak mampu berinteraksi,
dapat menunjukkan rekasi emosi yang wajar, serta mulai menunjukkan rasa percata
diri serta mulai dapat menjaga diri sendiri anak mampu berinteraksi dan mulai
mematuhi aturan, dapat mengendalikan emosinya, menunjukkan rasa percaya diri
dan dapat menjaga diri sendiri.
5. Kognitif
Anak mampu menyadari keberadaan benda yang tidak dilihatnya,
anak bereksplorasi melalui indera dan motoriknya terhadap benda yang ada
disekitarnya. Anak mampu mengenal benda dan memanipulasi obyek/benda, anak
mampu mengenal konsep sederhana dan dapat mengklasifikasi,aAnak mampu mengenal
dan memahami berbagai konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari, anak mampu
memahami konsep sederhana dan dapat memecahkan masalah sederhana dalam
kehidupan sehari-hari.
6. Bahasa
Anak mampu merespon suara, anak mampu mengerti isyarat dan
perkataan orang lain serta mengucapkan keinginannya secara sederhana, anak
dapat mendengarkan, dan berkomunikasi secara lisan dengan kalimat sederhana,
anak dapat mendengarkan, berkomunikasi secara lisan serta memiliki
perbendaharaan kosa kata yang semakin banyak, anak dapat berkomunikasi secara
lisan, memiliki perbendaharaan kata-kata dan mengenal symbol-simbol, anak dapat
berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal
symbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.
7. Fisik
Anak mampu menggerakkan tangan, lengan, kaki, kepalan dan badan,
anak mampu menggerakan anggota tubuhnya dalam rangka latihan kekuatan otot
tangan, otot punggung dan otot kaki untuk menjaga keseimbangan, anak mampu
melakukan gerakan seluruh anggota tubuhnya secara terkoordinasi, anak mampu
melakukan gerakan secara terkoordinasi dalam rangka kelenturan, keseimbangan
dan kelincahan.
8. Seni
Anak mampu bereaksi terhadap irama yang
didengarnya, anak mampu meniru suara dan gerak secara sederhana, anak mampu
melakukan berbagai gerakan anggota tubuhnya seseuai dengan irama dapat
mengekspresikan diri dalam bentuk goresan sederhana, anak mampu melakukan
berbagai gerakan sesuai irama , menyajikan dan berkarya seni, anak mampu
mengekspresikan diri dengan menggunakan berbagai media/bahan dalam berkarya
seni melalui kegiatan eksplorasi, anak mampu mengekspresikan diri dan berkreasi
dengan berbagai gagasan dan menggunakan berbagao media/bahan menjadi suatu
karya seni.
9. Membangun Harga Diri Anak
Sebagai orang tua tentunya kita semua tahu apa yang
terbaik untuk anak kita, karena setiap anak adalah unik, mereka memiliki
kebutuhan yang berbeda-beda, kemampuan dan bakat yang berbeda, sifat yang
berbeda. Karena itu yang paling memahami anak adalah orang tuanya sendiri.
Namun, berikut adalah
sedikit tips dan trick yang mungkin dapat berguna bagi orang tua:
Do…
·
Cintailah anak apa
adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
·
Tunjukkanlah kepada
mereka bahwa anda mencintainya.
·
Berhati-hatilah dengan
perkataan anda, orangtua adalah manusia yang tentunya juga bisa khilaf saat
marah, namun berusahalah untuk selalu menjaga perkataan anda, karena terkadang
kata-kata yang ‘menjatuhkan’ bisa membekas di hati mereka.
·
Berilah pujian atas
keberhasilan mereka.
·
Dengarkan lah cerita
mereka, berikan simpati atas masalah yang mereka hadapi.
·
Berikan dorongan kepada
mereka untuk berpikir sendiri dan melakukan hal-hal yang mereka senangi.
·
Berikan kesempatan
untuk mereka melakukan hal-hal yang baru, jangan tergesa-gesa menawarkan
bantuan.
·
Luangkan waktu untuk
bersama mereka, sekedar bersantai dan bermain, atau bertukar cerita.
·
Berilah mereka tanggung
jawab sesuai dengan umurnya.
·
Ajari mereka
bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya meminta maaf pada teman saat
melakukan kesalahan.
Don’t…
·
Jangan hanya
mencintainya pada saat dia melakukan hal-hal yang sesuai keinginan anda.
·
Jangan membandingkan
anak dengan orang lain.
·
Jangan melontarkan
kritikan yang tidak membangun, seperti: “Kamu pemalas, tidak berguna”.
·
Jangan menyalahkan anak
atas sesuatu yang anda lakukan.
E.
TEORI-TEORI
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KANAK-KANAK
1.
Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Jean Piaget percaya fungsi
kecerdasan adalah untuk membantu menyesuaikan diri iaitu adaptasi kanak-kanak
terhadap persekitaran. Fokus penyesuaian adalah berdasarkan perkembangan
kognitif yang dilihat bersama-sama dengan respon kompleks yang dialami terhadap
persekitaran. Dengan meningkatnya pembelajaran dan kematangan kanak-kanak,
kedua-dua kecerdasan dan manifestasinya menjadi berbeza-beza. Piaget percaya
perkembangan berlaku dalam tahap-tahap yang mengalami perubahan melalui
equilibration iaitu penyeimbangan, keadaan yang menyebabkan kanak-kanak mencari
suatu keseimbangan di antara apa yang dialami dalam persekitaran dengan proses
dan struktur kognitif yang dihadapinya.
Menurut Jean Piaget, proses
keseimbangan aitu asimilasi dan akomodasi berkaitan antara perubahan dengan
perkembangan kognitif. Asimilasi dari sudut biologi adalah integrasi antara
elemen-elemen eksternal (dari luar) terhadap struktur yang sudah lengkap pada
organisme. Asimilasi kognitif meliputi
objek eksternal menjadi struktur pengetahuan internal. Proses asimilasi ini didasarkan atas
kenyataan bahawa setiap saat manusia selalu mengasimilasikan
informasi-informasi yang sampai kepadanya, kemudian informasi-informasi
tersebut dikelompokkan ke dalam istilah-istilah yang sebelumnya telah mereka
ketahui.
Manakala akomodasi adalah
menciptakan langkah baru atau memperbaharui atau menggabung-gabungkan istilah
lama untuk menghadapi cabaran baru. Akomodasi kognitif bermaksud mengubah
struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya untuk disesuaikan dengan objek
stimulus eksternal. Jika pada asimilasi berlaku perubahan pada objeknya, maka
pada akomodasi perubahan terjadi pada subjeknya, sehingga ia dapat
menyesuaiakan diri dengan objek yang ada di luar dirinya. Struktur kognitif
yang sudah ada dalam diri seseorang mengalami perubahan supaya sesuai dengan
rangsangan-rangsangan objeknya. Jean Piaget membahagikan perkembangan kognitif
kepada empat tahap iaitu sensori motor, praoperasi, operasi konkrit dan operasi
formal.
Tahap
sensori motor bermula sejak lahir hingga kanak-kanak berumur dua tahun. Menurut
Piaget, kanak-kanak pada tahap ini lebih berfokus terhadap apa yang
dipersepsikan melalui deria. Bayi tidak mempunyai deria terhadap pengekalan
objek, iaitu suatu keadaan di mana objek-objek memang wujud walaupun tidak
dapat dipersepsikan oleh bayi. Pada akhir tahap ini, iaitu dalam lingkungan 18
hingga 24 bulan, kanak-kanak mula menunjukkan tanda-tanda representasi iaitu
representasi dalaman terhadap rangsangan luaran. Pada masa ini, kanak-kanak
mula memikirkan tentang orang dan benda tetapi tidak semestinya dapat
mempersepsi pada masa tersebut. Ini adalah masa peralihan kepada tahap
praoperasi seseorang kanak-kanak.
Pada tahap praoperasi, iaitu umur
dalam lingkungan dua tahun hingga lebih kurang enam atau tujuh tahun
kanak-kanak mula membina representasi mental secara dalaman dengan aktif yang
telah mula beroperasi pada akhir tahap sensori motor. Dengan adanya pemikiran
representasi maka muncul komunikasi verbal. Namun, komunikasi tersebut lebih
egosentrik. Pada tahap ini kanak-kanak akan bercakap mengikut mindanya dengan
tidak mempedulikan apa yang disebut oleh orang lain. Pada tahap ini juga,
keupayaan kanak-kanak untuk memanipulasikan konsep masih terhad. Kanak-kanak
memberi tumpuan pada satu aspek yang dapat dilihat daripada objek atau situasi
yang disebut centration. Pada tahap ini banyak perubahan perkembangan berlaku.
Kanak-kanak semakin aktif dan mengalami pelbagai ujian, bereksperimen dengan
menggunakan bahasa dan objek atau benda di persekitarannya.
Tahap operasi konkrit bermula pada
umur tujuh atau lapan dan sehingga 11 tahun atau 12 tahun. Kanak-kanak dapat
memanipulasi dan membentuk representasi mental secara dalaman. Mereka mempunyai
pelbagai pemikiran dan memori tentang objek-objek yang konkrit seperti
komputer, perabot dan sebagainya. Dalam eksperimen konservasi kuantiti yang
dilakukan oleh Piaget, kanak-kanak dapat mengabadikan dalam minda kuantiti dan
memerhatikan perubahan dalam bentuk luaran objek atau benda-benda lain. Pada
mulanya, kanak-kanak bergantung pada persepsi segera seperti rupa bentuk objek
secara luaran. Dengan perlahan-lahan mereka membentuk peraturan dan skema
dalaman tentang apa dan bagaimana sesuatu perkara berlaku. Seterusnya, mereka
akan menggunakan skema dalaman untuk memberi panduan tentang penakulannya
daripada bentuk luaran sahaja. Kanak-kanak pada tahap operasi konkrit ini dapat
memanipulasi representasi dalaman objek-objek yang konkrit untuk mengesan dan
mengenal pasti kuantiti-kuantiti yang terkandung di dalamnya.
Tahap yang terakhir ialah tahap
operasi formal yang bermula pada umur 11 tahun atau 12 tahun dan seterusnya.
Tahap ini melibatkan operasi mental pada tahap yang abstrak dan simbol yang
mungkin tidak mempunyai bentuk fizikal dan konkrit. Kanak-kanak memahami
perkara-perkara yang mungkin mereka tidak terlibat dan alami secara langsung.
Selain itu, kanak-kanak ini dapat membentuk dan mencari untuk mewujudkan
representasi mental pada situasi yang dihadapinya dengan logik. Oleh itu,
perkembangan kognitif adalah berasaskan tahap demi tahap. Bagi Piaget,
tahap-tahap ini berlaku pada usia yang sama bagi kanak-kanak. Setiap tahap
berlaku dalam bentuk yang sama dan tidak berubah-ubah. Apabila kanak-kanak
memasuki tahap baru, kanak-kanak memikirkan cara-cara dan ciri-ciri yang
dikenal pasti dalam tahap berkenaan dengan nyata dan berkesan.
2. Teori
Kematangan Arnold Gesell
Arnold Gesell atau nama sebenarnya
ialah Arnold Lucias Gesell. Beliau dilahirkan pada 21 Jun 1880, di Alma,
Wisconsin. Beliau merupakan seorang pakar kanak-kanak yang merintis kajian
mengenai proses perkembangan manusia semenjak lahir sehingga remaja. Beliau
memfokuskan kajian secara saintifik dalam bidang perkembangan kanak-kanak.
Keluarganya amat menghargai akan pendidikan . Pada awalnya Gessell membuat
keputusan untuk menjadi seorang guru. Beliau berkelulusan dari University of
Wisconsin pada tahan 1903 dan kemudiannya menjadi pengetua dan guru di sekolah
tinggi sebelum beliau memasuki Clark University dimana Gasell telah menerima
Phd pada tahun 1906 di university tersebut.
Arnold Gasell percaya bahawa dalam
usaha untuk membuat kajian dalam perkembangan kanak-kanak, beliau perlu
mengetahui mengenai perubatan. Oleh itu, beliau telah menyambung pendidikannya
dalam bidang perubatan di Yale dan menerima M.D pada tahun 1915. Setelah
menamatkan pengajian, beliau memulakan kerjaya dengan mengajar psikologi dan
kebersihan kanak-kanak di Los Angeles State Normal School. Gesell telah
menyertai salah sebuah fakulti yang terdapat di Yale dan beliau menjadi
penolong professor pendidikan pada tahun 1911 dan menubuhkan dan menguruskan
Yale Clinic Of Child Development pada tahun yang sama hingga tahun 1948. Dari
tahun 1948 hingga ke akhir hayatnya, Gesell merupakan pengarah kepada Gesell
Institute Of Child Development di New Haven, Connecticut iaitu sebuah insitut
yang mengkaji perkembangan kanak-kanak. Gasell telah meninggal dunia pada 29
May 1961.
Dalam teori kematangan ini, Gesell
memfokuskan kepada kematangan individu dimana dalam proses kematangan ini ia
dipengaruhi oleh dua faktor iaitu faktor baka dan persekitaran yang menjadi
penggerak utama kepada pertumbuhan dan perkembangan fizikal kanak-kanak itu.
Faktor baka atau dikenali sebagai gen ini akan diwarisi oleh kanak-kanak sejak
pembentukan mereka di dalam rahim iaitu semasa proses persenyawaan sehingga
proses kelahiran. Mereka akan mewarisi segala sifat, perwatakan,kebolehan dan
kematangan yang dimiliki oleh ibu dan bapanya semenjak lahir hingga dewasa. Bagi
melengkapkan lagi proses kematangan ini, ia juga dipengaruhi oleh persekitaran
yang memainkan peranan untuk membantu proses kematangan bayi itu.
Faktor persekitaran ini merujuk
kepada persekitaran bayi di dalam rahim ibu dimana pengambilan makanan yang
dilakukan oleh ibu, kesihatan dan bekalan oksigen yang cukup kepada bayi dalam
rahim amat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan mereka. Menurut
beliau, proses kematangan ini tidak boleh dipaksa kerana beliau berpendapat
bahawa kematangan ini akan berlaku apabila kebolehan kanak-kanak itu sampai
kepada titik dan kematangan tertentu iaitu mengikut pola dan urutan yang
tersendiri. Ini bermakna selagi sistem saraf dan kematangan fizikal bayi belum
bersedia maka ibu bapa tidak boleh memaksa bayi untuk melakukan sesuatu
kemahiran tertentu.
Dengan itu, Gesell lebih
menitikberatkan keupayaan ibu bapa untuk mengajar kanak-kanak akan perkara
terdahulu daripada jadual. Contohnya kanak-kanak akan duduk, berjalan, dan
bercakap apabila mereka bersedia dan sistem saraf sudah matang dengan
sepenuhnya. Pada masa yang sama mereka mula menguasai sesuatu tugasan yang
datang dari keinginan diri sendiri. Sehingga pada masa itu pengajaran tidak
memberi makna mungkin menimbulkan ketegangan antara pengasuh dan kanak-kanak.
Contohnya dalam satu kajian yang dijalankan oleh Balinsky (1983) memberi
seorang kanak-kanak kembar dengan membuat latihan aktiviti seperti memanjat
tangga dan memegang serta memanipulasi kiub.
Anak kembar ini dapat menunjukkan
beberapa kemahiran lebih daripada yang seorang lagi kanak-kanak kembar yang
tidak dilatih, ia juga akan menguasai kemudian tanpa banyak latihan.
Kanak-kanak tersebut akan berbuat demikian pada umur semasa. Dengan jelasnya,
terdapat jadual waktu dalaman yang menentukan kesediaan untuk membuat sesuatu
manakala kebaikan latihan awal bersifat sementara sahaja. Soal stimulasi awal
konterversi awal impaknya usaha untuk mempercepatkan perkembangan motor awal
mengeluarkan kesan kecil ( Cole & Cole, 1989).
Peringkat
– Peringkat Teori Kematangan Arnold Gesell
Menurut
teori kematangan yang dibuat oleh Arnorld Gesell, beliau telah membahagikan
kepada 5 peringkat dalam proses perkembangan kanak-kanak. Peringkat pertama lahir sehingga 1 tahun
iaitu 1 bulan menghasilkan tangisan berbeza-beza untuk menyatakan kehendak
berlainan seperti lapar dan juga lampinnya basah, 4 bulan koordinasi fizikal
berlaku seperti mata mengikut objek yang bergerak, 6 bulan bayi mula
menggenggam objek, 7 bulan bayi boleh duduk & merangkak dan 12 bulan bayi mampu
berdiri dengan berpaut pada perabot. Antara pergerakan yang terlibat semasa
aktiviti di peringkat ini adalah psikomotor kasar dan psikomotor halus.
Peringkat
kedua, 1 - 2 tahun iaitu kemantangan fizikal dan mental mula meningkat, mula
memahami makna ‘jangan’ dan pada umur 2 tahun mampu untuk berjalan tetapi
dengan bantuan. Peringkat ketiga, 2 - 3 tahun iaitu koordinasi mata, tangan dan
kaki mula terbentuk, boleh bercakap menggunakan ayat mudah dan boleh
menguruskan diri seperti makan dan memakai kasut. Peringkat keempat, 3 – 4 tahun iaitu
koordinasi dan kematangan fizikal semakin kukuh dan boleh menuruti arahan mudah
daripada ibu bapa. Peringkat kelima, 4 –
5 tahun iaitu proses berinteraksi terbentuk, mula bersosialisasi, mengemukakan
soalan berperingkat-peringkat dan bersedia untuk ke kelas prasekolah.
3. Teori
Perkembangan Robert Havighurst
Robert
Havighurst dilahirkan pada 5 Jun 1900. Seterusnya membesar dan menerima ijazah
Ph.D dalam bidang kimia pada tahun 1924 di Universiti Ohio. Setelah beberapa
tahun, pada tahun 1974 Havighurst telah mendapat gelaran Profesor Emiritus in
Development and Education dan berjaya menerbitkan buku hasil dari penulisan dan
pengalaman beliau bertajuk “ Human Development and Education ” pada tahun 1953.
Robert
Havighurst menyatakan bahawa perkembangan seseorang kanak-kanak adalah
dipengaruhi oleh faktor persekitaran. Ini adalah merupakan satu elemen penting
yang berperanan dalam pertumbuhan dan perkembangan kanak-kanak. Beliau
memfokuskan kepada keadaaan sekeliling atau persekitaran dimana tempat
seseorang kanak-kanak itu membesar yang akan memberi dan meninggalkan impak
samaada positif atau negatif bergantung kepada ibu bapa yang mencorakkan
mereka. Menurut Robert Havighurst di dalam buku psikologi perkembangan halaman
19-25 menyatakan bahawa contoh persekitaran yang mempengaruhi kanak-kanak dapat
dilihat dari segi pemakanan, rakan sebaya, guru, bahan bacaan dan media
elektronik ( internet ).
Bagi
faktor persekitaran seperti pemakanan ianya dapat dilihat jika makanan yang diambil
oleh ibu semasa mengandung adalah seimbang dan berzat maka, bayi di dalam
kandungan akan membesar dengan sempurna dan sihat. Jika sebaliknya,
berkemungkinan bayi akan mendapat penyakit seperti PKU. Ini adalah kerana
kurangnya enzim di dalam badan bayi selepas di lahirkan. Seterusnya, bagi
pemakanan untuk kanak-kanak adalah perlu diberi dengan makanan yang seimbang
berdasarkan piramid makanan. Dari sini, ianya akan membantu kanak-kanak
membesar dengan sihat dan cergas. Di samping itu, ianya dapat membantu dalam
perkembangan kanak-kanak ke arah yang positif.
Seterusnya,
bagi faktor persekitaran seperti rakan sebaya pula, Havighurst menyatakan ini
adalah kerana jika seseorang kanak-kanak itu berkawan dengan rakan yang manja,
maka kanak-kanak itu akan sedikit sebanyak cenderong untuk menjadi manja dan
inginkan belaian dan kasih saying dari ibunya. Jika dia tidak mendapat apa yang
diinginkan seperti apa yang diperoleh olah kawannya, maka kanak-kanak itu akan
cuba untuk memberontak. Ini terbuki bahawa paktor persekitaran memainkan
peranan yang sangat penting dalam perkembangan seseorang kanak-kanak.
Selain
dari itu, faktor persekitaran seperti bahan bacaan adalah sangat penting kerana
ianya akan memberi pengaruh yang besar kepada pembaca. Jika bahan yang dibaca
berfaedah dan bermanfaat maka selamatlah kanak-kanak tersebut. Sebaliknya jika
tidak, ianya akan mempengaruhi perkembangan seseorang kanak-kanak seperti
berkemungkinan lambat bertutur dan sebagainya. Dari sini, kita sebagai ibu bapa
dan guru perlulah sentiasa membimbing dan membantu kanak-kanak dalam membentuk
peribadi mereka supaya menjadi insan yang berguna kepada masyarakat, bangsa dan
negara kelak. Menurut Havighurst, ibu bapa mahupun guru terutamanya perlulah
menyediakan persekitaran yang kondusif dan selamat untuk kanak-kanak membesar
dengan sempurna. Ini akan membantu kanak-kanak untuk berjaya.
Ini
dibuktikan lagi dalam Teori Robert Havighurst menyatakan bahawa setiap individu
perlu membesar dan berkembang dengan melalui sebanyak 10 peringkat yang bermula
dari peringkat bayi sehinggalah ke peringkat tua seterusnya meninggal dunia.
Beliau memberitahu bahawa, jika seseorang individu itu tidak dapat mencapai
tugas-tugas dalam setiap peringkat, maka dia akan berasa sedih dan kecewa. Ini
akan cenderong kepada perkembangan kanak-kanak tersebut menjadi lewat dan tidak
setaraf dengan kanak-kanak normal. Maka untuk membanteras gejala ini dari
berlaku, guru perlulah menyediakan aktiviti yang bersesuaian dengan peringkat
kanak-kanak seperti aktiviti dalam bentuk permainan mahupun lakonan. Hal ini
dapat membentuk kreativiti kanak-kanak.
Havighurst
menyatakan bahawa tugas-tugas dalam perkembangan kanak-kanak hanya perlu
dipelajari sekali sahaja seperti berjalan, berlari, perbezaan jantina dan sebagainya.
Jadi ini dapat disimpulkan bahawa setiap perkembangan yang dialami oleh
kanak-kanak perlulah dengan relaan kanak-kanak itu sendiri, bukan dengan
paksaan yang diberikan oleh ibu bapa kerana dengan paksaan akan membuatkan
kanak-kanak itu tidak berupaya untuk berdikari sendiri dan akan memberi kesan
yang dalam terhadap perkembangan mereka.
Peringkat–Peringkat
Teori Perkembangan Robert Havighurst
Havighurst
telah membahagikan kepada 10 peringkat dalam perkembangan kanak-kanak. Peringkat pertama bayi dan awal kanak-kanak (
lahir – 2 tahun). Pada peringkat ini, bayi menjalinkan kasih sayang dengan ibu
bapa, adik beradik dan pengasuhnya. Sistem deria dan fungsi motor
beransur-ansur matang. Pada tahap ini kanak-kanak sepatutnya mencapai
kecerdasan deria dan memahami sifat objek. Sebagai contoh adik ketawa sebab
suka. Terdapat pelbagai aktiviti yang boleh dilakukan oleh ibu bapa terhadap
anak mereka seperti membantu mereka makan, bermain bersama dan membantu
anak-anak mandi dengan betul.
Peringkat
kedua pertengahan kanak-kanak “ Toddlerhood” (2-3 tahun). Kanak-kanak boleh
melakukan pergerakan yang pelbagai seperti turun naik tangga. Kanak-kanak juga
boleh berkomunikasi dengan bahasa mudah. Penglibatan mereka dalam permainan
fantasi mula mengawal pergerakan diri. Sebagai contoh menjadikan pisang sebagai
telefon dan roda atau pelampung sebagai stereng kereta. Ini mendorong kepada
pembentukan daya imaginasi kanak-kanak. Cadangan aktiviti adalah bermain kereta
mainan,lego atau blok. Dari sini, alat permainan mampu meningkatkan kemahiran
motor halus mahupun kasar kanak-kanak.
Peringkat
ketiga prasekolah (4 – 6 tahun ). Kanak-kanak mula belajar peranan mengikut
jantina masing-masing .Misalnya kanak-kanak perempuan meniru peranan ibu
seperti memasak, membasuh kain dan mengemas rumah. Kanak-kanak juga mula
bermain dengan rakan di luar dan wujudnya perkembangan moral. Pada peringkat
awal perkembangan moral, iaitu jika mereka jahat mereka akan didenda. Mereka
mula bermain dalam kelompok atau kumpulan kanak-kanak yang lain. Sebagai
contoh, apabila ibu memasak anak akan datang membantu seperti membasuh sayur,
mengupas bawang dan meramas santan .Melalui aktiviti ini,kemahiran motor halus
dan kasar dapat ditingkatkan.
Peringkat
keempat sekolah rendah ( 6 – 12 tahun ). Kanak-kanak mula belajar bersahabat.
Dari segi kognitif,kanak-kanak ini berada pada tahap operasi konkrit iaitu mula
menguasai 3M seperti membaca, menulis dan mengeja. Pada peringkat ini,kemahiran
permainan dan kognitif terbentuk kerana perkembangan fizikal dan dengan adanya
galakkan daripada ibubapa. Kanak-kanak turut mengalami perkembangan kendiri
yang positif seperti menjaga kesihatan. Peringkat
kelima awal remaja ( 12 – 18 tahun ). Pada tahap ini, remaja akan mencapai
tahap kematangan fizikal seperti tinggi yang maksimum. Dari segi kognitif pula,
mereka berada pada peringkat operasi formal. Dari segi emosi, wujudnya berbagai
emosi dalam diri remaja seperti ingin Berjaya dan mereka mampu untuk kawal
emosi. Remaja pada peringkat ini akan membentuk kumpulan rakan sebaya dan mula
tertarik pada lain jantina.
Peringkat
keenam akhir remaja (18 – 22 tahun). Remaja cuba mempengaruhi otonomi daripada
ibu bapa. Remaja mula membentuk identiti mengikut jantina iaitu lelaki atau
perempuan.Melalui pergaulan sosial, remaja akan mematuhi nilai moral
masyarakat. Pada peringkat ini juga,mereka mula memilih kerjaya yang sesuai
dengan diri mereka.
Peringkat
ketujuh awal dewasa ( 22 – 34 tahun ). Pada peringkat ini,seseorang akan
meneroka persahabatan intim yang berlainan jantina.Bagi pasangan yang telah
berkahwin akan mengasuh dan mendidik anak- anak.Selain itu,individu berusaha
memantapkan profesion serta wujud kehidupan sendiri.
Peringkat
kelapan pertengahan dewasa ( 34 – 60 tahun). Peringkat ini, individu mempunyai
berkemahiran dalam pekerjaan dan menjadi ketua. Seseorang individu yang berjaya
mampu memupuk kebahagiaan dalam rumahtangga, mengasihi keluarga dan mengumpul
harta. Individu peringkat ini banyak terlibat dengan kerja amal.
Peringkat
kesembilan akhir dewasa ( 60 – 75 tahun ). Individu pada peringkat ini telah
bersara dan lebih menumpukan masa kepada kerja-kerja amal dan ibadat. Individu
turut menjalani kehidupan hari tua, mensyukuri nikmat dan takdir Allah. Selain
itu,individu pada peringkat ini berfikir tentang perkara yang telah dilakukan
semasa hidupnya.
Peringkat
kesepuluh tua ( 75 tahun – meninggal dunia ). Pada peringkat ini mereka mula
menangani masalah kesihatan seperti osteoporosis, nyanyok dan menopause. Mereka
turut mengenang zaman muda dan dewasa. Bagi individu yang berjaya mereka akan
berasa puas hati dan tenang sambil menanti saat untuk meninggal dunia.
4. Teori
Perkembangan Kanak-Kanak Psikososial Erikson
Erik
Erikson merupakan seorang tokoh psikologi yang membentuk satu teori yang komprehensif
tentang perkembangan manusia berdasarkan jangkamasa kehidupan mereka. Beliau
membentuk teori berdasarkan kepada pengalaman kehidupannya sendiri. Teori
beliau digelar psikososial kerana beliau menggabungkan 3 faktor yang
mempengaruhi perkembangan individu iaitu faktor kendiri, emosi dan faktor
sosial
Salah
satu elemen penting dalam peringkat teori perkembangan erikson ialah
perkembangan identiti ego. Identiti ego ialah kesedaran diri yang dikembang
melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, identiti ego individu biasanya
berubah selaras dengan pengalaman dan maklumat baru yang diperoleh hasil
daripada interaksi dengan orang lain. Tambahan kepada identiti ego, Erikson
juga percaya bahawa perasaan yakin kepada kemahiran dan kecekapan diri juga
memotivasikan sikap dan tindakan seseorang.
Setiap peringkat dalam teori Erikson menitikberatkan perkembangan
kemahiran yang sesuai pada sesuatu tahap atau bahagiam dalam kehidupan. Jika
sesuatu peringkat dikawal dengan baik individu tersebut mempunyai masteri (sense of mastery).
Sebaliknya jika sesuatu peringkat gagal diurus dengan baik, individu tersebut
akan mempunyai perasaan ketidakcukupan.
Menurut Erikson, setiap tahap mempunyai konflik dan konflik ini mesti diatasi
sebelum individu dapat berfungsi dengan
jayanya pada tahap berikutnya. Kegagalan mengatasi konflik pada tahap sesuatu
tahap akan menjejaskan perkembangan tahap yang berikutnya.
Tahap-Tahap
Perkembangan Psikososial Erikson
Terdapat
8 jenis dalam tahap-tahap perkembangan psikososial Erikson. Antaranya ialah
psikososial tahap
1. percaya
lawan tidak percaya
Tahap
pertama teori perkembangan psikososial Erikson adalah di antara waktu kelahiran
sehingga berusia 1 tahun. Ia adalah tahap pertama di dalam kehidupan. Oleh
kerana bayi sepenuhnya bergantung pada orang lain, perkembangan rasa percaya
yang dibentuk olehnya adalah berasaskan kepda kepercyaan dan kualiti penjaga
kepda bayi tersebut. Oleh kerana bayi sepenuhnya bergantung pada orang lain,
perkembangan rasa percaya yang dibentuk olehnya adalah berasaskan kepada
keupayaan dan kualiti penjaga kepada bayi tersebut.
Apabila seorang bayi berjaya
membangunkan perasaan percaya, dia akan rasa selamat dan dilindungi di dalam
dunia ini. Penjagaan yang tidak stabil, emosi terganggu dan rasa terasing yang
akan menyebabkan bayi yang dijaga mempunyai perasaan tidak percaya pada
persekitarannya. Kegagalan mengembangkan rasa percaya akan melahirkan perasaan
takut dan yakin bahwa dunia ini tidak tenteram dan tidak dapat diramal dan
dipercyai.
2. Psikososial
tahap 2 autunomi lawan rasa malu/sangsi
Tahap kedua teori perkembangan psikososial Erikson adalah di
sepanjang peringkat awal kanak-kanak dan ia tertumpu pada pembentukan perasaan
keyakinan diri pada kanak-kanak tersebut. Sama seperti Freud, Erikson juga
percaya latihan ke tandas merupakan bahagian penting dalam proses ini. Namun
alasan yang diberikan oleh Erikson adalah berbeza dengan Freud. Erikson percaya
bahawa pembelajaran untuk mengawal fungsi tubuh seseorang akan membawa kepada
tindak balas terkawal dan kemahuan untuk berdikari.
Kaedah
lain yang penting termasuk memberi lebih banyak peluang kepada kanak-kanak untuk membuat pilihan
makanan, permaianan dan pakaian. Kanak-kanak
yang berjaya melengkapkan tahap ini akan rasa selamat dan yakin,
sementara mereka yang gagal akan mempunyai perasaan ketidakcukupan dan
rasa sangsi.
3. Psikososial
tahap 3 inisiatif lawan rasa bersalah
Kanak-kanak pada tahap ini mula
berinteraksi dan terdedah kepada persekitaran. Mereka cuba mengambil banyak
inisiatif untuk melakukan sesuatu yang baru bagi memenuhi naluri ingin tahu
mereka. Namun jika ibu bapa mengkritik atau menggunakan dendaan atau kekerasan
terhadap tingkah laku mereka, ini akan menyebabkan kanak-kanak tadi mempunyai
perasaan bersalah pada diri dan tidak berinsiatif atau takut untuk melakukan
sesuatu aktiviti.
4. Psikososial
tahap 4 industri lawan rasa rendah diri
(6-12 tahun)
Pada tahap ini kanak-kanak mula memasuki
alam persekolahan, Pada tahap ini kanak-kanak perlu menguasai kemahiran asas
seperti membaca, menulis dan mengira. Tahap pemikiran mereka mula mencapai
operasi konkrit dan mula berfikiran logik. Mereka melakukan sesuatu dengan
penuh minat, yakin dan tekun. Tanpa bimbingan dan galakan daripda ibu bapa,
guru dan rakan sebaya akan menyukarkan keupayaan, keyakian dan kebolehan
kanak-kanak tersebut untuk berjaya.
5. Psikososial
tahap 5 identiti lawan kekeliruan (12-20
tahun)
Pada tahap ini, remeja sama ada remaja awal
atau reamaja akahir akan berusaha mencari identiti dan persepsi terhadap dunia
mereka sendiri. Remaja yang mempunyai identitinya akan mencipta rancangan masa
depan yang memuaskan dan rasa terselamat. Sebaliknya remaja yang gagal akan
memperkembangkan rasa keliruan peranan, hidup yang tidak bermatlamat, rasa
tersisih dan sukar membuat keputusan.
6. Psikososial
tahap 6 kemesraan atau pengasingan diri (20 -40 tahun)
Mula
mencari kenalan atau cinta, Membentuk corak perhubungan dan memerlukan
perhubungan bermakna dan kemesraan. Pada peringkat ini, seseorang dewasa akan
mendirikan rumah tangga. Dengan kata lain iaitu membolehkan orang dewasa akan
berkongsi hidup bersama serta mencapai kemesraan atau kerapatan. Sebaliknya,
orang yang masih bujang atau belum berkahwin akan merasa putus asa atau hidup
dalam kekecewaan.
7. Psikososial
tahap 7 generativiti lawan pemusatan
(40-65 tahun)
Generativiti merujuk kepada usaha
seseorang untuk memberi sumbangan atau perkhidmatan kepada generasi akan
datang. Seseorang dewasa akan berpuas hati jika dapat membantu anak-anaknya
menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab serta berguna kepada masyarakat.
Sebaliknya, individu yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pernah
memberi apa-apa bantuan kepada orang lain akan berasa kecewa dan kurang berpuas
hati dengan hidupnya. Sebagai akibatnya, proses pemusatan kendiri akan berlaku
pada individu tersebut.
8. Psikososial
tahap 8 kesepaduan lawan putus asa (65
tahun ke atas)
Pada peringkat ini, seseorang dewasa
akan melekukan refleksi kendiri. Dia akan mengingat kembali kejayaan dan
kegagalan yang dialaminya pada peringkat awal. Jika seseorang berpuas hati
dengan pencapaiannya pada peringkat awal, dia akan mencapai rasa kesepaduan.
Jika sebaliknya, dia akan merasakan kegagalan dan hidup dalam berputus asa.
5. Teori
Perkembangan Kanak-Kanak Lawrence Kolhberg
Lawrence
kolhberg dianggap pelopor utama dalam menghuraikan tentang teori perkembangan
moral. Beliau berpendapat moraliti berkembang secara universal mengikut satu
siri dari satu tahap kepada tahap yang lebih tinggi. Beliau juga berpendapat bahawa jika kanak-kanak dibiarkan
mengalami pelbagai konflik semasa berinteraksi dengan rakan-rakan,lama-kelamaan
mereka menjadi mahir dalam menghadapi dilema, iaitu ada cara penaakulan yang
lebih berkesan dan kompleks. Menurut beliau lagi, pengalaman perlu jika
seseorang ingin mengambil kira perspektif orang lain. Tahap moraliti bagi awal
kanak-kanak ialah moraliti prakonvensional. Perlakuan dinilai berdasarkan
ganjaran dan hukuman yang akan diterima akibat perlakuan tersebut.
Peringkat 1: Orientasi
Kepatuhan dan Hukuman
Pada
peringkat ini, pemikiran moral kanak-kanak lebih berorientasikan egosentrik
yang mementingkan diri sendiri. Mereka lebih mementingkan kesan fizikal.
Kanak-kanak mematuhi atau mengikut arahan kerana takutkan hukuman yang akan
diterima sekiranya melanggar peraturan.
Peringkat 2: Orentasi
Ganjaran Peribadi
Individu
melakukan sesuatu berdasarkan keinginan untuk mendapatkan balasan. Tingkahlaku
didorong untuk memuaskan kehendak sendiri.
Pada
tahap kedua ialah tahap Konvensional
Individu
mula mengaplikasi peraturan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.
Peringkat 3: Orientasi
Perlakuan Baik
Kanak-kanak
atau remaja mula mengaplikasikan ukuran moral yang telah ditetapkan oleh ibu
bapa, guru atau orang di persekitaran. Mereka menghargai nilai kepercayaan dan
kepatuhan terhadap peraturan yang ditetapkan.
Peringkat 4: Akur
kepada sistem sosial dan etika peraturan
Perlakuan/penaakulan
moral berdasarkan peraturan, undang-undang dan ketetapan yang telah ditetapkan
oleh masyarakat. Pada peringkat ini individu percaya terhadap keutuhan
undang-undang. Peraturan dan undang-undang perlu dipatuhi untuk menjaga
kesejahteraan komuniti.
Tahap ketiga ialah Pos- Konvensional
Pada tahap ini individu mula
meneroka pilihan dalam penaakulan moral. Mereka mempunyai kod moral dan etika
yang tersendiri.
Peringkat
5: Etika Kontrak Sosial dan Hak Individu
Individu
berhujah menggunakan nilai, hak dan prinsip. Mereka menilai undang-undang yang
ditetapkan berdasarkan hak individu. Pemikiran moral pada peringkat ini adalah
berkaitan dengan usaha untuk mempertahankan hak-hak asasi, nilai-nilai yang
telah dipersetujui dalam sesebuah masyarakat. Mereka melihat undang-undang
sebagai sesuatu yang fleksibel dan mempunyai alternatif. Undang-undang dipatuhi
sekiranya ia menepati hak-hak individu.
Peringkat 6: Etika
Prinsip Sejagat
Peringkat
tertinggi dalam perkembangan moral kerana ia melibatkan soal falsafah tentang
moral seseorang. Pada peringkat ini individu telah mempunyai kod-kod moral dan
etika yang tersendiri yang menepati hak-hak individu sejagat. Mereka
mementingkan kesamaan hak kepada semua individu dan menghormati maruah dan
prinsip individu lain.
F.
HUBUNGAN
DAN KETERKAITAN TEORI PERKEMBANGAN DAN
PERTUMBUHAN
Teori
perkembangan dan pertumbuhan saling berhungan, jika dilihat dari pertumbuhan
dan perkembangan anak pada usia 0-5 tahun, anak akan tampak pertumbuhannya yang
disertai perkembangan. Misalnya semakin hari berat si anak semakin tambah,
tingginya pun semakin bertambah, dan disertai perkembangan anak yang di mulai
dari bisanya tengkurap, merangkak,berajalan hingga bias berbicara.
Disini jelas
bahwa pertumbuhan dan perkembangan sangat berkaitan, jika pertumbuhan tidak
disertai perkembangan maka seorang iibu harus berkonsultasi, begitupun
sebaliknya.
Jelas berkaitan
semakin dewasanya(besar usianya) seseorang akan mempengaruhi pola pikir,
seksual, dll sehingga seseorang tsb akan semakin dewasa dan dapat berpikir
bijak akan lingkungan maupun orang lain.
BAB III
KESIMPULAN
Aliran-aliran pendidikan telah
dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu
dihadapkan dengan generasi muda keturunannyayang memerlukan pendidikan yang
lebih baik dari orangtuanya. diantara aliran-aliran pendidikan yang ada yaitu:
Nativisme adalah sebuah doktrin
filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh
utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof
Jerman. Aliran filosof natifisme konon dijuluki sebagai aliran psimistis yang
memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam.
Aliran Empirisme bertolak dari
Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan
manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan,
sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. . Tokoh perintis pandangan ini adalah
seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori
“Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih.
Aliran konvergensi (convergence)
merupakan gabungan antara aliran empirisisme dengan aliran nativisme. Aliran ini
menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai
factor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama
konvergensi bernama Louis William Stren (1871-1938), seorang filosof dan
psikolog Jerman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar