Kamis, 15 Mei 2014

psikologi pendidikan pertumbuhan dan perkembangan

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Studi tentang perkembangan dan pertumbuhan manusia merupakan usaha yang terus berlangsung dan berkembang. Seiring dengan perkembangannya, studi tentang perkembangan dan pertumbuhan manusia telah menjadi sebuah disiplin ilmu dengan tujuan untuk memahami lebih dalam tentang apa dan bagaimana proses perkembangan dan pertumbuhan manusia baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
            Sampai dengan saat ini kajian mengenai perkembangan dan pertumbuhan manusia telah banyak menunjukkan manfaat yang signifikan. Dan salah satu manfaat dari berkembangnya disiplin ilmu tentang perkembangan manusia ini adalah pendidikan. Dan jika kita berbicara pendidikan tentunya unsur yang mutlak ada ialah manusia itu sendiri. Nah, dalam hal ini kajian ataupun teori-teori mengenai perkembangan dan pertumbuhan manusia sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan. Pendidikan ialah usaha sadar orang dewasa / pendidik untuk membantu membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak kearah kedewasaan.
            Definisi pendidikan diatas mengisyaratkan bahwa agar setiap pendidik baik orang tua maupun guru memahami benar hakikat pertumbuhan dan perkembangan anak agar dapat membimbing atau mengarahkan mereka kearah kedewasaan yang diharapkan.

2.      Rumusan Masalah
a.       Apa definisi dari pertumbuhan dan perkembangan?
b.      Factor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan?
c.       Bagaimana tahapan pertumbuhan dan perkembangan?
d.      Bagaimana sikap orang tua / guru dalam menghadpai pertumbuhan dan perkembangan anak?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    DEFINISI PERTUMBUHAN
Pertumbuhan (Growth) adalah perubahan KUANTITATIF (berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dst) pada materiil sesuatu akibat dari adanya pengaruh dari lingkungan. Contoh : munculnya gigi baru, semakin bertambahnya jumlah gigi, semakin bertambahnya tinggi badan, dst.
B.     PERKEMBANGAN
B.1  Definisi
Perkembangan ( Development ) adalah suatu proses perubahan ke arah kedewasaan atau pematangan yang bersifat KUALITATIF ( ditekankan pada segi fungsional ) akibat adanya proses pertumbuhan materiil dan hasil belajar dan biasanya tidak dapat diukur. Contoh : pematangan sel ovum dan sperma, munculnya kemampuan berdiri dan berjalan, dst.
B.2  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
a.    Menurut Teori Empirisme
            Teori empirisme disebut juga teori tabularasa dan environmentalism. Teori ini dipelopori oleh JOHN LOCKE (1632-1704). Menurut teori empirisme, perkembangan individu ditentukan oleh lingkungannya. Teori ini beranggapan bahwa pembawaan itu tidak ada. John Locke menyatakan bahwa pada saat dilahirkan, jiwa individu dalam keadaan kosong (ibarat tabularasa yang belum tertulis), dan lingkunganlah yang akan mengisi kekosongan tersebut.
b.  Menurut Teori Nativisme
            Teori nativisme dengan tokohnya ARTHUR SCHOPENHAUER (1788-1880), beranggapan bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (pembawaan). Bila individu dilahirkan dengan pembawaan yang baik dengan sendirinya perkembangannya anak baik, dan sebaliknya.
c.  Menurut Teori Konvergensi
            Teori konvergensi disebut juga teori interaksionisme. Teori ini dikemukakan oleh WILLIAM STERN (1871-1939). Menurut Stern, perkembangan individu merupakan hasil perpaduan atau interaksi antara faktor pembawaan dengan faktor lingkungan. Pembawaan sudah ada pada masing-masing individu sejak kelahirannya. Dan pembawaan ini tidak dapat berkembangan menjadi kecakapan nyata bila tidak mendapat pengaruh dari lingkungan.
B.3 Prinsip Perkembangan
     Ciri perkembangan menunjukkan gejala yang secara relatif teratur, sehingga terjadinya pola perkembangan sistematik. Atas dasar hal tersebut, para ahli merumuskan dalam bentuk prinsip – prinsip perkembangan. Beberapa prinsip perkembangan antara lain :
Ø Perkembangan merupakan fungsi jasmaniah dan kejiwaan yang berlangsung dalam proses satu kesatuan yang menyeluruh;
Ø Setiap individu mempunyai kecepatan perkembangan;
Ø Perkembangan seseorang, baik secara keseluruhan maupun setiap aspek tidak konstan melainkan berirama;
Ø Proses perkembangan dengan mengikuti pola tertentu;
Ø Proses perkembangan berlangsung secara berkesinambungan;
Ø Antara aspek perkembangan yang satu dengan aspek yang lain saling berkaitan atau berkolerasi secara signifikan;
Ø  Perkembangan berlangsung dari pola yang bersifat umum ke khusus;
Ø  Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan;
Ø  Memiliki fungsi kepribadian yang bersifat jasmaniah.
            Kehidupan pribadi manusia pada dasarnya adalah libido seksualitas. Pembutukan pribadi seseorang terjadi dari lahir sampai usia 20 tahun. Enam tahap perkembangan fisiologis manusia ( Sigmund Freud ) , yaitu sebagai berikut :

a.   Tahap Oral ( umur 0 sampai sekitar 1 tahun )
Dalam tahap ini, mulut bayi merupakan daerah utama dari aktivitas yang dinamis    pada manusia.
b.      Tahap Anal ( antara umur 1 sampai 3 tahun )
Dalam tahap ini, dorongan dan aktivitas gerak individu lebih banyak terpusat pada fungsi pembuangan kotoran.
c.       Tahap Falish ( antara umur 3 sampai 5 tahun )
Dalam tahap ini alat kelamin merupakan daerah perhatian yang penting dalam pendorongan aktivitas.
d.   Tahap Latent ( antara umur 5 tahun sampai 12 tahun )
Dalam tahap ini, dorongan aktivitas dan pertumbuhan cenderung bertahan dan istirahat dalam arti meningkatkan kecepatan pertumbuhan.
e.   Tahap Pubertas ( antara umur 12 tahun sampai 20 tahun )
Dalam tahap ini, dorongan aktif kembali, kelenjar endokrin tumbuh pesat dan berfungsi mempercepat pertumbuhan ke arah kematangan.
f.   Tahap Genital ( setelah umur 20 tahun dan seterusnya )
Dalam tahap ini, pertumbuhan genital merupakan dorongan penting bagi tingkah laku seseorang.
                        Merupakan masa pematangan diri dalam tahap ini,perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Orang mulai dapat membedakan adanya 3 macam tujuan hidup pribadi,yaitu          pemuasan keiinginan pribadi,pemuasan keinginan kelompok,dan pemuasan keinginan masyarakat. Semua ini akan direalisasi oleh individu dengan belajar mengandalkan daya    kehendaknya. Dengan kemmpuannya,orang melatih diri uuntuk memilih keinginan yang            akan direalisasi dalam tindakan nya. Realisasi setiap keinginan ini menggunakan fungsi       penalaran,sehingga orang dalam masa perkembangan ini mulai mampu melakukan        pengoreksian dan pengontrolan diri.
C.          PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK
         Perkembangan pendidikan anak sangat penting untuk kita ketahui agar perkembangan buah hati kita bisa berkembang dengan baik sehingga bisa tumbuh sesuai dengan yang kita harapkan.
        Anak merupakan obyek utama dari pendidikan dan di dalam anak mempunyai pembawaan yang disebut Bakat. Adapun aliran yang berpendapat bahwa pembawaan itu berperan pada perkembAngan sebagai berikut:
1.      Aliran naturalisme (JJ Rousseu)”anak itu lahir dengan sifat-sifatnya sesuai dengan alamnya sendiri”
2.      Aliran predestinasi/predeterminasi”perkembangan anak ditentukan oleh nasibnya”
3.      Teori Tabularasa (John Lock) : ”anak dilahirkan dalam keadaan bersih,tidak ada pembawaan apa-apa seperti sehelai kertas yang masih kosong”.
4.      Emanual Kant”manusia tidak lain adalah hasil dari pendidikan ,oleh karena itu berarti bahwa pendidikan sanggup membuat manusia yang bagaimana saja”.
Menurut Wilhelm yang terkenal dengan teori konvergensimya ”perkembangan anak itu tidak hamya totyentuakn oleh pembawaannya sajdan juga tidak lingkungan saja.
        Aspek perkembangan anak sejak ia dibentuk hingga mencapai kedewasaan diantaranya:perkembangan motorik, ingatan, pengamatan dan inovasi, perkembangan berpikir dan kepribadian serta kedewasaan.
        Dalam suatu pendidikan terdapat suatu lingkungan yang biasa kita sebut Tri pusat pendidikan, yaitu:
Ø  Lingkungan keluarga:merupakan lingkungan pendidikan yang pertama karena dalam anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan.
Ø  Lingkungan sekolah :merupakan bagian darli pendidikn dalan keluarga dan merupakan lanjutan pendidikan dalam keluarga serta merupkan jembatan bagi anak yang menghubungkan kehiupan keluarga dan masyarakat.
Ø  Lingkungan masyaraakt:apabila anak tidak di bawah pengawasan orang tua dan anggota keluarga yamg serta tidak di bawah pengawasan guru dan petugs sekolah yang lain.Lingkungn ini tidak berperan dalam mendidik hanya memberi pengaruh.
Selain lingkungan di atas dapat dibedakan sebagai berikut:
1.      alam :lingkungan ini bersifat klimatologis,geografis dan keadaan tanah
2.      Lingkungan sosisal:lingkungan ini dibagi dua yaitu sosial keluarga dan masyarakat
Peran Pembawaan dalam Perkembangan
        Pembawaan atau bakat adalah merupakan potensi-potensi , atau kemungkinan-kemungkinan yang memberikan kemungkinan kepada seseorang untuk berkembang menjadi sesuatu. Berkembang tidaknya potensi yang ada pada anak masih sangat tergantung pada faktor-faktor pendidikan yang lain. 
Beberapa aspek Perkembangan
Aspek perkembangan yaitu : perkembangan motorik, pengamatan, berfikir, kepribadian dan kedewasaan.
·         Perkembangan motoprik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan
·         Perkembanagn pengamatan, ingatan dan fantasi 
·         Penghamatan, perkembangan pengamatan sama halnya pada perkembangan motorik pada permulaan. Yaitu mula-mula bersifat umum, global, yang selanjutnya menuju kehal-hal yang khusus. 
·         Ingatan, berkembang sesuai umur semakin bertambah usia anak maka makin bertambah juga kemampuan daya ingatnya 
·         Fantasi,mulai berkembang pada usia kurang lebih tiga tahun dan selanjutnya terus berkembang. 
·         Perkembangan berfikir, kemampuan berfikir ini juga berkembang sesuai dengan pertambahan usia. Mulai kanak-kanak hinga pada akhir nya tercapaikepribadian yang bulat 
·         Perkembangan kepribadian, perkembangan selalu menyangkut kehidupan aku pribadi (ego) dalam hubungannya dengan kehidupan sekitar. Pada mulanya sifat ego tersebut sangattinggi, namun seiring bertambahnya usia sifat tersebut semakin berkurang akibat bertambahnya pengalaman-pengalaman hidup dalam masyarakat. 
·         Perkembangan kedewasaan, perkembangan ini tidak dapat dilepas dari perkembangan kepribadian. Terbentuknya kepribadian yang bulat, berarti pula tercapainya kedewasaan.
D.    PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK DIDIK
        Karakter setiap manusia sangatlah beragam dan kepribadian setiap individu juga berbeda-beda. Atas dasar inilah guru diwajibkan memiliki pemahaman yang baik tentang psikologi perkembangan anak didik. Pemahaman karakter ini sangat diperlukan untuk berinteraksi dengan anak didiknya.
        Keberhasilan dalam proses kependidikan sangat dipengaruhi oleh pemahaman  terhadap perkembangan psikologi. Pemahaman yang baik mengenai psikologi perkembangan sangat membantu guru untuk menyikapi setiap ada perubahan tingkah laku pada anak didik.
        Menurut seorang Filsuf Amerika, George Santayana, “Anak-anak berada di wilayah yang berbeda. Mereka adalah bagian dari satu generasi dan punya cara sendiri untuk merasakan sesuatu hal.” Apakah mempelajari dan memahami perkembangan anak itu perlu? Kenapa perkembangan anak harus kita pelajari? Di dalam kehidupan, fase yang paling penting adalah masa anak-anak.
        Perkembangan merupakan pola perubahan kognitif, biologis, dan sosio emosional yang berawal sejak lahir dan berlanjut terus sepanjang hidup. Perkembangan biasanya disamakan dengan pertumbuhan walaupun pada akhirnya akan terjadi penurunan atau kematian.
      Antara pendidikan dan perkembangan anak didik harus disesuaikan, maksudnya pengajaran yang diberikan pada anak didik harus dilakukan dalam tingkatan yang terlalu tegang, terlalu sulit, menjemukan dan terlalu mudah. Semisal, pendidikan yang diberikan untuk anak TK dengan anak SD harus berbeda, begitu juga pendidikan antara anak SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa juga harus berbeda. Pola yang terjadi pada perkembangan anak sangatlah kompleks sehingga perkembangan dapat dideskripsikan sesuai dengan periodenya.
Ada beberapa proses yang terjadi pada perkembangan anak, diantaranya:
1. Proses Biologis
               Perubahan yang terjadi pada tubuh anak. Dalam hal ini, warisan genetik mempunyai peran yang penting. Pada proses ini akan terjadi perkembangan tinggi badan, berat, otak, perubahan kemampuan bergerak, serta perubahan hormon dalam masa puber.
2. Proses Kognitif
               Perubahan yang terjadi pada pola pikir, bahasa, dan kecerdasan anak. Dalam proses akan terjadi perkembangan kemampuan anak untuk memecahkan masalah matematika, mengingat puisi, merencanakan ide kreatif, dan menyusun kalimat untuk berkomunikasi.
3.   Proses Sosio Emosional
              Dalam tahapan ini akan terjadi perubahan emosi, perubahan hubungan anak dalam bersosialisasi, dan perubahan kepribadian. Perkembanga sosio emosional dapat tercermin dari perilaku seperti perkelahian anak, rasa senang yang di alami remaja ketika memperoleh nilai baik, dan ketegasan anak perempuan. Menurut seorang penyair dari Amerika, Marianne Moore, bahwa pikiran merupakan “Sesuatu yang bernyanyi.
G. ASPEK-ASPEK YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK
1. Periodisasi Perkembangan Fisik dan Psikis
           Setiap orang akan mengalami periodisasi dalam perkembangannya, begitu juga sebaliknya perkembangan masa anak-anak akan mengalami periodisasi dari mulai lahir, bicara dan mulai merangkak.
           Tugas perkembangan masa anak menurut Munandar (1985) adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsep-konsep yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain serta belajar membedakan baik dan buruk.
           Menurut Havighurts (dalam Gunarsa, 1986) tugas-tugas perkembangan pada anak bersumber pada tiga hal, yaitu : kematangan fisik, rangsangan atau tuntutan dari masyarakat dan norma pribadi mengenai aspirasi-aspirasinya.
           Perkembangan seorang anak seperti yang telah banyak terurai di atas, tidak hanya terbatas pada perkembangan fisik saja tetapi juga pada perkembangan mental, sosial dan emosional. Tugas-tugas pada masa setiap perkembangan adalah satu tugas yang timbul pada suatu periode tertentu dalam hidup seseorang, dimana keterbatasan dalam menyelesaikan tugas ini menimbulkan perasaan bahagia serta keberhasilan pada tugas berikutnya, sedangkan kegagalan akan menimbulkan ketidak bahagiaan dan kesulitan atau hambatan dalam menyelesaikan tugas berikutnya.
           Anak adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Menurut John Locke (dalam Gunarsa, 1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Augustinus (dalam Suryabrata, 1987), yang dipandang sebagai peletak dasar permulaan psikologi anak, mengatakan bahwa anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan yang bersifat memaksa.
           Sobur (1988), mengartikan anak sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan. Haditono (dalam Damayanti, 1992), berpendapat bahwa anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.
           Dalam proses perkembangan manusia, dijumpai beberapa tahapan atau fase dalam perkembangan, antara fase yang satu dengan fase yang lain selalu berhubungan dan mempengaruhi serta memiliki ciri-ciri yang relatif sama pada setiap anak. Disamping itu juga perkembangan manusia tersebut tidak terlepas dari proses pertumbuhan, keduanya akan selalu berkaitan. Apabila pertumbuhan sel-sel otak anak semakin bertambah, maka kemampuan intelektualnya juga akan berkembang. Proses perkembangan tersebut tidak hanya terbatas pada perkembangan fisik, melainkan juga pada perkembangan psikis.
2     Pengaruh Internal dan Eksternal
           Orang tua mempunyai fungsi yang penting dalam keluarga. Diantara fungsi-fungsi tersebut antara lain (dalam Soelaeman, 1987):
a.       Fungsi religius. Artinya orang tua mempunyai kewajiban memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota lainnya kepada kehidupan beragama. Soelaeman (1987) memberikan penjelasan bahwa untuk melaksanakan fungsi ini, orang tua sebagai tokoh inti dalam keluarga itu harus terlebih dahulu menciptakan iklim yang religius dalam keluarga itu, yang dapat dihayati oleh seluruh anggotanya;
b.      Fungsi edukatif. Pelaksanaan fungsi edukatif keluarga merupakan salah satu tanggung jawab yang dipikul oleh orang tua. Sebagai salah satu unsur pendidikan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Orang tua harus mengetahui tentang pentingnya pertumbuhan, perkembangan dan masa depan seorang anak secara keseluruhan. Ditangan orang tuanyalah masalah-masalah yang menyangkut anak, apakah dia akan tumbuh menjadi orang yang suka merusak dan menyeleweng atau ia akan tumbuh menjadi orang baik;
c.       Fungsi protektif. Soelaeman (1987) memberikan gambaran pelaksanaan fungsi lingkungan, yaitu dengan cara melarang atau menghindarkan anak dari perbuatan-perbuatan yang tidak diharapkan, mengawasi atau membatasi perbuatan anak dalam hal-hal tertentu menganjurkan atau menyuruh mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang diharapkan mengajak bekerja sama dan saling membantu, memberikan contoh dan tauladan dalam hal-hal yang diharapkan;
d.      Fungsi Sosialisasi. Tugas orang tua dalam mendidik anaknya tidak saja mencakup pengembangan pribadi, agar menjadi pribadi yang mantap tetapi meliputi pula mempersiapkannya menjadi anggota masyarakat yang baik. Sehubungan dengan itu perlu dilaksanakan fungsi sosialisasi anak. Melaksanakan fungsi sosialisasi itu berarti orang tua memiliki kedudukan sebagai penghubung anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial, dan membutuhkan fasilitas yang memadai;
e.       Fungsi ekonomis. Meliputi; pencarian nafkah, perencanaan serta pembelajarannya. Keadaan ekonomi sekeluarga mempengaruhi pula harapan orang tua akan masa depan anaknya serta harapan anak itu sendiri. Orang tua harus dapat mendidik anaknya agar dapat memberikan penghargaan yang tepat terhadap uang dan pencariannya, disertai pula pengertian kedudukan ekonomi keluarga secara nyata, bila tahap perkembangan anak telah memungkinkan.
           Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi orang tua pada anaknya antara lain menanamkan kehidupan beragama, memberikan pendidikan dalam masa perkembangan anak, menjadi penghubung dalam kehidupan sosial anak, dan memberikan nafkah secara ekonomi demi keberlangsungan anak
Pengaruh Musik Pada Anak
           Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada "miring". Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik. 
           "Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony", demikian kata Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. "Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh". Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Kita masih ingat dengan "head banger", suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam disekelilingnya. "Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony", ujar Ev. Andreas Christanday. 
3.      Nilai Dan Nilai-nilai Agama
           Anak mampu memperhatikan perilaku keagamaan yang diterima melalui inderanya, anak mulai meniru perilaku keagamaan secara sederhana dan mulai mengekspresikan rasa sayang dan cinta kasih, anak mampu meniru secara terbatas perilaku baik atau sopan, anak mampu meniru dan mengucapkan bacaan doa/lagu keagamaan dan gerakan beribadah secara sederhana, mulai berperilaku baik atau sopan bila diingatkan, anak mampu mengucapkan bacaan doa/lagu-lagu keagamaan, meniru gerakan beribadah, mengikuti aturan serta mampu belajar berperilaku baik dan sopan bila diingatkan, anak mampu melakukan perilaku keagamaan secara berurutan dan mulai belajar membedakan perilaku baik dan buruk.
4.      Sosial Ekonomi
        Anak mampu membangun interaksi dengan merspon kehadiran orang lain, anak mampu berinteraksi dengan lingkungan terdekatnya (keluarga), dan menunjukkan keinginannya dengan kuat, anak mampu berinteraksi dan mengenal dirinya, dan menunjukkan keinginannya dengan kuat, anak mampu berinteraksi, dapat menunjukkan rekasi emosi yang wajar, serta mulai menunjukkan rasa percata diri serta mulai dapat menjaga diri sendiri anak mampu berinteraksi dan mulai mematuhi aturan, dapat mengendalikan emosinya, menunjukkan rasa percaya diri dan dapat menjaga diri sendiri.
5.      Kognitif
        Anak mampu menyadari keberadaan benda yang tidak dilihatnya, anak bereksplorasi melalui indera dan motoriknya terhadap benda yang ada disekitarnya. Anak mampu mengenal benda dan memanipulasi obyek/benda, anak mampu mengenal konsep sederhana dan dapat mengklasifikasi,aAnak mampu mengenal dan memahami berbagai konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari, anak mampu memahami konsep sederhana dan dapat memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
6.      Bahasa
        Anak mampu merespon suara, anak mampu mengerti isyarat dan perkataan orang lain serta mengucapkan keinginannya secara sederhana, anak dapat mendengarkan, dan berkomunikasi secara lisan dengan kalimat sederhana, anak dapat mendengarkan, berkomunikasi secara lisan serta memiliki perbendaharaan kosa kata yang semakin banyak, anak dapat berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata-kata dan mengenal symbol-simbol, anak dapat berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal symbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.
7.      Fisik
        Anak mampu menggerakkan tangan, lengan, kaki, kepalan dan badan, anak mampu menggerakan anggota tubuhnya dalam rangka latihan kekuatan otot tangan, otot punggung dan otot kaki untuk menjaga keseimbangan, anak mampu melakukan gerakan seluruh anggota tubuhnya secara terkoordinasi, anak mampu melakukan gerakan secara terkoordinasi dalam rangka kelenturan, keseimbangan dan kelincahan.
8.      Seni
        Anak mampu bereaksi terhadap irama yang didengarnya, anak mampu meniru suara dan gerak secara sederhana, anak mampu melakukan berbagai gerakan anggota tubuhnya seseuai dengan irama dapat mengekspresikan diri dalam bentuk goresan sederhana, anak mampu melakukan berbagai gerakan sesuai irama , menyajikan dan berkarya seni, anak mampu mengekspresikan diri dengan menggunakan berbagai media/bahan dalam berkarya seni melalui kegiatan eksplorasi, anak mampu mengekspresikan diri dan berkreasi dengan berbagai gagasan dan menggunakan berbagao media/bahan menjadi suatu karya seni.
9.       Membangun Harga Diri Anak
           Sebagai orang tua tentunya kita semua tahu apa yang terbaik untuk anak kita, karena setiap anak adalah unik, mereka memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, kemampuan dan bakat yang berbeda, sifat yang berbeda. Karena itu yang paling memahami anak adalah orang tuanya sendiri.
Namun, berikut adalah sedikit tips dan trick yang mungkin dapat berguna bagi orang tua:
Do…
·         Cintailah anak apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
·         Tunjukkanlah kepada mereka bahwa anda mencintainya.
·         Berhati-hatilah dengan perkataan anda, orangtua adalah manusia yang tentunya juga bisa khilaf saat marah, namun berusahalah untuk selalu menjaga perkataan anda, karena terkadang kata-kata yang ‘menjatuhkan’ bisa membekas di hati mereka.
·         Berilah pujian atas keberhasilan mereka.
·         Dengarkan lah cerita mereka, berikan simpati atas masalah yang mereka hadapi.
·         Berikan dorongan kepada mereka untuk berpikir sendiri dan melakukan hal-hal yang mereka senangi.
·         Berikan kesempatan untuk mereka melakukan hal-hal yang baru, jangan tergesa-gesa menawarkan bantuan.
·         Luangkan waktu untuk bersama mereka, sekedar bersantai dan bermain, atau bertukar cerita.
·         Berilah mereka tanggung jawab sesuai dengan umurnya.
·         Ajari mereka bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya meminta maaf pada teman saat melakukan kesalahan.
Don’t…
·         Jangan hanya mencintainya pada saat dia melakukan hal-hal yang sesuai keinginan anda.
·         Jangan membandingkan anak dengan orang lain.
·         Jangan melontarkan kritikan yang tidak membangun, seperti: “Kamu pemalas, tidak berguna”.
·         Jangan menyalahkan anak atas sesuatu yang anda lakukan.
E.     TEORI-TEORI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KANAK-KANAK

1. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget
              Jean Piaget percaya fungsi kecerdasan adalah untuk membantu menyesuaikan diri iaitu adaptasi kanak-kanak terhadap persekitaran. Fokus penyesuaian adalah berdasarkan perkembangan kognitif yang dilihat bersama-sama dengan respon kompleks yang dialami terhadap persekitaran. Dengan meningkatnya pembelajaran dan kematangan kanak-kanak, kedua-dua kecerdasan dan manifestasinya menjadi berbeza-beza. Piaget percaya perkembangan berlaku dalam tahap-tahap yang mengalami perubahan melalui equilibration iaitu penyeimbangan, keadaan yang menyebabkan kanak-kanak mencari suatu keseimbangan di antara apa yang dialami dalam persekitaran dengan proses dan struktur kognitif yang dihadapinya.
              Menurut Jean Piaget, proses keseimbangan aitu asimilasi dan akomodasi berkaitan antara perubahan dengan perkembangan kognitif. Asimilasi dari sudut biologi adalah integrasi antara elemen-elemen eksternal (dari luar) terhadap struktur yang sudah lengkap pada organisme.  Asimilasi kognitif meliputi objek eksternal menjadi struktur pengetahuan internal.  Proses asimilasi ini didasarkan atas kenyataan bahawa setiap saat manusia selalu mengasimilasikan informasi-informasi yang sampai kepadanya, kemudian informasi-informasi tersebut dikelompokkan ke dalam istilah-istilah yang sebelumnya telah mereka ketahui.
              Manakala akomodasi adalah menciptakan langkah baru atau memperbaharui atau menggabung-gabungkan istilah lama untuk menghadapi cabaran baru. Akomodasi kognitif bermaksud mengubah struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya untuk disesuaikan dengan objek stimulus eksternal. Jika pada asimilasi berlaku perubahan pada objeknya, maka pada akomodasi perubahan terjadi pada subjeknya, sehingga ia dapat menyesuaiakan diri dengan objek yang ada di luar dirinya. Struktur kognitif yang sudah ada dalam diri seseorang mengalami perubahan supaya sesuai dengan rangsangan-rangsangan objeknya. Jean Piaget membahagikan perkembangan kognitif kepada empat tahap iaitu sensori motor, praoperasi, operasi konkrit dan operasi formal.
Tahap sensori motor bermula sejak lahir hingga kanak-kanak berumur dua tahun. Menurut Piaget, kanak-kanak pada tahap ini lebih berfokus terhadap apa yang dipersepsikan melalui deria. Bayi tidak mempunyai deria terhadap pengekalan objek, iaitu suatu keadaan di mana objek-objek memang wujud walaupun tidak dapat dipersepsikan oleh bayi. Pada akhir tahap ini, iaitu dalam lingkungan 18 hingga 24 bulan, kanak-kanak mula menunjukkan tanda-tanda representasi iaitu representasi dalaman terhadap rangsangan luaran. Pada masa ini, kanak-kanak mula memikirkan tentang orang dan benda tetapi tidak semestinya dapat mempersepsi pada masa tersebut. Ini adalah masa peralihan kepada tahap praoperasi seseorang kanak-kanak.
              Pada tahap praoperasi, iaitu umur dalam lingkungan dua tahun hingga lebih kurang enam atau tujuh tahun kanak-kanak mula membina representasi mental secara dalaman dengan aktif yang telah mula beroperasi pada akhir tahap sensori motor. Dengan adanya pemikiran representasi maka muncul komunikasi verbal. Namun, komunikasi tersebut lebih egosentrik. Pada tahap ini kanak-kanak akan bercakap mengikut mindanya dengan tidak mempedulikan apa yang disebut oleh orang lain. Pada tahap ini juga, keupayaan kanak-kanak untuk memanipulasikan konsep masih terhad. Kanak-kanak memberi tumpuan pada satu aspek yang dapat dilihat daripada objek atau situasi yang disebut centration. Pada tahap ini banyak perubahan perkembangan berlaku. Kanak-kanak semakin aktif dan mengalami pelbagai ujian, bereksperimen dengan menggunakan bahasa dan objek atau benda di persekitarannya.
              Tahap operasi konkrit bermula pada umur tujuh atau lapan dan sehingga 11 tahun atau 12 tahun. Kanak-kanak dapat memanipulasi dan membentuk representasi mental secara dalaman. Mereka mempunyai pelbagai pemikiran dan memori tentang objek-objek yang konkrit seperti komputer, perabot dan sebagainya. Dalam eksperimen konservasi kuantiti yang dilakukan oleh Piaget, kanak-kanak dapat mengabadikan dalam minda kuantiti dan memerhatikan perubahan dalam bentuk luaran objek atau benda-benda lain. Pada mulanya, kanak-kanak bergantung pada persepsi segera seperti rupa bentuk objek secara luaran. Dengan perlahan-lahan mereka membentuk peraturan dan skema dalaman tentang apa dan bagaimana sesuatu perkara berlaku. Seterusnya, mereka akan menggunakan skema dalaman untuk memberi panduan tentang penakulannya daripada bentuk luaran sahaja. Kanak-kanak pada tahap operasi konkrit ini dapat memanipulasi representasi dalaman objek-objek yang konkrit untuk mengesan dan mengenal pasti kuantiti-kuantiti yang terkandung di dalamnya.
              Tahap yang terakhir ialah tahap operasi formal yang bermula pada umur 11 tahun atau 12 tahun dan seterusnya. Tahap ini melibatkan operasi mental pada tahap yang abstrak dan simbol yang mungkin tidak mempunyai bentuk fizikal dan konkrit. Kanak-kanak memahami perkara-perkara yang mungkin mereka tidak terlibat dan alami secara langsung. Selain itu, kanak-kanak ini dapat membentuk dan mencari untuk mewujudkan representasi mental pada situasi yang dihadapinya dengan logik. Oleh itu, perkembangan kognitif adalah berasaskan tahap demi tahap. Bagi Piaget, tahap-tahap ini berlaku pada usia yang sama bagi kanak-kanak. Setiap tahap berlaku dalam bentuk yang sama dan tidak berubah-ubah. Apabila kanak-kanak memasuki tahap baru, kanak-kanak memikirkan cara-cara dan ciri-ciri yang dikenal pasti dalam tahap berkenaan dengan nyata dan berkesan.
2.      Teori Kematangan Arnold Gesell
              Arnold Gesell atau nama sebenarnya ialah Arnold Lucias Gesell. Beliau dilahirkan pada 21 Jun 1880, di Alma, Wisconsin. Beliau merupakan seorang pakar kanak-kanak yang merintis kajian mengenai proses perkembangan manusia semenjak lahir sehingga remaja. Beliau memfokuskan kajian secara saintifik dalam bidang perkembangan kanak-kanak. Keluarganya amat menghargai akan pendidikan . Pada awalnya Gessell membuat keputusan untuk menjadi seorang guru. Beliau berkelulusan dari University of Wisconsin pada tahan 1903 dan kemudiannya menjadi pengetua dan guru di sekolah tinggi sebelum beliau memasuki Clark University dimana Gasell telah menerima Phd pada tahun 1906 di university tersebut.
              Arnold Gasell percaya bahawa dalam usaha untuk membuat kajian dalam perkembangan kanak-kanak, beliau perlu mengetahui mengenai perubatan. Oleh itu, beliau telah menyambung pendidikannya dalam bidang perubatan di Yale dan menerima M.D pada tahun 1915. Setelah menamatkan pengajian, beliau memulakan kerjaya dengan mengajar psikologi dan kebersihan kanak-kanak di Los Angeles State Normal School. Gesell telah menyertai salah sebuah fakulti yang terdapat di Yale dan beliau menjadi penolong professor pendidikan pada tahun 1911 dan menubuhkan dan menguruskan Yale Clinic Of Child Development pada tahun yang sama hingga tahun 1948. Dari tahun 1948 hingga ke akhir hayatnya, Gesell merupakan pengarah kepada Gesell Institute Of Child Development di New Haven, Connecticut iaitu sebuah insitut yang mengkaji perkembangan kanak-kanak. Gasell telah meninggal dunia pada 29 May 1961.
              Dalam teori kematangan ini, Gesell memfokuskan kepada kematangan individu dimana dalam proses kematangan ini ia dipengaruhi oleh dua faktor iaitu faktor baka dan persekitaran yang menjadi penggerak utama kepada pertumbuhan dan perkembangan fizikal kanak-kanak itu. Faktor baka atau dikenali sebagai gen ini akan diwarisi oleh kanak-kanak sejak pembentukan mereka di dalam rahim iaitu semasa proses persenyawaan sehingga proses kelahiran. Mereka akan mewarisi segala sifat, perwatakan,kebolehan dan kematangan yang dimiliki oleh ibu dan bapanya semenjak lahir hingga dewasa. Bagi melengkapkan lagi proses kematangan ini, ia juga dipengaruhi oleh persekitaran yang memainkan peranan untuk membantu proses kematangan bayi itu.
              Faktor persekitaran ini merujuk kepada persekitaran bayi di dalam rahim ibu dimana pengambilan makanan yang dilakukan oleh ibu, kesihatan dan bekalan oksigen yang cukup kepada bayi dalam rahim amat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan mereka. Menurut beliau, proses kematangan ini tidak boleh dipaksa kerana beliau berpendapat bahawa kematangan ini akan berlaku apabila kebolehan kanak-kanak itu sampai kepada titik dan kematangan tertentu iaitu mengikut pola dan urutan yang tersendiri. Ini bermakna selagi sistem saraf dan kematangan fizikal bayi belum bersedia maka ibu bapa tidak boleh memaksa bayi untuk melakukan sesuatu kemahiran tertentu.
              Dengan itu, Gesell lebih menitikberatkan keupayaan ibu bapa untuk mengajar kanak-kanak akan perkara terdahulu daripada jadual. Contohnya kanak-kanak akan duduk, berjalan, dan bercakap apabila mereka bersedia dan sistem saraf sudah matang dengan sepenuhnya. Pada masa yang sama mereka mula menguasai sesuatu tugasan yang datang dari keinginan diri sendiri. Sehingga pada masa itu pengajaran tidak memberi makna mungkin menimbulkan ketegangan antara pengasuh dan kanak-kanak. Contohnya dalam satu kajian yang dijalankan oleh Balinsky (1983) memberi seorang kanak-kanak kembar dengan membuat latihan aktiviti seperti memanjat tangga dan memegang serta memanipulasi kiub.
              Anak kembar ini dapat menunjukkan beberapa kemahiran lebih daripada yang seorang lagi kanak-kanak kembar yang tidak dilatih, ia juga akan menguasai kemudian tanpa banyak latihan. Kanak-kanak tersebut akan berbuat demikian pada umur semasa. Dengan jelasnya, terdapat jadual waktu dalaman yang menentukan kesediaan untuk membuat sesuatu manakala kebaikan latihan awal bersifat sementara sahaja. Soal stimulasi awal konterversi awal impaknya usaha untuk mempercepatkan perkembangan motor awal mengeluarkan kesan kecil ( Cole & Cole, 1989).
Peringkat – Peringkat Teori Kematangan Arnold Gesell
   Menurut teori kematangan yang dibuat oleh Arnorld Gesell, beliau telah membahagikan kepada 5 peringkat dalam proses perkembangan kanak-kanak.  Peringkat pertama lahir sehingga 1 tahun iaitu 1 bulan menghasilkan tangisan berbeza-beza untuk menyatakan kehendak berlainan seperti lapar dan juga lampinnya basah, 4 bulan koordinasi fizikal berlaku seperti mata mengikut objek yang bergerak, 6 bulan bayi mula menggenggam objek, 7 bulan bayi boleh duduk & merangkak dan 12 bulan bayi mampu berdiri dengan berpaut pada perabot. Antara pergerakan yang terlibat semasa aktiviti di peringkat ini adalah psikomotor kasar dan psikomotor halus.
   Peringkat kedua, 1 - 2 tahun iaitu kemantangan fizikal dan mental mula meningkat, mula memahami makna ‘jangan’ dan pada umur 2 tahun mampu untuk berjalan tetapi dengan bantuan. Peringkat ketiga, 2 - 3 tahun iaitu koordinasi mata, tangan dan kaki mula terbentuk, boleh bercakap menggunakan ayat mudah dan boleh menguruskan diri seperti makan dan memakai kasut.  Peringkat keempat, 3 – 4 tahun iaitu koordinasi dan kematangan fizikal semakin kukuh dan boleh menuruti arahan mudah daripada ibu bapa.  Peringkat kelima, 4 – 5 tahun iaitu proses berinteraksi terbentuk, mula bersosialisasi, mengemukakan soalan berperingkat-peringkat dan bersedia untuk ke kelas prasekolah.
3.      Teori Perkembangan Robert Havighurst
              Robert Havighurst dilahirkan pada 5 Jun 1900. Seterusnya membesar dan menerima ijazah Ph.D dalam bidang kimia pada tahun 1924 di Universiti Ohio. Setelah beberapa tahun, pada tahun 1974 Havighurst telah mendapat gelaran Profesor Emiritus in Development and Education dan berjaya menerbitkan buku hasil dari penulisan dan pengalaman beliau bertajuk “ Human Development and Education ” pada tahun 1953.
              Robert Havighurst menyatakan bahawa perkembangan seseorang kanak-kanak adalah dipengaruhi oleh faktor persekitaran. Ini adalah merupakan satu elemen penting yang berperanan dalam pertumbuhan dan perkembangan kanak-kanak. Beliau memfokuskan kepada keadaaan sekeliling atau persekitaran dimana tempat seseorang kanak-kanak itu membesar yang akan memberi dan meninggalkan impak samaada positif atau negatif bergantung kepada ibu bapa yang mencorakkan mereka. Menurut Robert Havighurst di dalam buku psikologi perkembangan halaman 19-25 menyatakan bahawa contoh persekitaran yang mempengaruhi kanak-kanak dapat dilihat dari segi pemakanan, rakan sebaya, guru, bahan bacaan dan media elektronik ( internet ).
              Bagi faktor persekitaran seperti pemakanan ianya dapat dilihat jika makanan yang diambil oleh ibu semasa mengandung adalah seimbang dan berzat maka, bayi di dalam kandungan akan membesar dengan sempurna dan sihat. Jika sebaliknya, berkemungkinan bayi akan mendapat penyakit seperti PKU. Ini adalah kerana kurangnya enzim di dalam badan bayi selepas di lahirkan. Seterusnya, bagi pemakanan untuk kanak-kanak adalah perlu diberi dengan makanan yang seimbang berdasarkan piramid makanan. Dari sini, ianya akan membantu kanak-kanak membesar dengan sihat dan cergas. Di samping itu, ianya dapat membantu dalam perkembangan kanak-kanak ke arah yang positif.
              Seterusnya, bagi faktor persekitaran seperti rakan sebaya pula, Havighurst menyatakan ini adalah kerana jika seseorang kanak-kanak itu berkawan dengan rakan yang manja, maka kanak-kanak itu akan sedikit sebanyak cenderong untuk menjadi manja dan inginkan belaian dan kasih saying dari ibunya. Jika dia tidak mendapat apa yang diinginkan seperti apa yang diperoleh olah kawannya, maka kanak-kanak itu akan cuba untuk memberontak. Ini terbuki bahawa paktor persekitaran memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan seseorang kanak-kanak.
              Selain dari itu, faktor persekitaran seperti bahan bacaan adalah sangat penting kerana ianya akan memberi pengaruh yang besar kepada pembaca. Jika bahan yang dibaca berfaedah dan bermanfaat maka selamatlah kanak-kanak tersebut. Sebaliknya jika tidak, ianya akan mempengaruhi perkembangan seseorang kanak-kanak seperti berkemungkinan lambat bertutur dan sebagainya. Dari sini, kita sebagai ibu bapa dan guru perlulah sentiasa membimbing dan membantu kanak-kanak dalam membentuk peribadi mereka supaya menjadi insan yang berguna kepada masyarakat, bangsa dan negara kelak. Menurut Havighurst, ibu bapa mahupun guru terutamanya perlulah menyediakan persekitaran yang kondusif dan selamat untuk kanak-kanak membesar dengan sempurna. Ini akan membantu kanak-kanak untuk berjaya.
              Ini dibuktikan lagi dalam Teori Robert Havighurst menyatakan bahawa setiap individu perlu membesar dan berkembang dengan melalui sebanyak 10 peringkat yang bermula dari peringkat bayi sehinggalah ke peringkat tua seterusnya meninggal dunia. Beliau memberitahu bahawa, jika seseorang individu itu tidak dapat mencapai tugas-tugas dalam setiap peringkat, maka dia akan berasa sedih dan kecewa. Ini akan cenderong kepada perkembangan kanak-kanak tersebut menjadi lewat dan tidak setaraf dengan kanak-kanak normal. Maka untuk membanteras gejala ini dari berlaku, guru perlulah menyediakan aktiviti yang bersesuaian dengan peringkat kanak-kanak seperti aktiviti dalam bentuk permainan mahupun lakonan. Hal ini dapat membentuk kreativiti kanak-kanak.
              Havighurst menyatakan bahawa tugas-tugas dalam perkembangan kanak-kanak hanya perlu dipelajari sekali sahaja seperti berjalan, berlari, perbezaan jantina dan sebagainya. Jadi ini dapat disimpulkan bahawa setiap perkembangan yang dialami oleh kanak-kanak perlulah dengan relaan kanak-kanak itu sendiri, bukan dengan paksaan yang diberikan oleh ibu bapa kerana dengan paksaan akan membuatkan kanak-kanak itu tidak berupaya untuk berdikari sendiri dan akan memberi kesan yang dalam terhadap perkembangan mereka.
Peringkat–Peringkat Teori Perkembangan Robert Havighurst
              Havighurst telah membahagikan kepada 10 peringkat dalam perkembangan kanak-kanak.  Peringkat pertama bayi dan awal kanak-kanak ( lahir – 2 tahun). Pada peringkat ini, bayi menjalinkan kasih sayang dengan ibu bapa, adik beradik dan pengasuhnya. Sistem deria dan fungsi motor beransur-ansur matang. Pada tahap ini kanak-kanak sepatutnya mencapai kecerdasan deria dan memahami sifat objek. Sebagai contoh adik ketawa sebab suka. Terdapat pelbagai aktiviti yang boleh dilakukan oleh ibu bapa terhadap anak mereka seperti membantu mereka makan, bermain bersama dan membantu anak-anak mandi dengan betul.
              Peringkat kedua pertengahan kanak-kanak “ Toddlerhood” (2-3 tahun). Kanak-kanak boleh melakukan pergerakan yang pelbagai seperti turun naik tangga. Kanak-kanak juga boleh berkomunikasi dengan bahasa mudah. Penglibatan mereka dalam permainan fantasi mula mengawal pergerakan diri. Sebagai contoh menjadikan pisang sebagai telefon dan roda atau pelampung sebagai stereng kereta. Ini mendorong kepada pembentukan daya imaginasi kanak-kanak. Cadangan aktiviti adalah bermain kereta mainan,lego atau blok. Dari sini, alat permainan mampu meningkatkan kemahiran motor halus mahupun kasar kanak-kanak.
              Peringkat ketiga prasekolah (4 – 6 tahun ). Kanak-kanak mula belajar peranan mengikut jantina masing-masing .Misalnya kanak-kanak perempuan meniru peranan ibu seperti memasak, membasuh kain dan mengemas rumah. Kanak-kanak juga mula bermain dengan rakan di luar dan wujudnya perkembangan moral. Pada peringkat awal perkembangan moral, iaitu jika mereka jahat mereka akan didenda. Mereka mula bermain dalam kelompok atau kumpulan kanak-kanak yang lain. Sebagai contoh, apabila ibu memasak anak akan datang membantu seperti membasuh sayur, mengupas bawang dan meramas santan .Melalui aktiviti ini,kemahiran motor halus dan kasar dapat ditingkatkan.
              Peringkat keempat sekolah rendah ( 6 – 12 tahun ). Kanak-kanak mula belajar bersahabat. Dari segi kognitif,kanak-kanak ini berada pada tahap operasi konkrit iaitu mula menguasai 3M seperti membaca, menulis dan mengeja. Pada peringkat ini,kemahiran permainan dan kognitif terbentuk kerana perkembangan fizikal dan dengan adanya galakkan daripada ibubapa. Kanak-kanak turut mengalami perkembangan kendiri yang positif seperti menjaga kesihatan.            Peringkat kelima awal remaja ( 12 – 18 tahun ). Pada tahap ini, remaja akan mencapai tahap kematangan fizikal seperti tinggi yang maksimum. Dari segi kognitif pula, mereka berada pada peringkat operasi formal. Dari segi emosi, wujudnya berbagai emosi dalam diri remaja seperti ingin Berjaya dan mereka mampu untuk kawal emosi. Remaja pada peringkat ini akan membentuk kumpulan rakan sebaya dan mula tertarik pada lain jantina.
              Peringkat keenam akhir remaja (18 – 22 tahun). Remaja cuba mempengaruhi otonomi daripada ibu bapa. Remaja mula membentuk identiti mengikut jantina iaitu lelaki atau perempuan.Melalui pergaulan sosial, remaja akan mematuhi nilai moral masyarakat. Pada peringkat ini juga,mereka mula memilih kerjaya yang sesuai dengan diri mereka.
              Peringkat ketujuh awal dewasa ( 22 – 34 tahun ). Pada peringkat ini,seseorang akan meneroka persahabatan intim yang berlainan jantina.Bagi pasangan yang telah berkahwin akan mengasuh dan mendidik anak- anak.Selain itu,individu berusaha memantapkan profesion serta wujud kehidupan sendiri.
              Peringkat kelapan pertengahan dewasa ( 34 – 60 tahun). Peringkat ini, individu mempunyai berkemahiran dalam pekerjaan dan menjadi ketua. Seseorang individu yang berjaya mampu memupuk kebahagiaan dalam rumahtangga, mengasihi keluarga dan mengumpul harta. Individu peringkat ini banyak terlibat dengan kerja amal.
              Peringkat kesembilan akhir dewasa ( 60 – 75 tahun ). Individu pada peringkat ini telah bersara dan lebih menumpukan masa kepada kerja-kerja amal dan ibadat. Individu turut menjalani kehidupan hari tua, mensyukuri nikmat dan takdir Allah. Selain itu,individu pada peringkat ini berfikir tentang perkara yang telah dilakukan semasa hidupnya.
              Peringkat kesepuluh tua ( 75 tahun – meninggal dunia ). Pada peringkat ini mereka mula menangani masalah kesihatan seperti osteoporosis, nyanyok dan menopause. Mereka turut mengenang zaman muda dan dewasa. Bagi individu yang berjaya mereka akan berasa puas hati dan tenang sambil menanti saat untuk meninggal dunia.

4.      Teori Perkembangan Kanak-Kanak Psikososial Erikson
              Erik Erikson merupakan seorang tokoh psikologi yang membentuk satu teori yang komprehensif tentang perkembangan manusia berdasarkan jangkamasa kehidupan mereka. Beliau membentuk teori berdasarkan kepada pengalaman kehidupannya sendiri. Teori beliau digelar psikososial kerana beliau menggabungkan 3 faktor yang mempengaruhi perkembangan individu iaitu faktor kendiri, emosi dan faktor sosial
              Salah satu elemen penting dalam peringkat teori perkembangan erikson ialah perkembangan identiti ego. Identiti ego ialah kesedaran diri yang dikembang melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, identiti ego individu biasanya berubah selaras dengan pengalaman dan maklumat baru yang diperoleh hasil daripada interaksi dengan orang lain. Tambahan kepada identiti ego, Erikson juga percaya bahawa perasaan yakin kepada kemahiran dan kecekapan diri juga memotivasikan sikap dan tindakan seseorang.
              Setiap peringkat dalam teori  Erikson menitikberatkan perkembangan kemahiran yang sesuai pada sesuatu tahap atau bahagiam dalam kehidupan. Jika sesuatu peringkat dikawal dengan baik individu tersebut  mempunyai masteri (sense of mastery). Sebaliknya jika sesuatu peringkat gagal diurus dengan baik, individu tersebut akan mempunyai  perasaan ketidakcukupan. Menurut Erikson, setiap tahap mempunyai konflik dan konflik ini mesti diatasi sebelum individu  dapat berfungsi dengan jayanya pada tahap berikutnya. Kegagalan mengatasi konflik pada tahap sesuatu tahap akan menjejaskan perkembangan tahap yang berikutnya.

Tahap-Tahap Perkembangan Psikososial Erikson
              Terdapat 8 jenis dalam tahap-tahap perkembangan psikososial Erikson. Antaranya ialah psikososial tahap
1.      percaya lawan tidak percaya         
              Tahap pertama teori perkembangan psikososial Erikson adalah di antara waktu kelahiran sehingga berusia 1 tahun. Ia adalah tahap pertama di dalam kehidupan. Oleh kerana bayi sepenuhnya bergantung pada orang lain, perkembangan rasa percaya yang dibentuk olehnya adalah berasaskan kepda kepercyaan dan kualiti penjaga kepda bayi tersebut. Oleh kerana bayi sepenuhnya bergantung pada orang lain, perkembangan rasa percaya yang dibentuk olehnya adalah berasaskan kepada keupayaan dan kualiti penjaga kepada bayi tersebut.
              Apabila seorang bayi berjaya membangunkan perasaan percaya, dia akan rasa selamat dan dilindungi di dalam dunia ini. Penjagaan yang tidak stabil, emosi terganggu dan rasa terasing yang akan menyebabkan bayi yang dijaga mempunyai perasaan tidak percaya pada persekitarannya. Kegagalan mengembangkan rasa percaya akan melahirkan perasaan takut dan yakin bahwa dunia ini tidak tenteram dan tidak dapat diramal dan dipercyai.
2.      Psikososial tahap 2  autunomi lawan rasa malu/sangsi
        Tahap kedua teori perkembangan psikososial Erikson adalah di sepanjang peringkat awal kanak-kanak dan ia tertumpu pada pembentukan perasaan keyakinan diri pada kanak-kanak tersebut. Sama seperti Freud, Erikson juga percaya latihan ke tandas merupakan bahagian penting dalam proses ini. Namun alasan yang diberikan oleh Erikson adalah berbeza dengan Freud. Erikson percaya bahawa pembelajaran untuk mengawal fungsi tubuh seseorang akan membawa kepada tindak balas terkawal dan kemahuan untuk berdikari.
              Kaedah lain yang penting termasuk memberi lebih banyak peluang kepada              kanak-kanak untuk membuat pilihan makanan, permaianan dan pakaian.                          Kanak-kanak yang berjaya melengkapkan tahap ini akan rasa selamat dan                                    yakin, sementara mereka yang gagal akan mempunyai perasaan                                                ketidakcukupan dan rasa sangsi.
3.      Psikososial tahap 3 inisiatif lawan rasa bersalah
         Kanak-kanak pada tahap ini mula berinteraksi dan terdedah kepada persekitaran. Mereka cuba mengambil banyak inisiatif untuk melakukan sesuatu yang baru bagi memenuhi naluri ingin tahu mereka. Namun jika ibu bapa mengkritik atau menggunakan dendaan atau kekerasan terhadap tingkah laku mereka, ini akan menyebabkan kanak-kanak tadi mempunyai perasaan bersalah pada diri dan tidak berinsiatif atau takut untuk melakukan sesuatu aktiviti.
4.      Psikososial tahap 4  industri lawan rasa rendah diri (6-12 tahun)
        Pada tahap ini kanak-kanak mula memasuki alam persekolahan, Pada tahap ini kanak-kanak perlu menguasai kemahiran asas seperti membaca, menulis dan mengira. Tahap pemikiran mereka mula mencapai operasi konkrit dan mula berfikiran logik. Mereka melakukan sesuatu dengan penuh minat, yakin dan tekun. Tanpa bimbingan dan galakan daripda ibu bapa, guru dan rakan sebaya akan menyukarkan keupayaan, keyakian dan kebolehan kanak-kanak tersebut untuk berjaya.
5.      Psikososial tahap 5  identiti lawan kekeliruan (12-20 tahun)
         Pada tahap ini, remeja sama ada remaja awal atau reamaja akahir akan berusaha mencari identiti dan persepsi terhadap dunia mereka sendiri. Remaja yang mempunyai identitinya akan mencipta rancangan masa depan yang memuaskan dan rasa terselamat. Sebaliknya remaja yang gagal akan memperkembangkan rasa keliruan peranan, hidup yang tidak bermatlamat, rasa tersisih dan sukar membuat keputusan.
6.      Psikososial tahap 6 kemesraan atau pengasingan diri (20 -40 tahun)
                    Mula mencari kenalan atau cinta, Membentuk corak perhubungan dan memerlukan perhubungan bermakna dan kemesraan. Pada peringkat ini, seseorang dewasa akan mendirikan rumah tangga. Dengan kata lain iaitu membolehkan orang dewasa akan berkongsi hidup bersama serta mencapai kemesraan atau kerapatan. Sebaliknya, orang yang masih bujang atau belum berkahwin akan merasa putus asa atau hidup dalam kekecewaan.
7.      Psikososial tahap 7  generativiti lawan pemusatan (40-65 tahun)
        Generativiti merujuk kepada usaha seseorang untuk memberi sumbangan atau perkhidmatan kepada generasi akan datang. Seseorang dewasa akan berpuas hati jika dapat membantu anak-anaknya menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab serta berguna kepada masyarakat. Sebaliknya, individu yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pernah memberi apa-apa bantuan kepada orang lain akan berasa kecewa dan kurang berpuas hati dengan hidupnya. Sebagai akibatnya, proses pemusatan kendiri akan berlaku pada individu tersebut.
8.      Psikososial tahap 8  kesepaduan lawan putus asa (65 tahun ke atas)
        Pada peringkat ini, seseorang dewasa akan melekukan refleksi kendiri. Dia akan mengingat kembali kejayaan dan kegagalan yang dialaminya pada peringkat awal. Jika seseorang berpuas hati dengan pencapaiannya pada peringkat awal, dia akan mencapai rasa kesepaduan. Jika sebaliknya, dia akan merasakan kegagalan dan hidup dalam berputus asa.
5.      Teori Perkembangan Kanak-Kanak Lawrence Kolhberg
              Lawrence kolhberg dianggap pelopor utama dalam menghuraikan tentang teori perkembangan moral. Beliau berpendapat moraliti berkembang secara universal mengikut satu siri dari satu tahap kepada tahap yang lebih tinggi.       Beliau juga berpendapat bahawa jika kanak-kanak dibiarkan mengalami pelbagai konflik semasa berinteraksi dengan rakan-rakan,lama-kelamaan mereka menjadi mahir dalam menghadapi dilema, iaitu ada cara penaakulan yang lebih berkesan dan kompleks. Menurut beliau lagi, pengalaman perlu jika seseorang ingin mengambil kira perspektif orang lain. Tahap moraliti bagi awal kanak-kanak ialah moraliti prakonvensional. Perlakuan dinilai berdasarkan ganjaran dan hukuman yang akan diterima akibat perlakuan tersebut.
Peringkat 1: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman
              Pada peringkat ini, pemikiran moral kanak-kanak lebih berorientasikan egosentrik yang mementingkan diri sendiri. Mereka lebih mementingkan kesan fizikal. Kanak-kanak mematuhi atau mengikut arahan kerana takutkan hukuman yang akan diterima sekiranya melanggar peraturan.
Peringkat 2: Orentasi Ganjaran Peribadi
              Individu melakukan sesuatu berdasarkan keinginan untuk mendapatkan balasan. Tingkahlaku didorong untuk memuaskan kehendak sendiri.
Pada tahap kedua ialah tahap  Konvensional
Individu mula mengaplikasi peraturan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.
Peringkat 3: Orientasi Perlakuan Baik
              Kanak-kanak atau remaja mula mengaplikasikan ukuran moral yang telah ditetapkan oleh ibu bapa, guru atau orang di persekitaran. Mereka menghargai nilai kepercayaan dan kepatuhan terhadap peraturan yang ditetapkan.
Peringkat 4: Akur kepada sistem sosial dan etika peraturan
              Perlakuan/penaakulan moral berdasarkan peraturan, undang-undang dan ketetapan yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pada peringkat ini individu percaya terhadap keutuhan undang-undang. Peraturan dan undang-undang perlu dipatuhi untuk menjaga kesejahteraan komuniti.
Tahap ketiga ialah  Pos- Konvensional
              Pada tahap ini individu mula meneroka pilihan dalam penaakulan moral. Mereka mempunyai kod moral dan etika yang tersendiri.
Peringkat 5: Etika Kontrak Sosial dan Hak Individu
              Individu berhujah menggunakan nilai, hak dan prinsip. Mereka menilai undang-undang yang ditetapkan berdasarkan hak individu. Pemikiran moral pada peringkat ini adalah berkaitan dengan usaha untuk mempertahankan hak-hak asasi, nilai-nilai yang telah dipersetujui dalam sesebuah masyarakat. Mereka melihat undang-undang sebagai sesuatu yang fleksibel dan mempunyai alternatif. Undang-undang dipatuhi sekiranya ia menepati hak-hak individu.
Peringkat 6: Etika Prinsip Sejagat
              Peringkat tertinggi dalam perkembangan moral kerana ia melibatkan soal falsafah tentang moral seseorang. Pada peringkat ini individu telah mempunyai kod-kod moral dan etika yang tersendiri yang menepati hak-hak individu sejagat. Mereka mementingkan kesamaan hak kepada semua individu dan menghormati maruah dan prinsip individu lain.
F.     HUBUNGAN DAN KETERKAITAN TEORI PERKEMBANGAN DAN
PERTUMBUHAN
         Teori perkembangan dan pertumbuhan saling berhungan, jika dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia 0-5 tahun, anak akan tampak pertumbuhannya yang disertai perkembangan. Misalnya semakin hari berat si anak semakin tambah, tingginya pun semakin bertambah, dan disertai perkembangan anak yang di mulai dari bisanya tengkurap, merangkak,berajalan hingga bias berbicara.
         Disini jelas bahwa pertumbuhan dan perkembangan sangat berkaitan, jika pertumbuhan tidak disertai perkembangan maka seorang iibu harus berkonsultasi, begitupun sebaliknya.
         Jelas berkaitan semakin dewasanya(besar usianya) seseorang akan mempengaruhi pola pikir, seksual, dll sehingga seseorang tsb akan semakin dewasa dan dapat berpikir bijak akan lingkungan maupun orang lain. 
BAB III
KESIMPULAN
              
               Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannyayang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orangtuanya. diantara aliran-aliran pendidikan yang ada yaitu:
Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Aliran filosof natifisme konon dijuluki sebagai aliran psimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam.
Aliran Empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. . Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih.
               Aliran konvergensi (convergence) merupakan gabungan antara aliran empirisisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai factor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama konvergensi bernama Louis William Stren (1871-1938), seorang filosof dan psikolog Jerman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar