Dulu orang beranggapan
bahwa berpikir itu ditentukan oleh tanggapan ,karena orang waktu itu menganggap proses berpikir
terjadi semata-mata karena pertautan tanggapan-tanggapan secara
mekhanis.
Jadi berarti orang yang berpikir itu sifatnya pasif saja
,karena pertautan tanggapan yang merupakan inti kegiatan berpikir itu
berlangsung secara otomatis.
Psikologi sekarang juga mengakui bahwa untuk keperluan
berpikir itu diperlukan tanggapan,tetapi bukan tanggapan murni lagi pula tidak
secara mekhanistis begitu saja proses berpikir itu terjadi ,sehingga orang
dapat secara pasif saja melakukannya .
Dalam proses berpikir ini sebenarnya orang tidak diam
pasif, tetapi jiwanya aktif berusaha
mencari penyelesaian, karena itu proses berpikir lebih tepat dikatakan bersifat
dinamis, bukan pasif dan mechanistis sebagaimana yang disangkakan orang.
Pendapat ini merupakan konsep psikologi modern yang memandang berpikir sebagai
kegiatan yang bertujuan yaitu untuk memecahkan suatu masalah/persoalan.
Untuk lebih jelasnya, apa yang
dimaksud dengan berpikir ini, sebaiknya kita ambil beberapa definisi sebagai
berikut :
a. “To
think typically to search for un unswer” (R.S. wood-wordt, “Experimental
psychology ).
b.
“Thinking is symbolic
behavior, for all thinking deals with substitutes for things” dan selanjutnya .
. . lambing-lambang ini dipergunakan “in solving problems ,and in the process
of invention “(J.P.Guilford-General Psychology).
c.
“Thinkers goal is the
master a particular environment through understanding, confronted by a problem,
thinker direct him self to isolating the source of difficulty, to clearing up
the relation ships that are puzzling so that he can proceed with action
helpfull to his unterest and needs” (Hilgrad, introduction to psychology ).
d. “Thinking
is cuence of symbolic processes that represent past learning and experience” .
Dan seterusnya : “Thinking is often directed : it solve, or attempts to solve ,
problems (C.T.Morgan, Introduction to psychology ).
Dari
yang dikemukakan para penulis diatas dapat kita simpulkan beberapa yang khas
dalam proses berpikir . yaitu bahwa setiap berpikir maka kita akan dihadapkan
pada suatu persoalan/problem. Problem ini merupakan pendorong atau pemberi arah
pada berlangsungnya pikiran kita. Dan selain itu problem itulah pula yang
menjadi pendorong bagi kita untuk melakukan kegiatan ke arah penyelesaiannya.
(Tugas berpikir –Ach,Selz) .
Bahwa berpikir adalah aktivitas jiwa
yang mempunyai kecenderungan final (final tendency )yaitu pemecahan persoalan
yang dihadapi. Untuk mencapai tujuan itu dalam berfikir kita menggunakan
pengalaman-pengalaman yang telah ada pada diri kita.
Keterangan di atas menjelaskan bahwa berpikir
itu adalah suatu akta psikis yang bersifat dinamis, dimana itu sendiri yang
merupakan penggerak prosesnya (jadi berbeda benar pandangan dewasa ini dengan
pandanagan mechanistis di massa lampau yang yang menganggap berpikir itu
sekedar pertauatan otomatis dari pada tanggapan-tanggapan ).
Keseragaman pendapat yang lainnya dari
batasan-batasan diatas ialah bahwa semuanya sependapat berpikir itu adalah suatu kegiatan psikis yang menggunakan
perlambangan. Bahwa dalam berpikir itu kita menggunakan sesuatu untuk mewakili
yang lain yang tidak ada tetapi kita memperlakukannnya seakan-akan kita dengan
ujud hal yang diwakilinya .
Perlu dijelaskan bahwa lambing yang
dimaksud diatas beda dengan tanda :karena lambang/symbol maksudnya dapat
dikembangkan dari berbagai sudut pandang . jadi berarti lambang tidak
mengandung hanya satu makna saja seperti pada tanda . lambang itu mengandung
makna polyvalent sifatnya ( misalnya: bendera kebangsaan suatu Negara sebagai lambang tidak hanya
berarti kesatuan kebangsaan ). Karena itu maka suatu lambang di anggap hidup
kalau padanya tidak terpaku pada satu hal saja .
Hal
yang demikian berarti hanya sebagai tanda . (berikan contoh !)
Berpikir dan bahasa
Suatu
hal yang jelas bahwa antara berpikir dan bahasa ada relasi yang erat. Plato
misalnya , telah mengatakan bahwa berbicara itu sebenarnya berpikir dengan
suara dan sedangkan berpikir ialah berbicara dengan batin . Berpikir dengan
pengertian-pengertian pun menunujukkan peranan bahasa. Oleh bahasa
kemungkinannya kita merumuskan isi pikiran kita. Betapa pentingnya peranan
bahasa untuk kesanggupan berpikir ,nyata dari penyelidikan Frohn terhadap anak
bisu tuli. Dalam penyelidikasn ini terbukti bahwa anak-anak tersebut yang
berumur 12-14 tahun tidak melebihi prestasi berpikirnya dengan anak-anak normal
umur 7-8 tahun.
Psikologi berpikir kebanyakan berpangkal
dari hasil-hasil penelitian sekte Wursburg (kulpe Cs ) yang telah membuktikan
kelangsungan berpikir tanpa suatu peragaan. Misalnya kepada orang percobaan
diberikan suatu perkataan sebagai rangsangan setelah kepadanya diberi tugas
untuk menetapkan kategori dari perkataan tersebut. Penggolongan kepada suatu
kategori ini ternyata tidak berlangsung dalam suasana peragaan; orang percobaan
ini tidak menggunakan tanggapan-tanggapan utuh dalam kelangsungan pikirannya,
Karena kategori yang dimaksudkan itu segera terjangkau/tertangkap olehnya .
Dalam hubungan ini orang yang sangat
berjasa adalah Selz dengan penelitiannya sebagai berikut ; Kepada orang percobaan diberikan perintah : “
Sebutkan keseluruhannya “ dan kata rangsangannya : “dahan “ . Maka jawabannya
diperoleh : “pohon” . Pertalian ini menurut orang yang dikenai percobaan itu
terjadi ssegera, maksudnya tidak melalui kelangsungan tanggapan-tanggapan. Kalau
perintahnya diganti dengan “sebutkan bagian-bagiannya, maka dijawab “daun” .
Disini ternyata bahwa reaksi tersebut ditentukan oleh sifat perintahnya (
dengan catatan bahwa perintah itu dimengerti maksudnya dalam menentukan
lapangan pikirannya orang percobaan itu tertuntun oleh perintahnya dan perintah
atau tugas itulah maka Kulpe
berkesimpulan bahwa berpikir itu adalah proses kesadaran yang tidak beraga, yang memperoleh tujuan oleh
adanya tugas pikiran. Dalam hubungan ini SELZ menandai ciri-ciri berpikir
sebagai berikut :
·
Arah tujuan .
·
Totalisering,
dengan adanya tugas
berpikir/problem, menjadikan pengertian-pengertian tertentu
yang ada relasinya
itu saling bertalian dan
membentuk keseluruhan yang
lengkap.
·
Antisipasi, suatu penyelesaian
persolaan ,dengan jalan
mengaktualisasi metode-metode penyelesaian/pemecahan, segera setelah
terjadi/dihadapkan dengan problem. Disini jelas pentingnya peranan problem
tersebut dalam memeberi arah kepada aktivitas berpikir .
·
Berpikir berlangsung
dengan menggunakan dan mengkomitisir schemata-mata, metode penyelesaian yang kita pilih itu ditentukan pula oleh
sifat persoalannya .
Selanjutnya
dalam pembahasan berpikir sering pula dikemukakan jenis jenis berpikir yang terjadi/dilakukan orang, dalam hal ini
dibedakan 3 bentuk berpikir yang ; yaitu :
1. Yang
representative; yaitu berpikir yang terletak pada batas tanggapan dan berpikir
.
2. Yang
memahami; berpikir yang lebih bersifat hasil dari pada bersifat aktivitet.
3. Yang
menyusun atau strukturir ;termasuk disini usaha menguraikan dan mengatur; dianggap sebagai kegiatan berpikir yang
murni/sebenarnya .
1. Bentuk
berpikir yang representative ini erat hubungannya dengan tanggapan. Ini tampak
dalam ucapan : saya tak dapat memebayangkan/menggambarkan . . . “jadi”
menimbulakan suatu tanggapan. Ucapan mana sama artinya: “tak terpikir oleh saya
. . .
2. Dalam
bentuk berpikir yang mengalami ini, kita seperti tidak melakukan kegiatan
memikirkan, karena tiba-tiba ini menurut Buhler disebut : Aha Erlabnis. (ad. 1
dan ad. 2 kebanyakan terjadi pada anak-anak ).
3. Berpikir
yang dimaksud usaha memecahkan suatu persoalan
( baik konkrit maupun abstrak ) dengan menggunakan abstraksi-abstraksi.
Meskipun kita dapat memecahkan persoalan-persoalan yang konkrit dengan cara
yang konkrit pula, namun sering juga kita menggunakan abstraksi/schemata dalam usaha
merumuskan/memecahkan persoalan itu.
Demi
mudahnya pemecahan persoalan, maka biasanya didahului dengan suatu usaha
pengaturan, sehingga relasi-relasi dalam persoalan itu lebih jelas kaitannya.
Dalam hubungan ini Duncer menyarankan pentingnya analisa situasi dalam rangka
memudahkan memecahkan persoalan. Tiap penyelesaian persoalan selalu mengandung
arti mengubah dengan cara tertentu situasi yang tampil. Jadi situasi
penyelesaian persoalan itu selalu membawa perubahan pada stuktur total dari
pada situasi.
Selanjutnya
dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk berpikir
di atas terutama mengenai berpikir murni/sebenarnya, dapat
dibeda-bedakan sebagai berikut :
1. Berpikir
yang kreatif inventif dan produktif.
2. Berpikir
tak kreatif reproduktif/eksekutif.
Dalam
rangka berpikir yang kreatif tersebut, dibedakan menjadi:berpikir kreatif yang
inventif (asli) dan berpikir yang kreatif produktif.
Pada
kedua bentuk berpikir tersebut seolah-olah tercipta sesuatu yang baru. Bedanya
: kalau pad yang pertama ( inventive ) terciptakan yang sesuatu yang
benar-benar baru : misalnya orang-orang yang termasuk disini : Newton ,
Ehytagoras, Edison dan sebagainya. Sedangkan yang kedua (produktif ) sesuatu
yang baru diciptakannya sebenarnya masih ada kaitannya dengan apa yang sudah
dikenal. Misalnya James Watt, untuk listrik, setelah Edison menemukan listrik
itu . Dalam hal ini juga termasuk orang-orang yang berusaha menemukan cara-cara
untuk menyelenggarakan sesuatu (tehnologi ) dengan cara lebih efisien .
Dalam
bentuk yang tak kreatif, termasuk berpikir yang sekedar reproduktif, dimana
dalam berpikirnya tanpa menghiraukan asal mula terciptanya lagi .
Transfer
of training
Transfer of training
berarti : hasil latihan suatu fungsi dari lapangan
tertentu
dapat berakibat kemajuan/digunakan di lapangan lain. Jadi, misalnya , kalau
seorang anak cerdas dilapangan Ilmu Pasti, prestasinya juga baik dilapangan
bahasa. Ini berarti kecerdasan atau prestasi ilmu pasti tersebut merupakan
kemamapuan yang dapat di transfer/mempengaruhi kemampuan/prestasi pada anak
tersebut. Demikian pula misalnya, seseoarang yang pandai melempar dengan tepat,
dapat diharapkan menjadi ahli tembak yang jitu (kemampuan melempar dapat
ditransfer untuk kemampuan menembak ).
Sebagai
catatan perlu dikemukakan disini bahwa prestasi bahasa atau kemampuan menembak
sebagai kecakapan-kecakapan hasil transfer yang dimaksudkan diatas harus
merupakan pindahan/pengaruh dari kemampuan
sang transfer, bukan hasil latihan seperti pada kemampuan yang terjadi pada
pentransfer .
Karena
itu logisnya transfer of training ini akan munkin terjadi bukan oleh persamaan
bahannya , tetapi yang mungkin adalah karena persamaan metodenya. Hal ini lebih
jelas dari kesimpulan ANDRAE , bahwa
transfer of training adalah mungkin terjadi apabila metode-metode
penyelesaian/pemecahan yang dipelajari pada lapangan(yang mentransfer ) itu
dapat diamalkan/difungsikan pada lapangan lainnya (yang ditransfer).
*dikutip dari berbagai sumber
oleh janne alfresha
oleh janne alfresha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar