Selasa, 13 Mei 2014

pendidikan agama islam

pilar-pilar taqwa

Takwa adalah nilai atau akumulasi dari nilai-nilai islam. Takwa dari segi bahasa,         perkataan takwa menurut pakar al-ishfahani ,berakar dari kata waka, yaki, al-wiqayah, secara harfiah bermakna memelihara sesuatu dari apa yang membahayakan.takwa diberi arti sikap hati-hati dari berbagai kemungkinan buruk yang dapat menimpa seseorang. Makna inilah yang pernah disampaikan oleh Khalifah umar bin Khathab.
              Selain makna hati-hati ,takwa juga berarti takut,yitu takut kepada Allah kepada ancaman dan siksa-Nya. Makna dari sikap hati-hati dan takut keduanya tentu berdekatan dan memiliki keterkaitan.
             Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari enam puluh Sembilan kali , perintah takwa kepada Allah  Swt. Takwa menurut ,Syaikh Muhammad Abduh, seperti ditulis Rassyid Ridha dalam tafsir al-manar, takut kepada Allah bermakna takut kepada azab dan siksa-Nya. Dari makna ini ,Abduh mendefinisikan orang takwa sebagai orang yang menjaga dan memelihara  dirinya dari azab dan siksa Allah. Senada dengan Abduh ,Muhammad Ali al-Shabuni mandefinisikan orang takwa sebagai orang yang takut kepada murka Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya dan mencegah siksa-Nya dengan tunduk dan patuh kepada-Nya .
 Selanjutnya, Abduh membagi azab dan siksa menjadi dua macam, yaitu siksa dunia dan siksa akhirat .siksa dunia timbul karena melawan sunnatullah atau hukum-hukum alam dan hukum-hukum kemasyarakatan (mukhalafah sunani fi nizhami khalqih), sedang siksa dan azab akhirat terjadi karena melawan hukum-hukum syariat (mukhalafah dini Allah wa sya’ih). Dalam pandangan Abduh, upah atau pahala mengikuti sunnatullah diperoleh didunia, sedanngkan upah atau ganjaran mengikuti hukum-hukum agama diperoleh secara sempurna diakhirat.
                                 


“barang siapa menghendaki (sukses dalam) kehidupan sekarang(duniawi), maka kami segerakan baginya didunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka Jahannam ; iya akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS Al-isra [17]: 18-19)

 Orang takwa, seperti dikemukakan diatas, perlu mengerti dan  memahami sebab-sebab yang akan mendatangkan siksa, agar ia dapat menghindarkan diri daripadanya. Hal ini, bagi al-ishfahani, dapat diupayakan melalui sikap menjauhkan diri dari dosa-dosa (hifzh al-nafs ‘amma yu’tsim) dengan cara meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (al-mahzhurat). Bahkan dengan meninggalkan sebagian yang diperbolehkan (al-mubahat) seperti perkara sytubhat lantaran khawatir jatuh pada yang terlarang. Bagi abduh, siksa tuhan itu, terutama siksa diakhirat, bias dicegah dan ditangkal dengan iman yang benar (bi al-iman al-shahih), tauhid yang tulus (al-tauhid al-khalish), amal yang baik  ( al-amal al-shalihah ),dan dengan menjauhi segala yang bertentanagn dengan semua itu. Sementara bagi al-Shabuni, takut kepda siksa tuhan yang menjadi inti dari takwa harus dilakukan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, dan dengan tunduk dan patuh kepada nya secara total. Panadangan ulama Islam pada umumnya yang merumuskan takwa dengan ungkapan singkat, melaksanankan perintah- perintah Allh dan menjauhi larangan- larangan- nya    ( imtitsal awamir allah wa ijtinab nawahihi )
Dalam Al-Qur’an kata ‘al-mutaqun (dalam keadaan marfu)menurut penyelidikan Muhammad Fuad’ ‘Abd al baqi diulang sebanyak enam kali,sedangkan al-muttaqin (dalam keadaan manshub dan majrur)diulang sebanyak empat puluh tiga kali. Menurut M.Quraish Shihab ada tiga ayat yang dapat mewakili ayat-ayat lain dalam menggambarkan ciri-ciri orang-orang yang takwa sebagai berikut ini.
Pertama ,QS Al-baqarah[2]ayat 1-5,dan dikemukakan sifat-sifat sebagai berikut .
a.                 iman atau percaya kepada yang ghaib,
b.                 Melaksanaakan shalat dengan baik dan sinambung,
c.                  Menafkahkan sebagian rezeki dari mereka perolah,
d.                 Percaya kepada Al-Qur’an  dan kitab-kitab suci sebelumnya.

       Kedua, QS Al-Baqarah [2] ayat 177.dikemukakan sifat-sifat berikut.
a.     Percaya kepada Allah ,hari kemudian ,malaikat , kitab-kitab suci,serta para nabi.
b.     Memberikan harta yang dicintainya(secara tulus) kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin ,dan lain-lain serta memerdekakan orang-orang yang terbelenggu (hamba sahaya).
c.      Melaksanakan shalat dan menunaikan zakat.
d.     Menepati janji apabila berjanji,
e.     Sabar dan tahan uji dalam kesempatan , penderitaan ,dan peperangan .

Ayat diatas dikarangan ulama tabsir dikenal dengan sebutan “ayat al-birr” (ayat-ayat kebajikan). Ayat ini menurut semua ulama tabsir, diturunkan berkaitan dengan perubahan atau pemindahan kiblat sholat dari Bait al-Maqdis ke kabah (masjid al-Haram) dan sekaligus sebagai jawaban terhadap kritik dan protes keras dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sholat itu bukanlah kebaikan semata tetapi sesuatun yang bernilai instrumental. Kebajikan yang bersungguh-sungguh adalah keimanan sejati yang melahirkan kesholehan pribadi dan sosial. 

Bahwasannya untuk mencapai kebajikan kita tidak boleh berhenti dalam segi-segi lahiriyah dari agama. Bentuk formal lahiriyah dari sebuah amalan, sehinggah tidak harus dipandang sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Sementara tujuan lainnya terlupakan.
Hal ini penting kita ingat, karna setiap perilaku agama, terutama yang bersifat seremonian, ritual berpotensi untuk dapat berbelokan dari maknanya yang hakiki dan subtansi pada hal-hal yang justru nilainya hanya bersifat instrumental. Tindakan-tindakan derma yang praktis yang mempunyai nilai hamya jika dilakukan atas dasar cinta dan tulus karna Allah, dan bukan karna motif-motif lain yang bersifat duniawi.

Ketiga, QSali imran [3]: 133-136. Dalam ayat ini kemukakan sifat-sifat sebagai berikut:
a.     Menafkahkan harta, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
b.     Mampu menahan amarah, memaafkan orang lain, dan berbuat baik(terhadap siapa yang pernah melukai hatinya).
c.      Sadar dan bertobat dari dosa besar yang dilakukannya.
d.     Tidak terus-menerus melakukan dosa setelah mengetahui bahwa yang demikian adalah dosa.
Ayat-ayat lain yang semakna, kita dapat memahami apa yang menjadi pilar-pilar utama takwa. Hemat saya,takwa sebagai akumulasi dari nilai-nilai kebaikan berakar pada empat pilar sebagai berikut.
            Pilar pertama, kesadaran ketuhanan (religius consciousness). Pakar tafsir al-Razi, m  Takwa adalah nilai atau akumulasi dari nilai-nilai islam. Takwa dari segi bahasa,         perkataan takwa menurut pakar al-ishfahani ,berakar dari kata waka, yaki, al-wiqayah, secara harfiah bermakna memelihara sesuatu dari apa yang membahayakan.takwa diberi arti sikap hati-hati dari berbagai kemungkinan buruk yang dapat menimpa seseorang. Makna inilah yang pernah disampaikan oleh Khalifah umar bin Khathab.
              Selain makna hati-hati ,takwa juga berarti takut,yitu takut kepada Allah kepada ancaman dan siksa-Nya. Makna dari sikap hati-hati dan takut keduanya tentu berdekatan dan memiliki keterkaitan.
             Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari enam puluh Sembilan kali , perintah takwa kepada Allah  Swt. Takwa menurut ,Syaikh Muhammad Abduh, seperti ditulis Rassyid Ridha dalam tafsir al-manar, takut kepada Allah bermakna takut kepada azab dan siksa-Nya. Dari makna ini ,Abduh mendefinisikan orang takwa sebagai orang yang menjaga dan memelihara  dirinya dari azab dan siksa Allah. Senada dengan Abduh ,Muhammad Ali al-Shabuni mandefinisikan orang takwa sebagai orang yang takut kepada murka Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya dan mencegah siksa-Nya dengan tunduk dan patuh kepada-Nya .
 Selanjutnya, Abduh membagi azab dan siksa menjadi dua macam, yaitu siksa dunia dan siksa akhirat .siksa dunia timbul karena melawan sunnatullah atau hukum-hukum alam dan hukum-hukum kemasyarakatan (mukhalafah sunani fi nizhami khalqih), sedang siksa dan azab akhirat terjadi karena melawan hukum-hukum syariat (mukhalafah dini Allah wa sya’ih). Dalam pandangan Abduh, upah atau pahala mengikuti sunnatullah diperoleh didunia, sedanngkan upah atau ganjaran mengikuti hukum-hukum agama diperoleh secara sempurna diakhirat.
                                 


“barang siapa menghendaki (sukses dalam) kehidupan sekarang(duniawi), maka kami segerakan baginya didunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka Jahannam ; iya akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS Al-isra [17]: 18-19)

 Orang takwa, seperti dikemukakan diatas, perlu mengerti dan  memahami sebab-sebab yang akan mendatangkan siksa, agar ia dapat menghindarkan diri daripadanya. Hal ini, bagi al-ishfahani, dapat diupayakan melalui sikap menjauhkan diri dari dosa-dosa (hifzh al-nafs ‘amma yu’tsim) dengan cara meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (al-mahzhurat). Bahkan dengan meninggalkan sebagian yang diperbolehkan (al-mubahat) seperti perkara sytubhat lantaran khawatir jatuh pada yang terlarang. Bagi abduh, siksa tuhan itu, terutama siksa diakhirat, bias dicegah dan ditangkal dengan iman yang benar (bi al-iman al-shahih), tauhid yang tulus (al-tauhid al-khalish), amal yang baik  ( al-amal al-shalihah ),dan dengan menjauhi segala yang bertentanagn dengan semua itu. Sementara bagi al-Shabuni, takut kepda siksa tuhan yang menjadi inti dari takwa harus dilakukan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, dan dengan tunduk dan patuh kepada nya secara total. Panadangan ulama Islam pada umumnya yang merumuskan takwa dengan ungkapan singkat, melaksanankan perintah- perintah Allh dan menjauhi larangan- larangan- nya    ( imtitsal awamir allah wa ijtinab nawahihi )
Dalam Al-Qur’an kata ‘al-mutaqun (dalam keadaan marfu)menurut penyelidikan Muhammad Fuad’ ‘Abd al baqi diulang sebanyak enam kali,sedangkan al-muttaqin (dalam keadaan manshub dan majrur)diulang sebanyak empat puluh tiga kali. Menurut M.Quraish Shihab ada tiga ayat yang dapat mewakili ayat-ayat lain dalam menggambarkan ciri-ciri orang-orang yang takwa sebagai berikut ini.
Pertama ,QS Al-baqarah[2]ayat 1-5,dan dikemukakan sifat-sifat sebagai berikut .
e.                 iman atau percaya kepada yang ghaib,
f.                   Melaksanaakan shalat dengan baik dan sinambung,
g.                 Menafkahkan sebagian rezeki dari mereka perolah,
h.                 Percaya kepada Al-Qur’an  dan kitab-kitab suci sebelumnya.

       Kedua, QS Al-Baqarah [2] ayat 177.dikemukakan sifat-sifat berikut.
f.       Percaya kepada Allah ,hari kemudian ,malaikat , kitab-kitab suci,serta para nabi.
g.     Memberikan harta yang dicintainya(secara tulus) kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin ,dan lain-lain serta memerdekakan orang-orang yang terbelenggu (hamba sahaya).
h.     Melaksanakan shalat dan menunaikan zakat.
i.        Menepati janji apabila berjanji,
j.       Sabar dan tahan uji dalam kesempatan , penderitaan ,dan peperangan .

Ayat diatas dikarangan ulama tabsir dikenal dengan sebutan “ayat al-birr” (ayat-ayat kebajikan). Ayat ini menurut semua ulama tabsir, diturunkan berkaitan dengan perubahan atau pemindahan kiblat sholat dari Bait al-Maqdis ke kabah (masjid al-Haram) dan sekaligus sebagai jawaban terhadap kritik dan protes keras dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sholat itu bukanlah kebaikan semata tetapi sesuatun yang bernilai instrumental. Kebajikan yang bersungguh-sungguh adalah keimanan sejati yang melahirkan kesholehan pribadi dan sosial. 

Bahwasannya untuk mencapai kebajikan kita tidak boleh berhenti dalam segi-segi lahiriyah dari agama. Bentuk formal lahiriyah dari sebuah amalan, sehinggah tidak harus dipandang sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Sementara tujuan lainnya terlupakan.
Hal ini penting kita ingat, karna setiap perilaku agama, terutama yang bersifat seremonian, ritual berpotensi untuk dapat berbelokan dari maknanya yang hakiki dan subtansi pada hal-hal yang justru nilainya hanya bersifat instrumental. Tindakan-tindakan derma yang praktis yang mempunyai nilai hamya jika dilakukan atas dasar cinta dan tulus karna Allah, dan bukan karna motif-motif lain yang bersifat duniawi.

Ketiga, QSali imran [3]: 133-136. Dalam ayat ini kemukakan sifat-sifat sebagai berikut:
e.     Menafkahkan harta, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
f.       Mampu menahan amarah, memaafkan orang lain, dan berbuat baik(terhadap siapa yang pernah melukai hatinya).
g.     Sadar dan bertobat dari dosa besar yang dilakukannya.
h.     Tidak terus-menerus melakukan dosa setelah mengetahui bahwa yang demikian adalah dosa.
Ayat-ayat lain yang semakna, kita dapat memahami apa yang menjadi pilar-pilar utama takwa. Hemat saya,takwa sebagai akumulasi dari nilai-nilai kebaikan berakar pada empat pilar sebagai berikut.
            Pilar pertama, kesadaran ketuhanan (religius consciousness). Pakar tafsir al-Razi, menyebut kesadaran ketuhanan ini sebagai cahaya iman dan makrifah”(Nur al-iman wa al-ma’rifah) dikehendaki dengan kesadaran ketuhan disini ialah kesadaran pada seseorang bahwa Allah Swt. Sehingga yang bersangkutan takut dan malu berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya dengan demikian, kesadaran ketuhanan dapat           Istilah, Nurcholish madjid menyebut kesadaran ketuhanan itu sebagai rabbaniyyah, yaitu semangat yang sungguh-sungguh untuk mengenal Allah dan menaati-Nya. QS Ali-imran [3]:
dipandang sebagai pangkal kebaikan dan pangkal moralitas. Jadi, kesadaran ketuhanan itu pada dasarnya adalah pangkal atau pilar takwa yang pertama dan utama.
 Kesadaran ketuhanan ini sebagai cahaya iman dan makrifah”(Nur al-iman wa al-ma’rifah) dikehendaki dengan kesadaran ketuhan disini ialah kesadaran pada seseorang bahwa Allah Swt. Sehingga yang bersangkutan takut dan malu berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya dengan demikian, kesadaran ketuhanan dapat           Istilah, Nurcholish madjid menyebut kesadaran ketuhanan itu sebagai rabbaniyyah, yaitu semangat yang sungguh-sungguh untuk mengenal Allah dan menaati-Nya. QS Ali-imran [3]:79.Dalam ternimonologi sufistik,kesadaran ketuhanan semacam itu dinamai ‘’ muraqabah’’ secara bahasa berarti penglihatan atau pengawasan. ‘’muraqabah’’ bermakna kesadaran untuk selalu  mengingat  Allah dan menyadari pengawasan-Nya .muraqabah merupakan pangkal kebaikan ddan keluhuran budi pekerti .muraqabah menjadi penting ,mendorong tiga kebaikan ,yaitu sikap intropeksi dan wawas diri ( muhasabat al-nafs), amal dan perbuatan baik (shalih al-amal),
Pilar kedua ,semngat ibadah dan ketaatan yang tinggi kepada Allah Swt .( nur al-tha’ah wa al-ubudiyyah).pilar kedua merupakan logis dari pilar pertama.kepatuhan menyangkut dua aspek sekaligus,yaitu aspek lahiriah seperti kepatuhan hukum-hukum Allah  (QS.Al-Ahzab [33]: 36 )dan aspek bathin seperti kesucian niat dan sikap yang tulus dalam beragama ( Qs.Al-Bayyinah [98]:5).orang-orang yang takwa tidak pernah mencari alternative lain jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan hukum-hukum untuk mereka .
Ibadah pada hakikatnya adalah fitrah bagi manusia ,yakni tuntutan naluri dan kecendrungan dasarnya yang suci . seorang tidak cukup beriman dan beramal shaleh tanpa ibadah karena ibadah merupakan prantara antara iman dan amal shaleh yang berulang kali disebut dalam Al-Qur’an .
Filosof seperti Aristoteles dan Albert Enstein mengakui adanya Tuhan(theitik) dan keharusan berbuat baik kepada sesame manusia .pandangan semacam ini di tolak oleh Nurcholish karena beberapa alasan .pertama; tanpa ibadah iman akan mmudah rusak dan terkoyak . ibadah adalah institusi yang menjaga dan memelihara eksitensi iman .oleh karena itu tidak ada agama yang tanpa mengajarkan ibadah tertentu.kedua ; berbeda dengan sains dan teknologi yang bergerak hanya pada tataran empiric dan rasional,agama tekait dengan hal-hal suprarasional. Agama membutuhkan tindakan atau perbuatan devotional, yaitu pengabdian penyebahan kepada Tuhan   Ketiga;  ibadah mneimbulkan pengalaman-pengalaman rohani yang akan menumbuhkan keluhuran budi pekrti dan kesalehan sosial.
Pilar ketiga, semangat kemanusiaan dan kesalehan sosial . jika pilar pertama dan kedua memperlihatkan semangat ketuhanan(hablun min Allah) .pilar ketiga ini memperlihatkan semangat kemanusiaan (hablun min Allah) agam diturunkan bukan untuk Allah melainkan untuk manusia . manusia harus beragama dan melaksanakan perintah-perintah agama ,untuk kebaikan dan kemaslahatan anusia itu sendiri di dalam kehidupan duni dan akhirat . keimanan kepada Allah merupakn funsional dalam kehidupan apabila ia melahirkan kebaikan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar