pilar-pilar taqwa
Takwa adalah nilai atau akumulasi dari nilai-nilai islam. Takwa dari segi bahasa, perkataan takwa menurut pakar al-ishfahani ,berakar dari kata waka, yaki, al-wiqayah, secara harfiah bermakna memelihara sesuatu dari apa yang membahayakan.takwa diberi arti sikap hati-hati dari berbagai kemungkinan buruk yang dapat menimpa seseorang. Makna inilah yang pernah disampaikan oleh Khalifah umar bin Khathab.
Selain makna hati-hati ,takwa
juga berarti takut,yitu takut kepada Allah kepada ancaman dan siksa-Nya. Makna
dari sikap hati-hati dan takut keduanya tentu berdekatan dan memiliki
keterkaitan.
Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari
enam puluh Sembilan kali , perintah takwa kepada Allah Swt. Takwa menurut ,Syaikh Muhammad Abduh, seperti ditulis Rassyid Ridha dalam tafsir
al-manar, takut kepada Allah bermakna takut kepada azab dan siksa-Nya. Dari
makna ini ,Abduh mendefinisikan orang takwa sebagai orang yang menjaga dan
memelihara dirinya dari azab dan siksa
Allah. Senada dengan Abduh ,Muhammad Ali
al-Shabuni mandefinisikan orang takwa sebagai orang yang takut kepada murka
Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya dan
mencegah siksa-Nya dengan tunduk dan patuh kepada-Nya .
Selanjutnya, Abduh
membagi azab dan siksa menjadi dua macam, yaitu siksa dunia dan siksa akhirat
.siksa dunia timbul karena melawan sunnatullah atau hukum-hukum alam dan hukum-hukum
kemasyarakatan (mukhalafah sunani fi nizhami khalqih), sedang siksa dan azab
akhirat terjadi karena melawan hukum-hukum syariat (mukhalafah dini Allah wa
sya’ih). Dalam pandangan Abduh, upah atau pahala mengikuti sunnatullah
diperoleh didunia, sedanngkan upah atau ganjaran mengikuti hukum-hukum agama
diperoleh secara sempurna diakhirat.
“barang
siapa menghendaki (sukses dalam) kehidupan sekarang(duniawi), maka kami
segerakan baginya didunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki
dan kami tentukan baginya neraka Jahannam ; iya akan memasukinya dalam keadaan
tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan
berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka
itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS Al-isra [17]:
18-19)
Orang takwa, seperti dikemukakan diatas, perlu
mengerti dan memahami sebab-sebab yang
akan mendatangkan siksa, agar ia dapat menghindarkan diri daripadanya. Hal ini,
bagi al-ishfahani, dapat diupayakan melalui sikap menjauhkan diri dari
dosa-dosa (hifzh al-nafs ‘amma yu’tsim) dengan cara meninggalkan apa yang
dilarang oleh Allah (al-mahzhurat). Bahkan dengan meninggalkan sebagian yang
diperbolehkan (al-mubahat) seperti perkara sytubhat lantaran khawatir jatuh
pada yang terlarang. Bagi abduh, siksa tuhan itu, terutama siksa diakhirat,
bias dicegah dan ditangkal dengan iman yang benar (bi al-iman al-shahih),
tauhid yang tulus (al-tauhid al-khalish), amal yang baik ( al-amal al-shalihah ),dan dengan menjauhi
segala yang bertentanagn dengan semua itu. Sementara bagi al-Shabuni, takut
kepda siksa tuhan yang menjadi inti dari takwa harus dilakukan dengan
melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, dan dengan
tunduk dan patuh kepada nya secara total. Panadangan ulama Islam pada umumnya
yang merumuskan takwa dengan ungkapan singkat, melaksanankan perintah- perintah
Allh dan menjauhi larangan- larangan- nya
( imtitsal awamir allah wa ijtinab nawahihi )
Dalam Al-Qur’an kata ‘al-mutaqun
(dalam keadaan marfu)menurut penyelidikan Muhammad Fuad’ ‘Abd al baqi diulang
sebanyak enam kali,sedangkan al-muttaqin (dalam keadaan manshub dan
majrur)diulang sebanyak empat puluh tiga kali. Menurut M.Quraish Shihab ada tiga ayat yang dapat mewakili ayat-ayat lain
dalam menggambarkan ciri-ciri orang-orang yang takwa sebagai berikut ini.
Pertama ,QS
Al-baqarah[2]ayat 1-5,dan dikemukakan sifat-sifat sebagai berikut .
a.
iman atau percaya kepada yang ghaib,
b.
Melaksanaakan shalat dengan baik dan sinambung,
c.
Menafkahkan sebagian rezeki dari mereka perolah,
d.
Percaya kepada Al-Qur’an
dan kitab-kitab suci sebelumnya.
Kedua, QS Al-Baqarah [2] ayat
177.dikemukakan sifat-sifat berikut.
a. Percaya kepada Allah ,hari
kemudian ,malaikat , kitab-kitab suci,serta para nabi.
b. Memberikan harta yang
dicintainya(secara tulus) kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin ,dan
lain-lain serta memerdekakan orang-orang yang terbelenggu (hamba sahaya).
c. Melaksanakan shalat dan menunaikan
zakat.
d. Menepati janji apabila
berjanji,
e. Sabar dan tahan uji dalam
kesempatan , penderitaan ,dan peperangan .
Ayat diatas dikarangan ulama tabsir dikenal dengan sebutan
“ayat al-birr” (ayat-ayat kebajikan). Ayat ini menurut semua ulama tabsir, diturunkan
berkaitan dengan perubahan atau pemindahan kiblat sholat dari Bait al-Maqdis ke
kabah (masjid al-Haram) dan sekaligus sebagai jawaban terhadap kritik dan
protes keras dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sholat itu bukanlah kebaikan
semata tetapi sesuatun yang bernilai instrumental. Kebajikan yang
bersungguh-sungguh adalah keimanan sejati yang melahirkan kesholehan pribadi
dan sosial.
Bahwasannya untuk mencapai kebajikan kita tidak boleh
berhenti dalam segi-segi lahiriyah dari agama. Bentuk formal lahiriyah dari
sebuah amalan, sehinggah tidak harus dipandang sebagai tujuan dalam dirinya
sendiri. Sementara tujuan lainnya terlupakan.
Hal ini penting kita ingat, karna setiap perilaku agama,
terutama yang bersifat seremonian, ritual berpotensi untuk dapat berbelokan
dari maknanya yang hakiki dan subtansi pada hal-hal yang justru nilainya hanya
bersifat instrumental. Tindakan-tindakan derma yang praktis yang mempunyai
nilai hamya jika dilakukan atas dasar cinta dan tulus karna Allah, dan bukan
karna motif-motif lain yang bersifat duniawi.
Ketiga, QSali imran [3]:
133-136. Dalam ayat ini kemukakan sifat-sifat sebagai berikut:
a. Menafkahkan harta, baik
dalam keadaan lapang maupun sempit.
b. Mampu menahan amarah,
memaafkan orang lain, dan berbuat baik(terhadap siapa yang pernah melukai
hatinya).
c. Sadar dan bertobat dari
dosa besar yang dilakukannya.
d. Tidak terus-menerus
melakukan dosa setelah mengetahui bahwa yang demikian adalah dosa.
Ayat-ayat lain yang semakna, kita dapat memahami apa yang
menjadi pilar-pilar utama takwa. Hemat saya,takwa sebagai akumulasi dari
nilai-nilai kebaikan berakar pada empat pilar sebagai berikut.
Pilar pertama, kesadaran ketuhanan
(religius consciousness). Pakar tafsir al-Razi, m Takwa adalah nilai atau akumulasi dari
nilai-nilai islam. Takwa dari segi bahasa, perkataan takwa menurut pakar
al-ishfahani ,berakar dari kata waka, yaki, al-wiqayah, secara harfiah bermakna
memelihara sesuatu dari apa yang membahayakan.takwa diberi arti sikap hati-hati
dari berbagai kemungkinan buruk yang dapat menimpa seseorang. Makna inilah yang
pernah disampaikan oleh Khalifah umar bin Khathab.
Selain makna hati-hati ,takwa
juga berarti takut,yitu takut kepada Allah kepada ancaman dan siksa-Nya. Makna
dari sikap hati-hati dan takut keduanya tentu berdekatan dan memiliki
keterkaitan.
Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari
enam puluh Sembilan kali , perintah takwa kepada Allah Swt. Takwa menurut ,Syaikh Muhammad Abduh, seperti ditulis Rassyid Ridha dalam tafsir
al-manar, takut kepada Allah bermakna takut kepada azab dan siksa-Nya. Dari
makna ini ,Abduh mendefinisikan orang takwa sebagai orang yang menjaga dan
memelihara dirinya dari azab dan siksa
Allah. Senada dengan Abduh ,Muhammad Ali
al-Shabuni mandefinisikan orang takwa sebagai orang yang takut kepada murka
Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya dan
mencegah siksa-Nya dengan tunduk dan patuh kepada-Nya .
Selanjutnya, Abduh
membagi azab dan siksa menjadi dua macam, yaitu siksa dunia dan siksa akhirat
.siksa dunia timbul karena melawan sunnatullah atau hukum-hukum alam dan
hukum-hukum kemasyarakatan (mukhalafah sunani fi nizhami khalqih), sedang siksa
dan azab akhirat terjadi karena melawan hukum-hukum syariat (mukhalafah dini
Allah wa sya’ih). Dalam pandangan Abduh, upah atau pahala mengikuti sunnatullah
diperoleh didunia, sedanngkan upah atau ganjaran mengikuti hukum-hukum agama
diperoleh secara sempurna diakhirat.
“barang siapa
menghendaki (sukses dalam) kehidupan sekarang(duniawi), maka kami segerakan
baginya didunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan
kami tentukan baginya neraka Jahannam ; iya akan memasukinya dalam keadaan
tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan
berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka
itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS Al-isra [17]:
18-19)
Orang takwa, seperti dikemukakan diatas, perlu
mengerti dan memahami sebab-sebab yang
akan mendatangkan siksa, agar ia dapat menghindarkan diri daripadanya. Hal ini,
bagi al-ishfahani, dapat diupayakan melalui sikap menjauhkan diri dari
dosa-dosa (hifzh al-nafs ‘amma yu’tsim) dengan cara meninggalkan apa yang
dilarang oleh Allah (al-mahzhurat). Bahkan dengan meninggalkan sebagian yang
diperbolehkan (al-mubahat) seperti perkara sytubhat lantaran khawatir jatuh
pada yang terlarang. Bagi abduh, siksa tuhan itu, terutama siksa diakhirat,
bias dicegah dan ditangkal dengan iman yang benar (bi al-iman al-shahih),
tauhid yang tulus (al-tauhid al-khalish), amal yang baik ( al-amal al-shalihah ),dan dengan menjauhi
segala yang bertentanagn dengan semua itu. Sementara bagi al-Shabuni, takut
kepda siksa tuhan yang menjadi inti dari takwa harus dilakukan dengan
melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, dan dengan
tunduk dan patuh kepada nya secara total. Panadangan ulama Islam pada umumnya
yang merumuskan takwa dengan ungkapan singkat, melaksanankan perintah- perintah
Allh dan menjauhi larangan- larangan- nya
( imtitsal awamir allah wa ijtinab nawahihi )
Dalam Al-Qur’an kata ‘al-mutaqun
(dalam keadaan marfu)menurut penyelidikan Muhammad Fuad’ ‘Abd al baqi diulang
sebanyak enam kali,sedangkan al-muttaqin (dalam keadaan manshub dan
majrur)diulang sebanyak empat puluh tiga kali. Menurut M.Quraish Shihab ada tiga ayat yang dapat mewakili ayat-ayat lain
dalam menggambarkan ciri-ciri orang-orang yang takwa sebagai berikut ini.
Pertama ,QS
Al-baqarah[2]ayat 1-5,dan dikemukakan sifat-sifat sebagai berikut .
e.
iman atau percaya kepada yang ghaib,
f.
Melaksanaakan shalat dengan baik dan sinambung,
g.
Menafkahkan sebagian rezeki dari mereka perolah,
h.
Percaya kepada Al-Qur’an
dan kitab-kitab suci sebelumnya.
Kedua, QS Al-Baqarah [2] ayat
177.dikemukakan sifat-sifat berikut.
f. Percaya kepada Allah ,hari
kemudian ,malaikat , kitab-kitab suci,serta para nabi.
g. Memberikan harta yang
dicintainya(secara tulus) kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin ,dan
lain-lain serta memerdekakan orang-orang yang terbelenggu (hamba sahaya).
h. Melaksanakan shalat dan
menunaikan zakat.
i.
Menepati janji apabila berjanji,
j. Sabar dan tahan uji dalam
kesempatan , penderitaan ,dan peperangan .
Ayat diatas dikarangan ulama tabsir dikenal dengan sebutan
“ayat al-birr” (ayat-ayat kebajikan). Ayat ini menurut semua ulama tabsir,
diturunkan berkaitan dengan perubahan atau pemindahan kiblat sholat dari Bait
al-Maqdis ke kabah (masjid al-Haram) dan sekaligus sebagai jawaban terhadap
kritik dan protes keras dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sholat itu
bukanlah kebaikan semata tetapi sesuatun yang bernilai instrumental. Kebajikan
yang bersungguh-sungguh adalah keimanan sejati yang melahirkan kesholehan
pribadi dan sosial.
Bahwasannya untuk mencapai kebajikan kita tidak boleh
berhenti dalam segi-segi lahiriyah dari agama. Bentuk formal lahiriyah dari
sebuah amalan, sehinggah tidak harus dipandang sebagai tujuan dalam dirinya
sendiri. Sementara tujuan lainnya terlupakan.
Hal ini penting kita ingat, karna setiap perilaku agama,
terutama yang bersifat seremonian, ritual berpotensi untuk dapat berbelokan
dari maknanya yang hakiki dan subtansi pada hal-hal yang justru nilainya hanya
bersifat instrumental. Tindakan-tindakan derma yang praktis yang mempunyai
nilai hamya jika dilakukan atas dasar cinta dan tulus karna Allah, dan bukan
karna motif-motif lain yang bersifat duniawi.
Ketiga, QSali imran [3]:
133-136. Dalam ayat ini kemukakan sifat-sifat sebagai berikut:
e. Menafkahkan harta, baik
dalam keadaan lapang maupun sempit.
f. Mampu menahan amarah,
memaafkan orang lain, dan berbuat baik(terhadap siapa yang pernah melukai
hatinya).
g. Sadar dan bertobat dari
dosa besar yang dilakukannya.
h. Tidak terus-menerus
melakukan dosa setelah mengetahui bahwa yang demikian adalah dosa.
Ayat-ayat lain yang semakna, kita dapat memahami apa yang
menjadi pilar-pilar utama takwa. Hemat saya,takwa sebagai akumulasi dari
nilai-nilai kebaikan berakar pada empat pilar sebagai berikut.
Pilar pertama, kesadaran ketuhanan
(religius consciousness). Pakar tafsir al-Razi, menyebut kesadaran ketuhanan
ini sebagai cahaya iman dan makrifah”(Nur al-iman wa al-ma’rifah) dikehendaki
dengan kesadaran ketuhan disini ialah kesadaran pada seseorang bahwa Allah Swt.
Sehingga yang bersangkutan takut dan malu berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya
dengan demikian, kesadaran ketuhanan dapat Istilah,
Nurcholish madjid menyebut kesadaran ketuhanan itu sebagai rabbaniyyah, yaitu
semangat yang sungguh-sungguh untuk mengenal Allah dan menaati-Nya. QS
Ali-imran [3]:
dipandang sebagai pangkal kebaikan dan pangkal moralitas.
Jadi, kesadaran ketuhanan itu pada dasarnya adalah pangkal atau pilar takwa
yang pertama dan utama.
Kesadaran ketuhanan ini sebagai cahaya iman
dan makrifah”(Nur al-iman wa al-ma’rifah) dikehendaki dengan kesadaran ketuhan
disini ialah kesadaran pada seseorang bahwa Allah Swt. Sehingga yang
bersangkutan takut dan malu berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya dengan
demikian, kesadaran ketuhanan dapat Istilah,
Nurcholish madjid menyebut kesadaran ketuhanan itu sebagai rabbaniyyah, yaitu
semangat yang sungguh-sungguh untuk mengenal Allah dan menaati-Nya. QS
Ali-imran [3]:79.Dalam ternimonologi sufistik,kesadaran ketuhanan semacam itu
dinamai ‘’ muraqabah’’ secara bahasa berarti penglihatan atau pengawasan.
‘’muraqabah’’ bermakna kesadaran untuk selalu
mengingat Allah dan menyadari
pengawasan-Nya .muraqabah merupakan pangkal kebaikan ddan keluhuran budi
pekerti .muraqabah menjadi penting ,mendorong tiga kebaikan ,yaitu sikap intropeksi
dan wawas diri ( muhasabat al-nafs), amal dan perbuatan baik (shalih al-amal),
Pilar kedua ,semngat
ibadah dan ketaatan yang tinggi kepada Allah Swt .( nur al-tha’ah wa
al-ubudiyyah).pilar kedua merupakan logis dari pilar pertama.kepatuhan menyangkut
dua aspek sekaligus,yaitu aspek lahiriah seperti kepatuhan hukum-hukum Allah (QS.Al-Ahzab [33]: 36 )dan aspek bathin
seperti kesucian niat dan sikap yang tulus dalam beragama ( Qs.Al-Bayyinah
[98]:5).orang-orang yang takwa tidak pernah mencari alternative lain jika Allah
dan Rasul-Nya telah menetapkan hukum-hukum untuk mereka .
Ibadah pada hakikatnya adalah fitrah
bagi manusia ,yakni tuntutan naluri dan kecendrungan dasarnya yang suci .
seorang tidak cukup beriman dan beramal shaleh tanpa ibadah karena ibadah
merupakan prantara antara iman dan amal shaleh yang berulang kali disebut dalam
Al-Qur’an .
Filosof seperti Aristoteles dan Albert Enstein mengakui
adanya Tuhan(theitik) dan keharusan berbuat baik kepada sesame manusia .pandangan
semacam ini di tolak oleh Nurcholish karena beberapa alasan .pertama;
tanpa ibadah iman akan mmudah rusak dan terkoyak . ibadah adalah institusi yang
menjaga dan memelihara eksitensi iman .oleh karena itu tidak ada agama yang
tanpa mengajarkan ibadah tertentu.kedua ; berbeda dengan sains dan
teknologi yang bergerak hanya pada tataran empiric dan rasional,agama tekait
dengan hal-hal suprarasional. Agama membutuhkan tindakan atau perbuatan devotional, yaitu pengabdian penyebahan kepada Tuhan Ketiga; ibadah mneimbulkan
pengalaman-pengalaman rohani yang akan menumbuhkan keluhuran budi pekrti dan
kesalehan sosial.
Pilar
ketiga, semangat
kemanusiaan dan kesalehan sosial . jika pilar pertama dan kedua memperlihatkan
semangat ketuhanan(hablun min Allah) .pilar ketiga ini memperlihatkan semangat
kemanusiaan (hablun min Allah) agam diturunkan bukan untuk Allah melainkan
untuk manusia . manusia harus beragama dan melaksanakan perintah-perintah agama
,untuk kebaikan dan kemaslahatan anusia itu sendiri di dalam kehidupan duni dan
akhirat . keimanan kepada Allah merupakn funsional dalam kehidupan apabila ia
melahirkan kebaikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar