Selasa, 13 Mei 2014

berpikir

Dulu orang beranggapan bahwa berpikir itu ditentukan oleh tanggapan ,karena  orang waktu itu menganggap proses  berpikir  terjadi semata-mata karena pertautan tanggapan-tanggapan secara mekhanis.
            Jadi berarti orang yang berpikir itu sifatnya pasif saja ,karena pertautan tanggapan yang merupakan inti kegiatan berpikir itu berlangsung secara otomatis.
            Psikologi sekarang juga mengakui bahwa untuk keperluan berpikir itu diperlukan tanggapan,tetapi bukan tanggapan murni lagi pula tidak secara mekhanistis begitu saja proses berpikir itu terjadi ,sehingga orang dapat secara pasif saja melakukannya .
            Dalam proses berpikir ini sebenarnya orang tidak diam pasif, tetapi jiwanya aktif  berusaha mencari penyelesaian, karena itu proses berpikir lebih tepat dikatakan bersifat dinamis, bukan pasif dan mechanistis sebagaimana yang disangkakan orang. Pendapat ini merupakan konsep psikologi modern yang memandang berpikir sebagai kegiatan yang bertujuan yaitu untuk memecahkan suatu masalah/persoalan.
            Untuk lebih jelasnya, apa yang dimaksud dengan berpikir ini, sebaiknya kita ambil beberapa definisi sebagai berikut :

a.       “To think typically to search for un unswer” (R.S. wood-wordt, “Experimental psychology ).
b.      “Thinking is symbolic behavior, for all thinking deals with substitutes for things” dan selanjutnya . . . lambing-lambang ini dipergunakan “in solving problems ,and in the process of invention “(J.P.Guilford-General Psychology).
c.       “Thinkers goal is the master a particular environment through understanding, confronted by a problem, thinker direct him self to isolating the source of difficulty, to clearing up the relation ships that are puzzling so that he can proceed with action helpfull to his unterest and needs” (Hilgrad, introduction to psychology ).
d.      “Thinking is cuence of symbolic processes that represent past learning and experience” . Dan seterusnya : “Thinking is often directed : it solve, or attempts to solve , problems (C.T.Morgan, Introduction to psychology ).



Dari yang dikemukakan para penulis diatas dapat kita simpulkan beberapa yang khas dalam proses berpikir . yaitu bahwa setiap berpikir maka kita akan dihadapkan pada suatu persoalan/problem. Problem ini merupakan pendorong atau pemberi arah pada berlangsungnya pikiran kita. Dan selain itu problem itulah pula yang menjadi pendorong bagi kita untuk melakukan kegiatan ke arah penyelesaiannya. (Tugas berpikir –Ach,Selz) .
           
Bahwa berpikir adalah aktivitas jiwa yang mempunyai kecenderungan final (final tendency )yaitu pemecahan persoalan yang dihadapi. Untuk mencapai tujuan itu dalam berfikir kita menggunakan pengalaman-pengalaman yang telah ada pada diri kita.

 Keterangan di atas menjelaskan bahwa berpikir itu adalah suatu akta psikis yang bersifat dinamis, dimana itu sendiri yang merupakan penggerak prosesnya (jadi berbeda benar pandangan dewasa ini dengan pandanagan mechanistis di massa lampau yang yang menganggap berpikir itu sekedar pertauatan otomatis dari pada tanggapan-tanggapan ).

Keseragaman pendapat yang lainnya dari batasan-batasan diatas ialah bahwa semuanya sependapat berpikir itu  adalah suatu kegiatan psikis yang menggunakan perlambangan. Bahwa dalam berpikir itu kita menggunakan sesuatu untuk mewakili yang lain yang tidak ada tetapi kita memperlakukannnya seakan-akan kita dengan ujud hal yang diwakilinya .

Perlu dijelaskan bahwa lambing yang dimaksud diatas beda dengan tanda :karena lambang/symbol maksudnya dapat dikembangkan dari berbagai sudut pandang . jadi berarti lambang tidak mengandung hanya satu makna saja seperti pada tanda . lambang itu mengandung makna polyvalent sifatnya ( misalnya: bendera kebangsaan  suatu Negara sebagai lambang tidak hanya berarti kesatuan kebangsaan ). Karena itu maka suatu lambang di anggap hidup kalau padanya tidak terpaku pada satu hal saja .
Hal yang demikian berarti hanya sebagai tanda . (berikan contoh !)


Berpikir dan bahasa
           
Suatu hal yang jelas bahwa antara berpikir dan bahasa ada relasi yang erat. Plato misalnya , telah mengatakan bahwa berbicara itu sebenarnya berpikir dengan suara dan sedangkan berpikir ialah berbicara dengan batin . Berpikir dengan pengertian-pengertian pun menunujukkan peranan bahasa. Oleh bahasa kemungkinannya kita merumuskan isi pikiran kita. Betapa pentingnya peranan bahasa untuk kesanggupan berpikir ,nyata dari penyelidikan Frohn terhadap anak bisu tuli. Dalam penyelidikasn ini terbukti bahwa anak-anak tersebut yang berumur 12-14 tahun tidak melebihi prestasi berpikirnya dengan anak-anak normal umur 7-8 tahun.
           
Psikologi berpikir kebanyakan berpangkal dari hasil-hasil penelitian sekte Wursburg (kulpe Cs ) yang telah membuktikan kelangsungan berpikir tanpa suatu peragaan. Misalnya kepada orang percobaan diberikan suatu perkataan sebagai rangsangan setelah kepadanya diberi tugas untuk menetapkan kategori dari perkataan tersebut. Penggolongan kepada suatu kategori ini ternyata tidak berlangsung dalam suasana peragaan; orang percobaan ini tidak menggunakan tanggapan-tanggapan utuh dalam kelangsungan pikirannya, Karena kategori yang dimaksudkan itu segera terjangkau/tertangkap olehnya .
           
Dalam hubungan ini orang yang sangat berjasa adalah Selz dengan penelitiannya sebagai berikut ;  Kepada orang percobaan diberikan perintah : “ Sebutkan keseluruhannya “ dan kata rangsangannya : “dahan “ . Maka jawabannya diperoleh : “pohon” . Pertalian ini menurut orang yang dikenai percobaan itu terjadi ssegera, maksudnya tidak melalui kelangsungan tanggapan-tanggapan. Kalau perintahnya diganti dengan “sebutkan bagian-bagiannya, maka dijawab “daun” . Disini ternyata bahwa reaksi tersebut ditentukan oleh sifat perintahnya ( dengan catatan bahwa perintah itu dimengerti maksudnya dalam menentukan lapangan pikirannya orang percobaan itu tertuntun oleh perintahnya dan perintah atau tugas itulah maka Kulpe  berkesimpulan bahwa berpikir itu adalah proses kesadaran yang  tidak beraga, yang memperoleh tujuan oleh adanya tugas pikiran. Dalam hubungan ini SELZ menandai ciri-ciri berpikir sebagai berikut :
·         Arah tujuan .
·         Totalisering, dengan  adanya  tugas  berpikir/problem, menjadikan pengertian-pengertian   tertentu  yang   ada  relasinya   itu  saling  bertalian dan  membentuk  keseluruhan  yang  lengkap.
·         Antisipasi, suatu penyelesaian persolaan ,dengan  jalan mengaktualisasi  metode-metode  penyelesaian/pemecahan, segera setelah terjadi/dihadapkan dengan problem. Disini jelas pentingnya peranan problem tersebut dalam memeberi arah kepada aktivitas berpikir .
·         Berpikir berlangsung dengan menggunakan dan mengkomitisir schemata-mata, metode penyelesaian  yang kita pilih itu ditentukan pula oleh sifat persoalannya .
Selanjutnya dalam pembahasan berpikir sering pula dikemukakan jenis  jenis berpikir yang  terjadi/dilakukan orang, dalam hal ini dibedakan 3 bentuk berpikir yang ; yaitu :

1.      Yang representative; yaitu berpikir yang terletak pada batas tanggapan dan berpikir .
2.      Yang memahami; berpikir yang lebih bersifat hasil dari pada bersifat aktivitet.
3.      Yang menyusun atau strukturir ;termasuk disini usaha menguraikan dan mengatur;  dianggap sebagai kegiatan berpikir yang murni/sebenarnya .
1.      Bentuk berpikir yang representative ini erat hubungannya dengan tanggapan. Ini tampak dalam ucapan : saya tak dapat memebayangkan/menggambarkan . . . “jadi” menimbulakan suatu tanggapan. Ucapan mana sama artinya: “tak terpikir oleh saya . . .
2.      Dalam bentuk berpikir yang mengalami ini, kita seperti tidak melakukan kegiatan memikirkan, karena tiba-tiba ini menurut Buhler disebut : Aha Erlabnis. (ad. 1 dan ad. 2 kebanyakan terjadi pada anak-anak ).
3.      Berpikir yang dimaksud usaha memecahkan suatu persoalan  ( baik konkrit maupun abstrak ) dengan menggunakan abstraksi-abstraksi. Meskipun kita dapat memecahkan persoalan-persoalan yang konkrit dengan cara yang konkrit pula, namun sering juga kita menggunakan  abstraksi/schemata dalam usaha merumuskan/memecahkan persoalan itu.

Demi mudahnya pemecahan persoalan, maka biasanya didahului dengan suatu usaha pengaturan, sehingga relasi-relasi dalam persoalan itu lebih jelas kaitannya. Dalam hubungan ini Duncer menyarankan pentingnya analisa situasi dalam rangka memudahkan memecahkan persoalan. Tiap penyelesaian persoalan selalu mengandung arti mengubah dengan cara tertentu situasi yang tampil. Jadi situasi penyelesaian persoalan itu selalu membawa perubahan pada stuktur total dari pada situasi.
Selanjutnya dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk berpikir  di atas terutama mengenai berpikir murni/sebenarnya, dapat dibeda-bedakan sebagai berikut :

1.      Berpikir yang kreatif inventif dan produktif.
2.      Berpikir tak kreatif reproduktif/eksekutif.

Dalam rangka berpikir yang kreatif tersebut, dibedakan menjadi:berpikir kreatif yang inventif (asli) dan berpikir yang kreatif produktif.
Pada kedua bentuk berpikir tersebut seolah-olah tercipta sesuatu yang baru. Bedanya : kalau pad yang pertama ( inventive ) terciptakan yang sesuatu yang benar-benar baru : misalnya orang-orang yang termasuk disini : Newton , Ehytagoras, Edison dan sebagainya. Sedangkan yang kedua (produktif ) sesuatu yang baru diciptakannya sebenarnya masih ada kaitannya dengan apa yang sudah dikenal. Misalnya James Watt, untuk listrik, setelah Edison menemukan listrik itu . Dalam hal ini juga termasuk orang-orang yang berusaha menemukan cara-cara untuk menyelenggarakan sesuatu (tehnologi ) dengan cara lebih efisien .
Dalam bentuk yang tak kreatif, termasuk berpikir yang sekedar reproduktif, dimana dalam berpikirnya tanpa menghiraukan asal mula terciptanya lagi .

Transfer of training
      Transfer of training berarti : hasil latihan suatu fungsi dari lapangan
tertentu dapat berakibat kemajuan/digunakan di lapangan lain. Jadi, misalnya , kalau seorang anak cerdas dilapangan Ilmu Pasti, prestasinya juga baik dilapangan bahasa. Ini berarti kecerdasan atau prestasi ilmu pasti tersebut merupakan kemamapuan yang dapat di transfer/mempengaruhi kemampuan/prestasi pada anak tersebut. Demikian pula misalnya, seseoarang yang pandai melempar dengan tepat, dapat diharapkan menjadi ahli tembak yang jitu (kemampuan melempar dapat ditransfer untuk kemampuan menembak ).

Sebagai catatan perlu dikemukakan disini bahwa prestasi bahasa atau kemampuan menembak sebagai kecakapan-kecakapan hasil transfer yang dimaksudkan diatas harus merupakan pindahan/pengaruh  dari kemampuan sang transfer, bukan hasil latihan seperti pada kemampuan yang terjadi pada pentransfer .
Karena itu logisnya transfer of training ini akan munkin terjadi bukan oleh persamaan bahannya , tetapi yang mungkin adalah karena persamaan metodenya. Hal ini lebih jelas dari kesimpulan ANDRAE , bahwa transfer of training adalah mungkin terjadi apabila metode-metode penyelesaian/pemecahan yang dipelajari pada lapangan(yang mentransfer ) itu dapat diamalkan/difungsikan pada lapangan lainnya (yang ditransfer).

 *dikutip dari berbagai sumber
oleh janne alfresha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar